"Tana!" Aulia datang mengagetkan Lantana yang sedang memfotokopi dokumen.
"Butuh bantuan? Tapi aku lanjutkan memfotokopi dokumen ini dulu ya." kata Lantana.
"Tidak. Aku cuma mau kasih undangan ini." kata Aulia dengan senyum mengembang sembari menyerahkan satu undangan yang terlihat mewah kepada Lantana.
"Undangan apa ini?" Tanya Lantana
"Undangan acara ulang tahun perusahaan pusat. Kita akan pergi ke kota besar!" Jawab Aulia bersemangat.
Lantana membuka undangan tersebut dan merenung sejenak. "Kenapa aku di undang? Aku kan hanya office girl. Untuk apa aku ke sana?"
"Pak Rendra tidak mau sama sopir baru, maunya kamu yang nyetir mobil ke Bandara. Nanti setelah sampai Bandara, perusahaan akan kirim mobil untuk kita jalan-jalan berkeliling dan ke tempat acara berlangsung. Jadi kamu nanti yang akan menyetir mobilnya. Kamu tahu, aku sejak dulu ingin sekali ke kota besar!" jelas Aulia dengan mata berbinar
Lantana tetap bergeming, pikirannya kalut. Jika ikut, pasti akan bertemu dengan Bian. Mengingat acara tersebut di selenggarakan di gedung tempat Bian Bekerja. Jika tidak ikut, ia akan dianggap menolak tugas yang sudah diberikan padanya. Selain itu, ia sangat ingin pergi ke kota itu untuk mengunjungi makam Ayahnya. Sudah bertahun-tahun ia tak pernah ke makam Ayahnya.
"Ayolah Tana, ikut ya? Undangannya hanya untuk 3 orang. Temani aku ya? Kalau kamu tidak ikut, nanti aku sendirian." pinta Aulia
" Baiklah, besok kita pergi!" kata Lantana akhirnya yang membuat Aulia senang.
**
"Wah, seperti ini yang kota metropolitan itu. Banyak sekali gedung-gedung bertingkat yang tinggi. PT Hansa Food yang menurutku gedung paling tinggi di desa, ternyata tidak ada apa-apanya di kota ini!" Kagum Aulia.
"Padat sekali ya? Tidak seperti desa yang masih banyak sawah." timpal Lantana di sebelah Aulia yang sedang menyetir mobil.
"Ah kalian ini jangan norak. Apa tidak pernah ke kota besar ini?" Kata Pak Rendra di kursi belakang menimpali perkataan mereka.
"Tidak sama sekali!" jawab Aulia sembari masih menikmati megahnya bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.
Lantana tersenyum kecil. Ia dulu hidup dan dibesarkan di kota ini. Kota yang menjadi kenangan tersendiri bagi Lantana.
Ia sekilas melihat klub malam megah yang dulu sering ia datangi untuk mengejar Bian. Betapa dulu waktunya hanya terbuang sia-sia, pikirnya.
Lantana terus berfokus untuk menyetir, sementara Aulia dan Pak Rendra sibuk berceloteh tentang indah dan megahnya kota ini. Sekarang bagi Lantana desa adalah tempat terindah, terutama ujung desa.
"Masih jam 4 sore pak. Sekarang kita mau kemana? Acaranya jam 7 malam. Apa kita kembali ke hotel?" Tanya Aulia pada Pak Rendra ketika mereka keluar dari Mall terbesar di kawasan itu.
"Ke hotel saja ya pak, kita mandi lalu siap-siap!" kata Lantana yang terlihat kelelahan mengikuti mereka jalan-jalan dan berbelanja di Mall yang megah tersebut.
"Bapak ingin mengajak kalian ke suatu tempat. Ayo jalan, kalian pasti suka!" sumringah di wajah pak Rendra mengembang, dengan semangat berjalan menuju mobil di parkiran.
"Ini tempat tujuan kita pak?" Tanya Lantana ragu-ragu memarkirkan mobilnya di depan sebuah gedung mewah, yang Lantana tahu itu adalah salon & butik terkenal di kawasan tersebut.
"Kenapa kita kesini pak? Sepertinya harga bajunya mahal-mahal. Saya sudah bawa baju sendiri, pak." ucap Aulia saat di depan gedung itu.
"Iya pak. Saya tak akan mampu membeli baju disini!" imbuh Lantana.
"Sudah, kalian tenang saja. Pilih sesuka hati kalian, karena Bapak punya ini! Ini adalah voucher hadiah dari perusahaan untuk kita. Kita bebas memilih baju, aksesoris dan riasan yang kita suka!" Kata Pak Rendra sambil memamerkan 3 voucher di tangannya.
"Benarkah?" Aulia menjerit keras dan merangkul erat Lantana karena senang.
"Ya, mungkin perusahaan tahu kita dari desa, supaya kita tidak terlihat memalukan saat datang ke acara perusahaan." kata Pak Rendra sambil tertawa terbahak-bahak lalu menyuruh mereka semua masuk ke dalam gedung.
"Tana, sini lihat! Ini bagus tidak?" Tanya Aulia pada Lantana sembari memamerkan baju uang dipakainya.
Lantana melihat baju dipakai Aulia, berwarna biru tua selutut dengan kombinasi brokat warna gelap yang cantik.
"Bagus!" jawab Lantana sambil memberi jempol pada Aulia.
"Sepatu yang cocok mana menurutmu?" Tanya Aulia
Lantana meneliti sepatu di depannya satu per satu, dan pilihannya jatuh pada sepatu berwarna emas.
"Sepatu ini saja, cantik. Nanti padukan dengan tas yang berwarna emas." kata Lantana sambil memberikan sepatu yang ia pilih pada Aulia.
Sedangkan Lantana sendiri memilih gaun panjang berwarna putih gading sederhana yang tidak menonjolkan apapun. Ia memilih riasan natural yang tipis dan membiarkan rambut pendeknya tergerai.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANTANA
Narrativa generaleAda yang berkata bahwa kehidupan itu seperti roda dan kita tidak tahu kapan roda itu akan berputar. Seperti kisah Lantana, wanita cantik yang dulunya hidup bak putri kerajaan. Dan tiba - tiba hidupnya berubah seperti yang tidak Ia bayangkan sebelumn...
