8

4 0 0
                                    

Bertemu Mba Tari dan anak-anaknya cukup membuatku bahagia.keharmonisan rumah tangga mereka membuatku terinspirasi,bahwa semua bisa di atur dan di diskusikan lewat rasa kepercayaan satu sama lain.

Sejauh ini,aku belum pernah mendengar desas-desus soal kemelut rumah tangga mereka.memang, tidak ada perjalanan rumah tangga itu berjalan dengan mulus.pasti ada-ada aja masalah,dan itu wajar.

Kata Mba Tari,selagi bisa di selesaikan dengan baik, jangan selalu mengambil keputusan dalam keadaan emosi.

Dan aku,tertampar keras dengan pendapat itu.

"Mba dengar,mantan suamimu belum nikah"

Kalau di ingat-ingat lagi,banyak luka yang ku balut hingga kini lewat kisah itu.mungkin karna aku yang masih labil,dan mantan suamiku yang masih ingin menikmati masa mudanya.

Ku tanggapi ujaran Mba Tari dengan senyum kecil, sambil melihat Mawar dan Aska bermain puzzel.

"mungkin masih pengen sendiri Mba"

"dia udah jadi kepala HRD sekarang"

Baguslah.

Aku tau maksud Mba Tari memasukan nama mantan suamiku ke dalam isi obrolan kami,karna memang mereka pengen aku menikah lagi.

Tapi,bukan dalam artian kembali dengan mantan suami.sekali lagi,semua karna statusku.

Sama halnya dengan Tante Hilda,wanita itu akan menyinggung kesendirianku agar terhindar dari fitnah.

Berbeda dengan Mas Wisnu,dia tidak pernah ikut campur selagi aku masih nyaman menyandang status janda.kecuali,soal pekerjaan.Mas Wisnu akan sigap menanggapiku dan pasti selalu dengan solusi 'kerja sama Mas aja'.

"kalau sama aku,Febi gak cuma jadi kepala HRD, langsung jadi sekretaris boleh"

Dengar kan ?

"terus,kenapa nggak di coba dulu ? di kantor Mas Wisnu banyak loh yang mirip oppa-oppa Korea"

Mba Tari lagi-lagi menggodaku.karna dia tau aku penikmat drakor.

Tapi maaf,udah ada tuh yang membuat hatiku tergoda ! Haha.

"mau kita jadiin bospun,mana mau dia yank.orang hatinya berat banget ninggalin si doi !"

Dan,tatapan menelisik dari Mba Tari membuat semburat merah di pipiku.

"kalau emang udah ada,langsunglah kenalin
ke Om-mu"

Suara Tante Hilda dari arah belakang mengagetkanku.dia membawa nampan yang berisikan pisang goreng dan lima gelas teh,buat pelengkap obrolan malam kami.

"Mba Ulan gak jadi dateng ?"

Aku sengaja mengalihkan topik,rasanya masih terlalu absurd bagiku membahas yang lebih serius.

Kalian sudah tau,apa maksudku.

Bukan sengaja lari,tapi karna aku tidak mau memaksakan sesuatu yang sudah aku tau endingnya bagaimana.

"tadinya mau,tapi acara pengajian di tetangga dia nggak bisa ninggalin.waktu jemput Mawar dan Aska Tante sempetin mampir ke rumahnya.dia titip salam buat kamu"

Aku mengangguk dan mengerti.

"besok Mbamu kesini kok.sekalian ngajak Kirana juga"

Mendengar itu,aku mengangguk sambil melihat Om Ahmad yang selalu betah dengan kaca matanya yang memangku buku.

"Tante Febi,besok jadi kan Aska di beliin ice cream ?"

Aku turun dari sofa,berpindah duduk di tikar bergabung bersama Mawar dan Aska.

"kita tunggu Kirana dulu,biar bareng-bareng belinya"

Keduanya mengangguk berbinar.

Ku bantu Aska menyelesaikan puzzelnya,alih-alih menghindari berbagai pertanyaan dari Tante Hilda dan Mba Tari.

"cincin Tante Febi baru ?"

Dan aku,terperangkap dalam jerat yang ku rakit sendiri.

Feelingku,Mba Tari dan Tante Hilda menajamkan kuping sedari tadi.

Kejelianku,masih terkalahkan oleh anak polos yang menunggu jawabanku.

Mba Tari,cukup menurunkan otak cerdasnya kepada Mawar.juga,Mas Wisnu menurunkan sifat kejailannya yang membuatku kalang kabut.

"O-ini-..."

"kamu udah di ikat ?"

Suara Tante Hilda melengking,tepat bersamaan dengan jemariku yang di raihnya.aku tidak menyangka,kecepatan Tante Hilda mengalahkan kedipan mataku.

Dan...

Kekehan Mas Wisnu juga Om Ahmad membuatku sulit menelan ludah.

Memeluk BayangmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang