29. SCHADENFREUDE

533 95 32
                                        

29

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

29. SCHADENFREUDE.

Hidup setiap orang itu beda. Alur dan endingnya juga beda-beda. Tugas kita belajar dari kesalahan orang lain dan masa lalu kita supaya nanti kita gak ngulang kesalahan yang sama.”
Kanemoto Yoshinori, Vengeance.

Di kursi salah satu restoran cepat saji nomor empat itu seorang Jihoon duduk merenung.

Tak berapa lama, Yoshi kembali ke meja dan duduk di depannya, membuat lamunan Jihoon buyar dan membenarkan posisi duduk.

Yoshi tersenyum lalu menyajikan pesanan Jihoon. Paha ayam dengan saus keju, satu porsi nasi serta soda. Yoshi juga sengaja memesan menu serupa dan tambah kentang goreng untuk berdua.

Billnya biar gue aja,” ujar Jihoon.

“Udah gue bayar,” jawab Yoshi.

“Kalau gitu berapa total gue? Gue ganti.” Jihoon bergerak merogoh saku dalam jaketnya.

“Gak usah, Ji,” cegah Yoshi terkekeh. “Gue traktir.”

“Beneran?”

“Iya.” Yoshi mengangguk yakin.

Thanks ya.”

Yoshi meminum teh pesanannya dan Jihoon sibuk membuka kertas nasi.

“Jeongwoo cerita ke gue kalau kemarin lo mau bunuh diri ya?” Yoshi mulai menyatakan hal yang ingin ia bahas sekaligus tujuannya mengajak Jihoon makan sore ini.

Jihoon terdiam.

“Gue atau Jeongwoo emang gak tau persis gimana sulitnya jalan hidup lo dan betapa sakitnya perasaan lo selama ini. Tapi kalau lo butuh temen cerita, lo bebas cerita ke kita. Gak cuma gue atau Jeongwoo. Lo bebas cerita ke siapapun yang sekiranya bikin perasaan lo lebih nyaman dan tenang.” Yoshi menyampaikannya dengan suara halus.

“Bunuh diri itu jelas bukan solusi,” imbuh Yoshi. “Kalau lo mikir bunuh diri itu akhir hidup lo. Emang.”

“Dengan bunuh diri, jalan dan permasalahan hidup lo selesai.” Yoshi menjeda sejenak, “Tapi gak semerta-merta jadi akhir perjalanan lo. Ada alam lain, Ji. Bukan semuanya tamat gitu aja.”

Jihoon yang dinasehati pun hanya diam tak berkutik. Dirinya bahkan tak punya keberanian untuk bersitatap dengan Yoshi.

“Siksaannya bukan main, Ji.”

“Gue cuma pengen ngalamin hal yang sama kayak yang Yuri rasain dulu,” ucap Jihoon. “Gue pengen tau rasa sakitnya.”

“Yuri?” kernyit Yoshi. Berpura-pura tidak tahu menahu soal Yuri.

“Yuri adik kelas sekaligus pacar gue di Choseungdal,” jelas Jihoon pada Yoshi. “Dia bunuh diri karena depresi tiga tahun yang lalu.”

Yoshi tersenyum lebar. “Jihoon, setelah kematian dan kita berada di alam sana, kita semua udah gak punya hubungan apapun lagi. Semua orang sibuk mikirin nasib masing-masing. Bahkan ada yang bilang saking sibuknya, seorang ibu sampai gak peduli sama anaknya sendiri.”

Vengeance | TreasureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang