"Apa ini?"
Lantana bertanya pada Bima yang baru saja menyerahkan beberapa berkas padanya. Tapi tak ada jawaban dari Bima. Lantana lalu menoleh ke arah Bian yang duduk di sebelahnya seakan meminta jawaban.
"Baca saja isinya," kata Bian.
Lama sekali Lantana membaca dan membolak-balik isi kertas-kertas di tangannya.
"Ini bukan mimpi kan?" Lantana menoleh ke arah Bian seakan meminta penjelasan.
"Sekarang semua aset peninggalan Pak Wiguna sudah kembali atas nama Bu Lana, termasuk Wiguna Group." Jelas Bima.
Tak kuasa menahan haru, Lantana pun menangis bahagia. Bian mengulurkan tangannya untuk memeluk dan mengelus punggung Lantana.
"Semua telah kembali menjadi milikmu, Lana." kata Bian lalu mencium rambut Lantana.
"Terima kasih! Terima kasih, Bian." Ucap Lantana
"Untuk Wiguna Group, saat ini kita-"
"Untuk Wiguna Group serahkan saja pada Bian. Aku sungguh tak bisa mengelola sebuah perusahaan." Kata Lantana yang memotong perkataan Bima.
Bima melirik ke arah Bian, meminta sebuah jawaban.
"Wiguna Group tetap menjadi milikmu, Lana. Tapi aku akan membantumu untuk menjalankan perusahaan itu." Jelas Bian.
"Bagaimana dengan Pamanku?" Tanya Lantana.
"Justru Paman mu lah yang membuat Wiguna Group diambang kehancuran!" Jelas Bian.
"Benarkah?" Lantana bertanya pada Bima untuk memastikan.
Bagi Lantana, sepertinya tidak mungkin Sang Paman akan membuat Wiguna Group hancur. Karena Sang Paman selalu mengabdi dan ingin menguasai Wiguna Group. Sang Paman selalu mendedikasikan waktunya untuk Wiguna Group. Bahkan sewaktu Ayah Lantana masih hidup, sang paman pernah berkata bahwa ia ingin menjadi pewaris Wiguna Group.
"Itu benar, Bu Lana. Selama ini, Paman anda terlalu serakah dan gegabah dalam membuat keputusan. Memang Paman anda ingin menjadikan Wiguna Group semakin berkembang, tapi keserakahannya hanya membuat perusahaan diambang kehancuran dengan banyaknya hutang dan proyek-proyek yang tidak selesai pada saat jatuh tempo. Jadi Pak Bian memutuskan mengakuisisi Wiguna Group. Dan kini Wiguna Group akan sepenuhnya menjadi milik Bu Lana." Jelas Bima.
Sepertinya Bian membaca ekspresi Lantana yang terlihat sedih mendengar kabar Pamannya.
"Kamu tenang saja, Paman mu masih bekerja di Wiguna Group. Hanya saja sekarang ia tidak punya kekuasaan seperti dulu." Kata Bian sambil memainkan rambut Lantana yang sebahu.
Bima yang mengerti bahwa atasannya itu sedang ingin bermesraan dengan istrinya, memutuskan pamit dan meninggalkan rumah atasannya itu.
Bian mengecup lembut bibir istrinya,
"Bersiaplah, aku akan mengajakmu ke acara pertunangan rekan kerja ku." bisik Bian setelah mencium bibir Lantana.
Lantana mengangguk lalu pergi ke kamar untuk mempersiapkan dirinya.
**
Kini, Lantana sudah berada di rumah rumah rekan kerja suaminya. Lantana berjalan sambil mengandeng lengan Bian. Ini adalah pesta yang mewah, dan mayoritas berasal dari kalangan atas berkumpul di sini.
"Bian! Apa kabar? Sudah beberapa bulan ini aku tidak melihatmu ke klub malam. Datang lah ke sana, banyak gadis-gadis baru yang akan menyambut mu!" Kata seorang lelaki menyapa Bian.
"Apa dia sekretaris mu yang baru?" Tanya lelaki lain di sampingnya.
"Bukan. Dia istriku," Jawab Bian lalu meminta segelas minuman jeruk tanpa alkohol pada pelayan, kemudian ia berikan pada Lantana.
"Istri! Kamu menikah lagi?" Tanya lelaki itu kaget.
"Ya! Aku memutuskan rujuk dengan istriku." Jelas Bian.
"Rujuk? Jadi dia-"
"Dia istriku, Lana" kata Bian lalu meneguk minuman di tangannya.
"Lana? Lantana Amira Wiguna!" Kata lelaki yang tadi menyapa Bian, sementara temannya yang lain batuk-batuk karena tersedak saat minum.
"Lana? Kau sungguh berubah!"
"Ya! Tentu saja ini aku, Lex!" Kata Lantana yang sudah kenal bahwa itu adalah alex, pemilik klub malam yang selama ini sering didatangi Bian.
"Wow!"
Alex memperhatikan Lantana dari bawah ke atas. Penampilan yang sangat sederhana, hanya memakai gaun panjang tanpa lengan yang berwarna abu-abu tanpa menonjolkan lekuk tubuh. Dan memakai riasan natural sementara rambut yang sebahu di biarkan tergerai. Sungguh sangat berbeda dengan Lantana yang dulu.
"Kemana riasan tebal mu dan juga baju seksi mu, Lana? Apa Kau tak takut jika ada wanita lain menggoda suami mu?" Tanya Alex mengejek Lantana.
Lantana sangat mengenal Alex, karena Lantana dulu Lantana juga sering pergi ke klub malam milik alex untuk mengejar Bian. Tentu Alex sedikit banyak tahu hubungan antara Bian dan Lantana seperti apa.
"Ya, sekarang aku mengerti bahwa Bian lebih menyukai gadis sederhana, tanpa riasan tebal." Canda Lantana.
"Tak peduli kamu berdandan dan berpenampilan seperti apa, aku akan selalu mencintaimu." Kata Bian lalu mengecup bibir Lantana.
"Wow, Lana! Kau berhasil menghilangkan satu pelanggan setiaku!" Kata Alex yang membuat mereka semua tertawa.
"Tommi!" Sapa Lantana pada seorang lelaki yang Lantana kenal.
Lelaki yang disapa sepertinya terkejut melihat Lantana, kemudian lelaki itu melirik ke arah Bian yang berada di samping Lantana. Saat Lantana mendatanginya, lelaki itu malah pergi.
"Kenapa dia?" Tanya Lantana dalam hati.
"Ayo, kita temui pemilik acara" Ajak Bian sambil memeluk pinggang Lantana.
Bian kemudian mengajak Lantana menemui rekannya, pemilik rumah yang mengadakan pesta untuk merayakan pertunangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANTANA
Ficción GeneralAda yang berkata bahwa kehidupan itu seperti roda dan kita tidak tahu kapan roda itu akan berputar. Seperti kisah Lantana, wanita cantik yang dulunya hidup bak putri kerajaan. Dan tiba - tiba hidupnya berubah seperti yang tidak Ia bayangkan sebelumn...
