Lantana pagi-pagi sudah dikejutkan oleh surat sita dari bank yang baru saja di terima nya. Tak hanya rumah beserta isinya tapi juga aset lain berupa tanah, mobil dan berbagai surat berharga yang dimiliki Ayahnya juga di sita.
Kenapa disita bank? Ia hampir tak bisa berpikir, siapa yang harus dia hubungi untuk bertanya tentang semua ini? Pamannya! Ia mencoba menghubungi pamannya, tapi selalu gagal.
Lantana kemudian menelpon Pak Danu, sopir Ayahnya dan meminta mengantar ke Wiguna Group untuk bertemu Pamannya.
Di perjalanan, ia hanya bisa menangis sambil berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
"Sabar, Nak Lana. Semua pasti baik-baik saja." kata Pak Danu yang sedang menyetir mencoba menenangkan Lantana.
"Bagaimana bisa tenang kalau keadaannya begini, Pak Danu? Semuanya disita oleh bank karena Ayah tidak bisa membayar hutang yang sudah jatuh tempo. Apa maksudnya ini? Hutang apa? Paman juga tidak menjawab panggilanku dari tadi!" ucap Lantana yang tetap mencoba menghubungi pamannya.
"Ayahmu orang baik, Lana. Bapak sudah menjadi sopir Ayahmu sejak kamu masih kecil. Dia sangat menyayangimu, tidak mungkin dia akan meninggalkanmu dengan hutang." Kata pak Danu.
"Rencana aku akan menjual sebagian aset Ayah untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, tapi kenapa jadi begini?" Lantana semakin sesenggukan.
Sesampainya di PT Wiguna Group, Lantana segera berlari masuk kedalam. Ia mencoba menemui Pamannya, tapi sekretarisnya bilang bahwa Pamannya sedang tidak ada di ruangan. Sekretaris itu hanya menyampaikan pesan dari pamannya agar Lantana menemui pengacara perusahaan di lantai 10.
Setelah keluar dari lift di lantai 10, Lantana segera menuju ruangan pengacara yang dimaksud.
"Kamu tidak membaca dokumen yang sudah kamu tanda tangani, Lana?" Tanya seorang pengacara yang Lantana kenal sebagai pengacara Ayahnya. Dia sering datang ke rumah Ayahnya untuk membahas masalah bisnis.
"Dokumen apa? Maksudnya dokumen persetujuanku bahwa Paman yang mengelola perusahaan ini?" Tanya Lantana dengan mata yang sembab.
"Bukan masalah itu saja, Lana. Harusnya kamu membaca dulu sebelum tanda tangan!" Kata pengacara setengah membentak Lantana. Sebenarnya ia merasa kasihan pada Lantana.
"Lalu apa, Pak? Tolong beritahu saya!" Lantana memohon sambil menangis.
"Yang kamu tanda tangani adalah dokumen penyerahan pengelolaan perusahaan pada pamanmu. Tapi bukan hanya itu isinya! Semua hutang perusahaan yang terjadi pada saat ayahmu mengelolanya, tidak menjadi tanggungjawab perusahaan pada saat ini. Jadi seluruh aset yang di tinggalkan Ayahmu akan akan di sita bank untuk membayar hutang perusahaan yang sudah jatuh tempo!" Jelas pengacara.
Lantana setengah tak percaya apa yang sudah di ucapkan pengacara itu.
"Tidak mungkin. Paman tidak mungkin melakukan hal itu pada Lana. Tolong bantu saya, Pak. Bapak adalah orang kepercayaan Ayah. Tolong bantu saya, bagaimana saya bisa membatalkan isi perjanjian tersebut?" Lantana memohon-mohon pada pengacara tersebut.
Sang pengacara hanya menggeleng. "Maaf Lana, Bapak tidak bisa membantumu. Karena sekarang status Bapak adalah pengacara perusahaan. Bapak tidak mau mempertaruhkan pekerjaan Bapak!"
Berkali-kali dunia Lantana seakan runtuh. Entah berapa banyak air mata yang sudah ia keluarkan. Ia menghubungi teman-temannya untuk meminta bantuan meminjam uang agar bisa menyewa pengacara, tapi semua tiba-tiba menjauhinya. Sekarang hanya satu tujuannya, Bian!
Ia mencoba menghubungi Bian berkali-kali tapi tidak bisa. Meski sudah resmi bercerai dengan Bian, tapi satu-satunya harapan Lantana adalah Bian. Ia berusaha datang ke perusahaannya, lalu ke rumahnya tapi ternyata Bian sama sekali tak mau menemuinya. Lantana hanya menerima pengusiran dari pengawal Bian.
Salah satu harta berharga Lantana adalah ponsel miliknya, tapi ia harus menjualnya demi bertahan hidup. Ia merasa sangat sedih, sekarang ia harus meninggalkan rumah peninggalan Ayahnya. Sekarang ia tak tahu harus tinggal dimana. Teman-teman sudah menjauhinya, tak ada yang peduli padanya. Lantana berjalan di derasnya hujan. Ia tak mempunyai tujuan lahi, ia menangis keras di tengah derasnya hujan.
"Nak, kenapa menangis?"
Lantana mendongakkan wajahnya, kini seorang wanita muda yang umurnya tak jauh darinya memayungi dirinya, dan seorang wanita yang terlihat seperti ibu dari wanita itu sedang menggenggam tangannya. Hal itu membuat Lantana menangis kencang.
"Sudah jangan menangis." Kata ibu itu memeluk Lantana.
"Namaku Mira, dan ini ibuku!" kata Mira memperkenalkan diri.
"Saya Lantana."
"Rumah kamu dimana? Kenapa kamu menangis?" Tanya Ibu Mira.
"Saya tidak punya rumah, Bu. Saya tidak punya tempat tujuan." isak Lantana.
Kemudian Lantana menceritakan semua yang terjadi pada Mereka.
"Kamu mau ikut kami pulang, nak? Tapi rumah kami di desa, bukan kota besar seperti ini." ajak Ibu Mira yang merasa kasihan dengan Lantana.
"Ia ikut saja dengan kami, Lantana. Aku juga akan pulang bersama ibu, aku tidak betah bekerja kota besar ini." ajak Mira.
Lantana hanya mengangguk, uang hasil menjual ponselnya juga hampir habis. Ia tak punya tujuan ataupun teman di kota metropolitan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANTANA
Ficción GeneralAda yang berkata bahwa kehidupan itu seperti roda dan kita tidak tahu kapan roda itu akan berputar. Seperti kisah Lantana, wanita cantik yang dulunya hidup bak putri kerajaan. Dan tiba - tiba hidupnya berubah seperti yang tidak Ia bayangkan sebelumn...
