Chapter Twenty Two

144 19 70
                                        

"Sayang.."

Tiba-tiba panggilan itu keluar dari mulut Chaeyoung begitu dia melihat ke arah Mina. Seluruh anggota keluarganya yang melihatnya menjadi penasaran dengan kata-kata yang didengarkan mereka.

Jeongyeon perlahan menatap ke arah Mina. Dia melihat airmata Mina mengalir di pipinya. Tetesan airmata yang tampak seperti berlian bersinar-sinar di mata coklat Mina yang kini membuat Jeongyeon mengerti maksudnya.

Tatapan kesedihan dan kekecewaan bercampur menjadi satu. Mina juga tampak tersiksa saat melihat ke arah Chaeyoung. Bagaimana itu bisa terjadi?

"S-sayang? A-apa maksud dari kata-katamu itu, Chaeng?" Kata demi kata yang coba Jeongyeon ucapkan.

Dia semakin penasaran dan dia harus mendapatkan jawabannya saat itu juga.

"Mina Sharon Myoui.. Dia adalah gadis yang kucintai, hyung. Aku sudah lama mencarinya tapi bagaimana dia bisa ada disini?"

Patah seribu hati Jeongyeon setelah mendengarkan kata-kata adiknya. Ternyata Mina adalah mantan kekasih dari adiknya sendiri. Mereka mencintai gadis yang sama selama ini.

"Lalu katakan sejujurnya padaku. Apakah kau ayah dari anak yang dikandung Mina sekarang?"

"Ne.. Bagaimana hyung bisa tahu?"

Gedebuk!

Chaeyoung tidak sempat berbuat apa-apa, satu pukulan tepat mengenai wajahnya. Jeongyeon terus menerus memukulnya begitu keras tanpa belas kasihan. Chaeyoung tidak mampu melawan. Ia yang tidak mengetahui apa yang terjadi menjadi bingung sejenak dengan apa yang terjadi.

Pertengkaran besar terjadi tepat di depan orangtua mereka dan Mina.

"Kenapa kau memperkosa Mina??!!! Apa kau tidak punya hati dan perasaan? Teganya kau meninggalkan dia dan membuang anakmu tanpa kau mahu bertanggungjawab!!"

"Hyung.. Aku tahu aku bersalah. Makanya aku mencarinya karena aku ingin meminta maaf padanya dan ingin bertanggungjawab ke atas anak yang kini dikandung Mina."

"Sudah terlambat bagimu untuk melakukan itu! Sebaiknya kau mati saja! Aku tidak punya adik sepertimu!"

"Jeongyeon! Berhenti.. Kamu bisa membunuh adikmu." Appa dan eommanya berusaha menyelesaikan pertengkaran besar mereka, namun tidak berhasil.

Jeongyeon sudah kesurupan, dia tidak menyadari apa yang dia lakukan. Kemarahannya tidak terkendali. Benar-benar menakutkan bagi siapapun yang melihatnya.

Chaeyoung kelelahan dan dia tidak bisa bergerak lagi dengan nafasnya yang terengah-engah. Saat Jeongyeon hendak memukulnya lagi, Mina datang memeluk Chaeyoung erat.

"Cukup! Kau bisa membunuhnya!" Teriak Mina.

Itu membuat Jeongyeon sadar akan tindakannya.

"Minari.."

Panggil Jeongyeon. Dia melihat Mina masih memeluk Chaeyoung erat sambil menangis.

"Kau sudah keterlaluan, Jeongyeon."

Hati Jeongyeon semakin terasa hancurnya mendengarkan kata-kata Mina. Begitu lama bagi Jeongyeon untuk mencerna apa yang terjadi.

"Sekarang aku sudah tahu jawabannya, Minari.. Meski Chaeyoung sudah mengecewakanmu tapi kamu masih mencintainya. Terima kasih sudah menyadarkanku. Selama ini akulah yang bersalah karena jatuh cinta padamu. Sekarang sesuai keinginanmu, kamu benar-benar akan kehilanganku selamanya."

When The Rain Falls Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang