Chapter Thirteen

108 15 4
                                        

(Incheon International Airport, Korea Selatan)

Jeongyeon terlihat sedang mengangkat dua buah koper lalu menaruhnya di atas troli bagasi. Tidak lupa juga ransel yang digantung di bahunya. Setelah memastikan semuanya sudah diambil, dia langsung menuju lobby. Di sana Jihyo sudah begitu lama menunggu hingga membuat pria itu mulai merasa bosan.

"Maaf, pak supir. Karena harus menunggu begitu lama." Canda Jeongyeon.

Begitulah setiap kali mereka bertemu, keduanya pasti akan saling mengerjai.

"Yah! Neon pabo-yah?! Apa kau tahu ini sudah jam berapa sekarang? Aku sudah menunggu lama sejak tadi pagi."

"Bukankah aku sudah mengirimimu pesan jika penerbanganku tertunda dan penerbangan lepas landas dua jam setelah itu? Kau pasti belum membaca pesanku, iyakan? Akui saja."

"Kapan kau mengirim pesan untuk itu? Aku tidak mendapatkannya."

"Makanya telepon itu jangan di silent terus. Orang mahu telepon juga susah."

"Itu juga salahmu karena terlambat. Jadi Nayeon terus menerus meneleponku menanyakan dimana keberadaanmu."

"Yah, bukan salahku tapi salah pihak manajemen penerbangan itu. Bisa jadi karena faktor cuaca atau semacamnya."

Jihyo dan Jeongyeon masih terus bertengkar tanpa berpikir kalau ada seseorang bersama mereka. Orang itu tidak lain adalah Mina.

"Jeongyeon-ah?" Panggil Mina.

Pertengkaran mereka pun terhenti saat mendengar suara Mina yang tiba-tiba menyela. Jihyo melihat di belakang Jeongyeon. Dia juga tidak menyadari kalau ada orang lain bersama mereka karena Mina berdiri tepat di belakang Jeongyeon.

"Hei, Jeongyeon-ah? Siapa gadis di belakangmu itu? Dia bukan Irene, iyakan?" Bisik Jihyo.

"Oh, iya. Aku lupa memperkenalkan kalian berdua. Mina? Ini aku perkenalkan sepupuku yang sering aku bicarakan, Park Jihyo. Dan dia juga adalah majikanku." Bohong Jeongyeon.

"Mworago?!" Jihyo juga kebingungan saat Jeongyeon mengatakan itu.

Mina menatap pria di depannya. Wajahnya tidak terlihat seperti orang Korea karena mereka cenderung memiliki mata sipit dan sangat sulit untuk melihat orang Korea memiliki mata yang besar dan bulat.

'Sama seperti mata Chaeyoung yang besar dan bulat.' Pikir Mina.

Dia penasaran dengan reaksi Jihyo terhadap Jeongyeon. Dia tidak tahu mana yang harus dipercayai. Entah Jeongyeon mengatakan sesuatu yang berbau kebohongan atau memang reaksi Jihyo yang seperti itu.

"Iya.. Masa kau lupa, Park sajang-nim? Memang kita sepupu, tapi saat di kantor, kau adalah majikanku. Dan Jihyo, ini adalah temanku, namanya Mina Sharon Myoui."

"Annyeonghaseyo, Myoui Mina-imnida.." Sapa Mina sambil menundukkan kepalanya sedikit ke arah Jihyo.

"Ah, ne.. Annyeonghaseyo. Park Jihyo-imnida.." Balas Jihyo.

"Nah, sekarang kalian berdua sudah berkenalan, iyakan? Jadi ayo, kita pulang sekarang. Dimana mobilmu?"

.
.
.
.

Saat berada di dalam mobil, Jihyo melirik Mina yang duduk di belakang. Sesekali ia menatap Jeongyeon yang duduk di sebelahnya. Banyak persoalan yang bermain di benaknya. Siapa Mina? Bagaimana bisa Jeongyeon bertemu dengannya? Kenapa Mina bisa bersama Jeongyeon? Semua itu membuat Jihyo nyaris kehilangan fokus mengemudi.

When The Rain Falls Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang