29

6 0 0
                                    

Jika yang kamu pilih bukan aku,aku berdoa.agar setiap kamu menatap dia,ada wajahku dimatamu...

Naasnya,aku membenarkan pesan dari Arion.

Anggap saja,ini hukuman yang setimpal untukku.

Ku abaikan pesan pilu itu,dan memilih mengalihkan isi pikiran ke layar pc yang menampilkan deretan sub draft yang harus ku selesaikan sebelum jam lima sore.

Masih ada sisa-sisa sembab di bagian mata menangisi nasib yang semalam.

Tiga menit lagi menuju jam empat sore,artinya sekitar satu jam lagi aku harus mengejar waktu yang sudah di tentukan atasanku.

Saat makan siang tadi,Mba Wiwik sempat menawarkan diri ingin membantuku.ku tolak bukan karna aku merasa sudah ahli dan mampu,tapi ini perintah Bos.aku sendiri yang harus menyelesaikannya meski keringat lelah sudah bercucuran.

Nasib sebagai kacung,di perintahkan merangkakpun akan ku lakukan asal itu caranya fer.tapi sesuatu yang tanpa alasan,bukankah aku punya hak untuk membantah ?

"Feb,ke ruangan Bos sekarang !"

Mataku memindai layar pc,ke arah Purti yang buru-buru duduk.tangan kanannya menekan power layar pc nya,dan tangan kirinya masih menggenggam cup expresso latte.

"gue belum clear"

Alasanku logis kan ?

"pause ! keadaan genting..."

Maksudnya ?

Keningku saling menarik,Putri terlihat panik. termasuk Mba Wiwik dan Lusi yang acuh pada kebingunganku.

Ku tatap mereka bergantian,semua serius menatap layar dengan bibir yang bergerak tanpa suara.apa cuma aku,yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi ?

"Put ?"

Dan,kenapa cuma aku yang di panggil ?

"Pak Surya tinggal nekan tombol enter,surat resign lo tercetak !"

Mataku berkedip beberapa kali,memaknai kalimat Putri.oke,aku berdiri dan keluar menuju ruangan si penguasa itu.

Ketika aku tiba di depan ruangan Pak Angkasa,ku lirik Risa yang juga serius dengan beberapa lembar kertas di tangannya.

Sang sekretaris tukang gosip itu,seperti bukan Risa yang aku kenal.komat-kamit bibirnya,juga getaran bola matanya,tak teralihkan sedikitpun.

Suasana kantor hari ini terasa agak berbeda auranya.tegang,dan mencekam.

Pintu tidak di tutup rapat,hanya terbuka beberapa inci dan aku bisa mendengar jelas obrolan yang sedang berlangsung di dalam.

"pihak Estate membatalkan meeting hari ini"

Itu suara Antoni,wakil Direktur.

Aku masih berdiri di sisi pintu,bukan sengaja menguping,tapi lebih menghargai dua manusia penting di dalam sana.

"kalau begitu,ambil arsip juga gajimu di bagian administrasi"

Allah !

Mataku membulat,mendengar dingin suara Pak Angkasa.Pak Antoni di pecat ?

Demi Tuhan,aku gemetar.

Baru kali ini,aku mendegar langsung ke angkuhan si penguasa A-Corp.

"saya terima keputusan Bapak.tapi izinkan saya menyelesaikan kendala ini dulu.setelah itu,saya siap angkat kaki dari perusahaan ini"

Tidak bisa ku bayangkan bagaimana perasaan Pak Antoni di dalam sana.seantero kantor sudah tau betul kinerja dan basic beliau.bekerja hampir dua belas tahun,tidak pernah gagal menangani segala macam proyek.

Lalu,aku masih penasaran apa sebab muasal permasalahan yang membuat atasan kami itu semurka ini.

"kamu bernego ?"

Ku beranikan diri mengintip sedikit dari celah konsen pintu,terlihat Pak Antoni meraup wajahnya.

"setidaknya setelah saya resign,sudah tak ada lagi hutang tenaga saya Pak"

Suara Pak Antoni tegas,tapi tetap saja ada nada kekalutan di sana.

"perlu saya serahkan lagi sisa bukti kepada pihak polisi untuk menambah hukuman Ayahmu ?"

Aku meneguk ludah.

Kasus korupsi yang di lakukan Ayah Pak Antoni kembali di ungkit.dari desas-desus yang aku dengar lewat Risa,Ayah Pak Antoni menggelapkan uang perusahaan A-Corp tidaklah sedikit jumlahnya.

Tiga milyar,dan saat itu Pak Angkasa jatuh bangun memperjuangkan ribuan perut karyawannya agar tidak melarat.ulah Ayah Pak Antoni di ganti rugi oleh putranya dengan mengabdi selama sepuluh tahun dan sisanya setelah itu baru bisa Pak Antoni menikmati gajinya.

Memang,A-Corp di bawah pimpinan Pak Angkasa memiliki gaji yang seimbang.bahkan menurutku,jauh lebih besar di banding perusahaan lain.

Lalu,kebijakan seperti apa lagi yang musti atasan kami berikan setelah dia di tipu mentah-mentah oleh sahabatnya sendiri ?

Tetes darah dan keringat di pertaruhkannya.melanjutkan kemajuan perusahaan agar bisa berkembang pesat seperti sekarang ini,adalah satu acungan jempol dari kami.

Hanya saja...

"tutup pintu setelah keluar"

Aku terkesiap lagi.itu sebuah pengusiran.

Namun...

"namanya Hasan,sudah lima tahun bekerja di sini.apa tidak ada kelonggaran ?"

Hasan ?

Dadaku seperti di palu-palu.Hasan adalah orang yang memberikanku tanggung jawab soal data rancangan sketsa bulan lalu.

Tapi,hingga menit sebelum aku di beritahu Putri bahwa Pak Angkasa memanggilku ke ruangannya,Hasan tidak ada info untuk pengoreksian kalau ada sesuatu yang salah.

Pria yang baru saja memecat karyawannya itu mengalihkan tatapan dari lembaran kertas,ke arah Pak Antoni.

"kamu mau menyusulnya ?"

"saya cuma memberitahu.harusnya anda cek dulu alasannya.jangan selalu mengambil keputusan sekejam Fir'aun !"

Intonasi Pak Antoni berubah menekan,dan aku di serang panas dingin.jangan bilang,masalah ini berasal dari hasil pekerjaanku.

Tuhan...

"kamu mengajariku ?"

"saya mengingatkan Sa.bukan mengatur"

Pak Antoni menyanggah masih dengan nada kesal.bukan baru kali ini sahabat Pak Antoni itu memecat karyawan tanpa mengecek detail masalah yang membuat karyawan melakukan kesalahan.

"aku udah bayar keringat mereka,apa harus aku juga yang turun tangan nyari biangnya ?"

Pak Antoni meraup kembali wajahnya.

"Sa,kamu bisa minta aku atau kepala Direksi"

"KELUAR !"

Memeluk BayangmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang