Sudah baca bab tambahan di KK?
Gimana ... agak gerah kan ya? Hehehe
Bab 37
Pernikahan tidaklah mudah. Benar. Itu memang benar.
Tidak mudah menundukkan ego dan bersikap taat pada pasangan.
Jujur, sampai detik ini aku masih kesulitan memahami Rehan. Masih sering malas membuatkan dia makanan. Masih sering bertanya pada diri sendiri, mengapa harus kulakukan semua ini? Melayaninya dan menyiapkan segala keperluannya. Lalu, kapan waktu untuk diriku sendiri? Aku merasa kehilangan duniaku yang dulu pernah aku miliki seorang diri. Sebab saat ini, duniaku bukan lagi milikku, tetapi milik orang di sisiku.
Adakah yang sama sepertiku?
Merasa sulit mengatur napas, sebab merasa tak bebas setelah berbagi hidup dengan seseorang. Ada yang mau menamparku supaya aku lekas bangun dan sadar bahwa ini adalah keputusanku sendiri?
Padahal, dulu ... akulah yang ingin cepat-cepat menikah. Namun, sekarang akulah yang sedang lelah dengan statusku sebagai istri.
Pukul sembilan malam di saat aku sedang lelah, Rehan malah bersikap aneh dan tidak seperti biasanya. Dia merengek dan meminta dibuatkan nasi goreng.
Kalau mama tidak sering mengingatkanku, bahwa tugasku adalah jadi istri yang baik dan siap melayani kebutuhan suami seperti malam ini, mungkin aku sudah kabur dan memilih tidur di kamar sebelah.
Rehan tidak tahu bahwa sepanjang aku menguleg bumbu dan menggoreng nasi putih di wajan, aku juga menggerutu dalam hati.
"Silakan nasi gorengnya, Tuan." Aku meletakkan seporsi nasi goreng di meja makan, sementara Rehan sudah menunggu di sana.
Rehan menutup ponselnya dan meletakkan di tepi. "Makasih istriku yang cantik!" pujinya setelah mencium arona sedap dari nasi goreng buatanku. Semoga saja dia tidak keracunan, aku menguleg bumbu dengan tenaga sisa dan menambah lada di sesi terakhir.
"Gimana rasanya?" tanyaku tak sabar.
"Pas."
"Serius? Bukannya agak asin dan pedes ya?" Tentu saja aku tahu bagaimana rasanya, aku sudah mencicip makanan itu berkali-kali.
"Sejak nikah sama kamu, aku lebih suka masakan asin dibanding manis. Mungkin karena ketularan kamu," balas Rehan datar. Lalu dia melahap nasi gorengnya lagi.
Aku malah tersenyum dan terbayang masa lalu. "Memang gitu kayaknya. Karena sering makan bareng dan interaksi kita setiap hari, secara enggak langsung membuat kita saling menoleransi. Aku sama Ian enggak hidup bareng, tapi pernah beberapa kali makan mie ayam. Akhirnya aku jadi doyan daun bawang mentah, padahal awalnya enggak. Akhirnya aku bisa menerima rasa daun bawang yang Ian bangga-banggakan itu, padahal rasanya masih sedikit aneh di mulutku." Aku menatap Rehan dan dia menghentikan kunyahannya.
"Ian?" Keningnya mengernyit.
Bibirku mendadak kelu, apakah barusan aku salah bicara? "Hem? Maaf, maksud aku ... tadi, cuma keinget dia aja." Hanya itu yang bisa aku ucapkan, tidak ada alasan lain. Memang benar, Ian sempat terlintas di kepalaku karena kami membahas makanan.
Rehan meletakkan sendok dan duduk tegap, sepasang bola matanya terus mengawasiku. "Masih sering ingat dia?"
"Sedikit," ucapku jujur. Aku tidak akan berbohong padanya, meski sebenarnya aku takut Rehan marah atau tersinggung.
"Aku juga. Biar bagaimana pun, dia adalah sahabatku dan pernah jadi seseorang di masa lalu kamu," katanya bijak. Sungguh di luar dugaan.
"Kamu enggak marah?"
"Cuma cemburu kalau kamu sering ngomongin dia. Apalagi kalau kamu mendadak cerita soal kalian yang ngapain aja saat masih pacaran, aku cemburulah."
Tiba-tiba aku ingin menggenggam tangan kirinya yang bebas. "Maafin aku, Han," kataku sambil melakukan perintah otakku.
"Memang, semua itu enggak mudah dilupakan kok. Aku tahu rasanya. Aku juga tahu susahnya buat enggak pernah ngomongin dia lagi. Karena dulu, aku juga begitu. Aku juga pernah merasakan hal yang sama, susah buat melupakan seseorang." Rehan mendekat hanya untuk mengusap puncak kepalaku. "Aku enggak pernah bisa lupain kamu meskipun kamu dan Ian lagi menyiapkan pernikahan kalian."
Aku menatap tangan Rehan yang kembali ke atas meja, tidak berani mengawasi kedua bola matanya yang terlihat berduka. Seolah penderitaan itu masih ada di lubuk hatinya, masih ada di pelupuk matanya. "Jadi, apakah musibah yang dulu menimpaku adalah anugerah buat kamu, Han? Apa...."
"Kamu enggak akan percaya kalau aku juga ikut patah hati dan sedih saat Ian ngecewain kamu, aku benar-benar mengalaminya berhari-hari sampai akhirnya aku berani ngomong jujur sama kamu, bahwa aku mau menikah sama kamu." Rehan langsung bangkit, berdiri di belakang kursiku dan menunduk. Dia mendekapku dari sana. "Aku cuma mau kamu dengar ini, Sayang. Aku enggak pernah mencintai seseorang sedalam dan bertahan sejauh ini. Makanya aku benar-benar bersyukur saat kamu memutuskan untuk menerima tawaran aku, menikah."
Kata-katanya membuat jantungku berdebar sangat aneh. Rasanya seperti tersihir.
Rehan mengecup puncak kepalaku sebelum duduk kembali dan menghabiskan nasi gorengnya dalam diam.
Aku tidak pernah menyangka bawah akan ada laki-laki yang mencintaiku sedalam dan sehangat ini. Rasanya apa yang aku lakukan untuk Rehan tidak akan pernah bisa membayar kebaikan, pengorbanan dan pembuktian cinta yang selama ini dia curahkan untukku.
Aku tersadar sendiri, bahwa aku tidak berhak bersikap malas dan setengah hati saat berusaha berbakti pada suamiku, orang yang jelas-jelas aku terima untuk jadi teman hidupku.
Usai Rehan menyantap hidangan buatanku, dia membantuku menyapu lantai yang sedikit berdebu, sementara itu aku membereskan meja makan dan pantri. Rehan menyapu sambil sengaja menyenggol lenganku hingga kami tertawa bersama. Kadang ada hal sederhana yang bisa membuatku jengkel kalau aku sedang tidak mood, tapi kali ini aku malah tertawa karena keusilannya.
"Mau kemana?" Rehan menarik tanganku saat aku akan masuk ke kamar, sementara dia hendak ke arah sofa tengah.
"Mandi, mendadak gerah," balasku sambil mencium aroma kaos yang terkena keringat.
Rehan mengedipkan sebelah matanya, "Habis itu?"
"Apa lagi? Tidur."
"Mau aku pijitin?" Tanpa permisi Rehan sudah menekan-nekan kedua bahuku dan rasanya enak sekali.
"Beneran enggak keberatan kalau aku minta dipijit?"
Rehan tersenyum penuh maksud, "Asal ada bayarannya."
"Apa?" tanyaku bingung. Bukankah dia punya uang sendiri dan jumlahnya jauh lebih banyak dari punyaku? Lalu, sesaat kemudian aku tersadar akan sesuatu, bahwa hubungan kami bukan berdasar rupiah saja melainkan kasih sayang. Aku sudah mengerti maksudnya, lalu perlahan mengangguk. "Aku mandi dulu ya," kataku lembut sebelum masuk ke kamar.
Rehan tidak menjawab, tetapi aku sangat yakin bahwa dia merasa bahagia. Sebab hubungan kami semakin membaik, seperti harapannya sejak ijab qobul dilantunkan.
_____
Mau ingetin lagi, kalau cerita ini adalah cerita kedua dari seri "Persahabatan"
Cerita sebelumnya adalah "Story of Divya" => sudah tamat ya di WP dan tinggal baca aja
Jangan lupeee VOTE dan KOMEN di Bab ini
Kalau ramai, besok update lagi yaaa
Bye!
KAMU SEDANG MEMBACA
Lebih Dari Apapun
ChickLitKehidupan tak semulus selembar kertas putih, karena pada akhirnya banyak coretan tinta berbagai warna di atasnya. Itulah kehidupan yang aku jalani. Aku mencintai kekasihku, Ian. Sayangnya, jarak membentang terlalu jauh. Hari-hariku malah terjebak be...
