Instagram : vi_borneogirl
Tiktok : vi.borneogirl
Twitter : vi_borneogirl

• • • • •
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Tia diperbolehkan pulang saat kondisinya sudah membaik. Karena masih ada satu botol infus yang harus dihabiskan, sehingga saat sore hari baru bisa pulang.
Tepat setelah sholat ashar, Adam segera membantu Tia untuk bersiap pulang. Meskipun Tia menolak karena merasa bisa bersiap sendiri, Adam tetap kekeh membantunya, padahal tangan Adam sendiri belum benar-benar pulih.
"Humaira," panggil Adam dengan lembut saat melihat Tia terdiam di atas brankar, tatapannya kosong namun tampak berkaca-kaca.
Tia mengerjapkan matanya beberapa kali saat lamunannya buyar. Setelah dirasa lebih baik, Tia menoleh menatap Adam. Tia tersenyum hingga akhirnya Adam mengusap pipinya.
"Kenapa, hm? Masih sakit?" tanya Adam.
Tia menggeleng sembari terus tersenyum. Namun Adam malah menghela nafasnya, ia tau jika Tia masih memikirkan kepergian anak mereka, bahkan sama sekali belum sempat bertemu.
"Kamu percaya sama Allah?" tanya Adam, dan Tia segera mengangguk yakin, "Kamu percaya takdir Allah?" lanjutnya, membuat Tia kembali mengangguk.
Adam tersenyum kemudian ikut duduk di tepi brankar, dengan posisi menghadap Tia. "Kalo gitu ikhlaskan dia. Allah lebih tau mana yang terbaik buat kita. Mas tau ini berat, tapi kita harus yakin pasti ada hikmah dibalik semua yang sudah terjadi sama keluarga kecil kita."
Setelah mendengar nasehat Adam, Tia langsung menunduk dan air mata yang sejak tadi ia tahan pun jatuh begitu saja. "Aku cuma ngerasa bersalah mas."
Dengan lembut Adam menyapu jejak air matanya dengan sebelah tangan. Andai tangan kirinya sudah bisa bergerak normal, Adam pasti akan menangkup pipi Tia dengan kedua tangannya.
"Kalo kita mau bahas siapa yang salah, di sini mas juga salah, Humaira. Mas terlalu lengah dan terlambat datang malam itu. Tapi semua ini udah jalan takdir yang harus kita lewatin. Jangan terlalu lama terpuruk, apalagi nyalahin diri kamu sendiri, mas tau kamu udah berusaha keras buat jaga dia."
"Ikhlasin dia. Jangan sedih lagi, nanti dia juga ikut sedih liat ummanya sedih. Kita masih punya Aqila yang butuh kasih sayang kita. Jangan sampe bidadari kecil kita ikutan sedih."
Tia yang sejak tadi menunduk mendengarkan itu seketika mendongak menatap Adam. Akibat larut dalam rasa kehilangan, Tia jadi melupakan Aqila, seketika Tia pun bertekad untuk kembali bangkit demi bidadari kecilnya itu.
Sesaat kemudian Tia mengangguk dan Adam pun segera membawa Tia kedalam dekapannya. Sama halnya seperti Tia, Adam juga merasa kehilangan. Namun, Adam berusaha menerima dengan ikhlas jalan takdir yang Allah berikan. Adam harus kembali bangkit, karena Tia membutuhkan sosok penguat untuk mendampinginya melewati masa sulit itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Humaira
Romantizm📌 FOLLOW SEBELUM BACA ❗❗❗ 📌 Sequel "Takdir si Kembar" 📌 End - Part Lengkap Sintia Almaira Putri As-Syifa, kerap disapa Tia. Ia ditakdirkan terlahir kembar, ia juga ditakdirkan menjadi seorang istri dari Adam Alfian Shihab dan memiliki bidadari ke...
