(Tokyo, Jepang)
"Aku sudah memikirkannya." Ucap Irene.
"Memikirkan apa?" Balas Jeongyeon.
"Tentang lamaranmu untuk menikah denganku. Aku menyadari kata-katamu kalau bertunangan lama-lama itu tidak baik, iyakan? Aku takut kalau sesuatu akan menghalangi jalan kita. Jadi aku setuju untuk menikahimu sesegera mungkin." Lanjut Irene lagi.
Jeongyeon yang mendengarkan sedikit kaget, namun tidak dengan Seulgi yang wajahnya lebih kaget dari Jeongyeon. Ia ingin mengungkap rahasia kehamilan Irene dan mengatakan yang sebenarnya kepada Jeongyeon saat itu juga namun ia teringat akan ancaman Irene untuk menggugurkan kandungannya. Seulgi tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan berperang dengan perasaannya sendiri.
"Hmm? Kamu serius? Kamu benar-benar sudah siap untuk menjadi istriku? Bagaimana dengan karirmu? Kamu tahukan bahwa setelah kita menikah, aku ingin segera punya anak. Apa kamu tidak takut badanmu gemuk karena hamil anakku?"
"Iya, aku serius, honey. Aku benar-benar sudah siap untuk menjadi istrimu. Aku juga tidak sabar untuk memiliki anak bersamamu. Aku sudah tidak peduli dengan semua itu. Gemuk saat hamil hanya untuk sembilan bulan sepuluh hari, dan setelah melahirkan aku bisa olahraga untuk langsing lagi. Aku rela melakukan apapun agar kamu tidak meninggalkanku, honey."
Entah apa yang Jeongyeon rasakan saat ini. Dia tidak tahu harus merasakan apa. Dia seharusnya merasa senang ketika Irene mengatakan itu. Tapi entah kenapa, jauh di lubuk hatinya paling dalam, dia tidak yakin dengan jawaban Irene.
Bukankah seharusnya dia merasa bahagia? Bukankah itu yang dia inginkan dari Irene selama ini? Tapi mengapa semuanya menjadi pertanyaan seperti ini? Itulah yang ada di benak Jeongyeon.
"Kenapa, honey? Sepertinya kamu tidak senang dengan semua ini? Apa kamu baik baik saja?"
"Ya.. Aku baik-baik saja. Aku senang dengan jawaban yang kamu berikan padaku. Karena aku tahu penantianku tidak sia-sia untuk menikah denganmu. Kita harus memberitahu ini kepada orang tua kita setelah kita pulang ke Korea nanti."
"Ne, aku setuju. Aku hanya menyerahkan semuanya padamu. Aku tidak sabar menunggu hari itu, honey. Hari ketika aku dan kamu menjadi pasangan suami istri yang sah."
"Iya, baby. Aku juga.."
.
.
.
.
(Miss Im Lovella Bridal Boutique, Seoul, Korea Selatan)


KAMU SEDANG MEMBACA
When The Rain Falls
Fanfiction"Sejujurnya kau bukan yang pertama bagiku. Orang asing yang tiba-tiba datang menyelamatkan hidupku. Aku merasa berhutang budi atas semua kebaikanmu padaku dan tanpa kusadari aku telah jatuh cinta padamu. Pergilah.." - Mina Sharon Myoui. "Kamu juga b...
