Sudah 5 hari sejak Lantana pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak bekerja lagi di PT Hansa Food. Lantana memutuskan untuk mencari pekerjaan, Ia tak mau tabungannya habis sebelum ia mendapat pekerjaan baru.
Mira mengajak Lantana untuk mencari pekerjaan di desa suaminya, tapi ditolak oleh Lantana. Sebab ia tak mau merepotkan sahabatnya yang sedang hamil itu. Lantana juga tak ingin sahabatnya khawatir. Lantana hanya memberi alasan pada Mira, karena sering bertemu dengan mantan suaminya, maka ia memutuskan keluar dari perusahaan itu.
Tiba-tiba ponsel Lantana berdering dan menampilkan nama dodi di sana.
"Ya dodi? Benarkah? Kapan aku bisa mulai bekerja? Hari ini! Oh baik lah! Aku akan segera berangkat!"
Lantana tak mengira bisa kembali bekerja di PT Alanda Makmur. Sehari yang lalu ia bertekad menemui Dodi, yang merupakan personalia di PT Alanda Makmur dan menanyakan apakah ada lowongan. Ternyata hari ini adalah hari pertamanya bekerja lagi. Ia tak masalah meskipun gajinya tidak sebesar di PT Hansa Food, asalkan ia tidak bertemu Bian lagi.
Lantana mengayuh sepedanya dengan cepat, tak peduli kalau ia hampir jatuh karena jalanan yang berbatu. Ia berusaha untuk sampai di PT Alanda Makmur secepat mungkin.
Sesampainya di PT Alanda Makmur, ia disambut oleh Dodi dan Pak Agus.
"Kamu yakin bekerja disini lagi? Nanti keluar lagi. Apalagi sekarang pesanan sedang ramai!" tanya Pak Agus terlihat serius.
"Iya Pak, saya yakin bekerja disini!" Jawab Lantana
"Baiklah kalau kamu mau bekerja di sini lagi. Tapi kamu tidak bekerja di bagian packing lagi. Kita butuh karyawan untuk bagian gudang!" ucap Pak Agus
Lantana menyetujuinya. Dia tidak masalah di letakkan di bagian apa saja, yang penting dia ingin menghasilkan uang.
"Dodi, kamu antar Lantana ke Diana. Nanti Diana yang akan memberitahu pekerjaan Lantana." ucap Pak Agus pada Dodi.
Dodi lalu mengantar Lantana menemui Diana, dimana diana adalah pengawas bagian gudang. Lantana tak memperdulikan hal itu, bagaimanapun ia harus bekerja untuk bertahan hidup.
**
"Kamu pindahkan kardus-kardus itu ke gudang belakang!" Perintah Diana pada Lantana.
"Tadi kamu yang bilang untuk menaruhnya di sini!" protes Lantana
"Pak Agus tidak mau kardus-kardus itu di sini karena kardus itu sudah tidak bisa digunakan lagi!" Kata Diana tidak mau kalah.
"Jadi aku sendiri yang harus memindahkan kardus-kardus ini?" Tanya Lantana.
"Siapa lagi!" Sahut Diana sambil berpaling pergi meninggalkan Lantana.
Lantana menatap punggung Diana, ia merasa kesal. Sudah sebulan ia bekerja di bagian gudang, dan Diana sering menyuruh Lantana untuk melakukan pekerjaan yang berat dan membagi pekerjaan yang ringan pada karyawan lain. Tak seorangpun boleh membantu jika pekerjaan Lantana belum selesai.
Lantana merasa kelelahan. Beberapa hari ini, ia merasa tubuhnya tidak sehat dan mudah lelah. Dari tadi pagi pun sesuap nasi tidak bisa masuk ke perutnya. Dan sekarang ia harus memindahkan kardus ke gudang belakang, yang letaknya cukup jauh.
Lantana memindahkan kardus - kardus itu sedikit demi sedikit sendirian. Tak berapa lama, ia merasa semakin pusing dan penglihatannya buram. Semua kardus yang ia bawa jatuh, dan ia pun ambruk tak sadarkan diri.
Setelah sadarkan diri, Lantana masih merasa sedikit pusing dan mual.
"Tana kamu sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" Tanya seorang teman yang juga bekerja di PT Hansa Food.
"Aku tidak apa-apa. Mungkin hanya kelelahan!" jawab Lantana.
"Dasar lemah! Di suruh memindahkan kardus saja, pingsan!" Kata Diana sedang mencemooh Lantana.
Lantana hanya diam tak menanggapi perkataan Diana.
"Dimana ini?" Tanya Lantana pada temannya.
"Di klinik dekat PT Alanda Makmur!" jawab temannya.
Tiba-tiba seorang wanita yang memakai baju putih dan membawa stetoskop datang memeriksa Lantana.
"Ada keluhan?" Tanya wanita yang merupakan seorang dokter.
"Masih pusing dan sedikit mual" jawab Lantana.
"Sudah berapa lama mual dan pusingnya?" Tanya dokter itu lagi.
"Mungkin semingguan." jawab Lantana.
"Kita tes dulu dulu ya." kata dokter lalu pergi dan menyuruh asistennya untuk mempersiapkan semua.
"Hasilnya positif. Selamat anda hamil!" kata dokter muda tersebut dengan tersenyum.
Semua orang di sana diam, termasuk Lantana sendiri yang terkejut.
"Hamil dok! Dia kan janda, sudah lama bercerai dan belum menikah lagi!" Teriak Diana.
Lantana tak menyangka bahwa ia hamil, ia meneteskan air mata yang menyebabkan dokter di depannya merasa bersalah karena mengumumkan kehamilannya di depan teman-temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANTANA
General FictionAda yang berkata bahwa kehidupan itu seperti roda dan kita tidak tahu kapan roda itu akan berputar. Seperti kisah Lantana, wanita cantik yang dulunya hidup bak putri kerajaan. Dan tiba - tiba hidupnya berubah seperti yang tidak Ia bayangkan sebelumn...
