[34] Hadiah Pertama

602 75 7
                                        


Cintaku tak perlu kuungkap dengan kata-kata, cukup perhatikan aku. -Rehan



Sudah baca part di KK? Seru banget, kan, yang kemarin itu. Iya, dong. Hangat, manis, mood banget pastinya.

Saingan Mas Arda nih. Kalau Alya punya Mas Arda. Kanes enggak mau kalah, dia punya Dokter Rehan. Sama-sama sweet dan malaikat pelindung!

Buat yang belum baca part di KK, mampir aja. Jangan maju-mundur.



Bab 34



Setelah Zaky pulang ke Semarang, suasana apartemen terasa sepi. Aku dan Rehan kembali berdua lagi di weekend ini. Menonton televisi, masak sama-sama, membersihkan setiap sudut apartemen yang sebelumnya tidak terjangkau, mencuci piring dan makan. Aku menyerahkan remote pada Rehan setelah mencari siaran dan tidak ada yang menarik, Rehan akhirnya memilih siaran olahraga.

Sabtu ini Rehan absen ke bengkelnya, dua pekan sekali saja katanya. Dia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya, alasan yang masuk akal tapi terdengar gombal. Geli saja dengarnya.

"Boleh tanya?" Aku menoleh untuk memastikan dia mengangguk, sementara tatapannya masih tertuju pada TV di depan. "Kamu buru-buruin nikah sama aku karena umurmu sudah tiga-puluh ya? Atau mentok karena nggak dapat-dapat jodoh? Jujur saja, aku nggak marah," kataku yang di akhiri dengan cengiran lebar. Sejak dulu aku ingin tahu apa alasannya ada di sini, karena takdir? Itu memang benar. Tapi, apa alasan Rehan sesungguhnya? Karena dia cinta sama aku? Klise. Aku masih tidak percaya, apalagi dia tahu aku bekas sahabatnya sendiri.

"Kenapa kamu harus tanya itu sih?" Dia balik bertanya, terlihat kurang suka.

"Penasaran aja, iya 'kan?" Telunjukku menusuk-nusuk lengannya. "Jadi, yang mana yang benar, Pak?"

Dia tersenyum tipis sekali sebelum berkata santai, "Asumsimu nggak ada yang benar, Sayang. Jangan sok tahu lah."

Sok tahu?

Bukannya berhenti berpikir, aku malah membiarkan isi kepalaku mulai liar. "Jangan-jangan karena kasihan sama aku ya? Melas banget hidupku, Han. Ya Allah ... masa cantik-cantik gini dinikahin Dokter Rehan karena kasihan doang. Kalau keluargaku tahu bisa disuruh bubar kita, Rehan." Aku setengah mendumal, kembali menyandarkan punggung ke sofa.

Rehan melirikku tajam, aku balas menatapnya.

"Apa?" tanyaku galak.

"Jangan sembarangan kalau ngomong, Nes. Bubaran itu masalah besar."

"Ya, terus apa? Tinggal jelasin, Rehan, apa susahnya sih?" kataku ngotot. Kini kami berhadapan dan tampangku menuntut dia agar terbuka denganku. "Kamu ... eng-gak terpaksa 'kan? Rehan, lihat aku deh!" Aku menarik dagunya supaya dia bisa menatapku dengan jelas. "Waktu kamu bilang kamu suka sama aku, itu beneran? Sejak kapan? Jangan bilang sejak Adrian nembak aku dan aku jadi pacarnya ya. Serius?" paparku heboh sendiri.

"Kamu kebanyakan baca novel romance ya? Besok-besok ganti ke genre horor dong, Sayang...." Rehan menepuk-nepuk pundakku, tangannya berada di belakangku, entah sejak kapan.

"Enak, saja! Nanti malah enggak bisa tidur tahu!" Menonton film horor di bioskop saja aku tidak berani, apalagi baca novelnya di kamar yang sepi.

"Aku yang nemenin 'kan?" Rehan tersenyum penuh maksud.

Kualihkan perhatian ke layar TV saat jantungku mulai berdetak aneh, perutku yang tadinya baik-baik saja mendadak kambuh, antara mual dan mulas. Kenapa reaksiku nggak masuk akal begini?

Lebih Dari ApapunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang