Tak cukup sampai di sini keterkejutanku,pria yang aku panggil-panggil lewat hati yang remuk redam,muncul dari balik pintu.
Pintu yang di masuki Mas Wisnu tadi.
Arion...
Dengan setelan rapih yang jarang di gunakannya,berdiri mematung di hadapan kami.
Jangan bilang...
Pak Angkasa adalah...
"duduk sayang"
Ucapan Ibu Pak Angkasa,mempersilahkannya duduk.
Lidahku kelu,di serang jiwa dan logika yang saling menebas kewarasanku.
"kenalin,ini anak ke dua Ibu.namanya Arion..."
Hatiku,pecah berkeping-keping.berserakan...tak berbentuk.
Hari ini aku ke Bandung...
Isi pesan dari Arion,teringiang-ngiang di kepalaku.ternyata...
Ya Roob...
Juga,obrolan Pak Angkasa dengan seseorang lewat telepon kemarin saat aku,mencari ponsel di kantor.
Jangan lupa besok.Ibu pengen lo dateng,sekalian balik bareng lo...
Arion,sudah tau ?
Atau...
"Ar ?"
"iyah Bu..."
Nada suaranya,lirih.seperti menahan sesuatu yang menjepitnya.tapi,tidak sedikitpun memindai matanya dariku.
Dia masih berdiri di sana,menatapku dengan wajah tanpa ekspresinya.
Aku,ingin menangis.juga,meraung-raung.
Rupanya,seorang Ibu yang menolakku dulu dialah Ibu Pak Angkasa.wanita berwibawa itu,sedang duduk berhadapan denganku.
Untungnya,beliau saat itu tidak ingin bertemu denganku.sehingga tidak mengenaliku.
Lalu,setelah di tolak,aku malah di minta menjadi pendamping putra pertamanya.
Sekali lagi,karena status.
Miris memang.
Jangankan berjabat dengannya,mengangkat kepalapun aku tidak berani.
Katakan aku pengecut,tapi ini benar-benar memporak-porandakan kewarasanku.
Rasanya,aku seperti akan gila.
Arion,pria yang selalu ku rindukan sekarang sedang menyaksikan sesuatu yang mencabik-cabik perasaan kami berdua.
Aku tau,dia pasti marah.bukan kepada Ibu dan kakanya,tapi kepadaku.terlebih lagi,aku merasa seperti tertangkap basah karna membuat kesalahan.
Kesalahan yang mematahkan hatinya,juga menghianati niatnya menuju kepadaku.
Ar...
Maaf...
"macet banget yah nak ?"
Karna putranya ke duanya terlambat hampir satu jam.dan,sudah melewatkan inti pokok yang sudah selesai di bahas.
"hem..."
Tuhan...
"Febi,di makan yah nak ? semoga suka dengan masakan Ibu"
Meja makan yang di penuhi beberapa menu kesukaanku,hasil buatan Ibu mereka.aku tidak tahu dari mana beliau tahu makanan apa saja yang menjadi favorietku,yang pasti semuanya ku lihat menjadi hambar dan membuat seleraku hancur.
"saya yang beritahu Ibu makanan kesukaanmu"
Pak Angkasa,aku mohon...
Air mataku,rasanya akan tumpah.
Tapi,susah payah ku tahan.Ibu mereka bisa berprasangka yang iya-iya kepadaku.
"jangan-jangan kamu salah info ke Ibu.Febi sepertinya kurang suka"
"bu-bukan Bu,bukan itu.hanya,eum...saya butuh toilet..."
Ku lirik Mas Wisnu,yang sejak di persilahkan menuju meja makan tadi menjadi lebih banyak diam.
Firma Hukum,bukan orang-orang bodoh bekerja di sana.apa lagi,di kepalai Mas Wisnu.
Aku akan menjawab jujur jika nanti,saat pulang Mas Wisnu bertanya.tapi,saat ini aku butuh kamar mandi untuk meredakan kesesakkan yang amat sangat mengiksa dadaku.
"kamu baik-baik saja nak ?"
Lembut suara Ibu mereka,aku suka.
"mari saya antar"
Itu bukan suara Ibunya lagi,atau Pak Angkasa.itu,suara Arion.
Arion berjalan lebih dulu di depanku,ku ikuti dengan hati yang tak menentu.
Langkah demi langkah ku seret dengan paksa,mengikutinya ke arah toilet yang bersekat dengan dinding ruang makan.
Tiba-tiba...
Dia berhenti.
Aku pun ikut berhenti,karna aku tau,akan banyak pertanyaan yang akan di lontarkan kepadaku.
"rupanya kamu orangnya Bi..."
Tanpa berbalik menghadapku,bahunya turun setelah berucap kalimat yang menyakitkan.
Nafasnya terhela,juga deruannya terdengar berat.
"bahkan aku gak tau...gimana cara mengkaji situasi ini..."
Aku mohon Ar...
Dia pun berbalik.hatiku hancur,saat melihat sorotnya yang penuh keluhan.kelopaknya di genani air,dan aku ingin memeluknya.
Tapi,ku tahan.
Rinduku,tak sebesar rindunya.
Pilu hatiku,tak di ketahui Arion.
Aku,juga ingin menangis.
Ku buru oksigen sebanyak-banyaknya,mencoba melonggarkan rongga dada yang semakin menjepit.namun,terasa sia-sia.
"kenapa harus bang Angkasa Bi ? kenapa ?"
Aku pun tak tahu Ar...
Tapi,kalimat itu hanya bisa tertahan di tenggorakan.karna,untuk menarik nafas saja aku kesusahan.
Arion tidak mengerti,bagaimana aku menata jiwaku yang remuk.
"keputusan ada di tanganmu Bi.tapi aku yakin,kamu tau apa yang musti kamu lakuin"
"Ar-..."
"jangan katakan apapun"
Kalimatnya menekan,juga tatapannya berubah nyalang.menikam tepat di jantungku.
"karna rasanya...aku ingin gila membawamu kabur dari sini"
Ucapannya dingin.
Angkasa Anugrah,kakak dari kekasihku Arion Anugrah...yang selama ini sedikitpun tidak terlintas di pikiranku.
Bahunya menubruk sebelah bahuku,berjalan meninggalkanku.
Aku ambruk di dinginnya lantai marmer,dengan isak tangis yang menyiksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memeluk Bayangmu
RomanceAsal kamu tau,hari itu bagi aku bukan cuma takdir,tapi musibah dalam hidupku... Arion Anugrah
