Rasa sakit dan duka melahirkan pembalasan dendam.
ft. Enhypen.
Selayaknya aktivitas normal siswa pada umumnya yang terus berpendar dengan kegiatan belajar. Kehidupan sembilan belas penghuni asrama satu Heuri High School berjalan sangat baik hingga j...
“Eh lo kalau pasang alarm jam berapa sih? Suaranya kedengaran sampai kamar gue.”
“Jam empat lebih seperempat,” jawab Haruto.
“Pagi banget. Jam segitu gue masih mimpi jadi raja Denmark,” kata Jungwon.
“Nggak heran.”
“Lo tau orang kayak lo disebut apa?”
“Morn—”
“Kerajinan.” Jungwon menyela.
“Morning person!” ucap Haruto lalu tertawa.
“Oke. Tapi tau gak sebutan buat orang yang pagi-pagi udah nggak bernyawa?” tanya Jungwon.
“Apa?”
“Morninggoy,” celetuk Jungwon membuat Haruto tertawa lebar.
“Permisi?”
“Eh bangsat!” Haruto mengumpat kaget. Seseorang dengan setelan dress putih tiba-tiba muncul di sebelahnya. “Eh lo Chaera dari kelas FTR, kan?”
“Iya. Doyoung ada?” tanya perempuan itu amat sopan.
“Ada. Kenapa?” tanya Haruto.
“Mau dipanggilin?” tanya Jungwon.
“Nggak perlu. Gue titip ini aja buat dia tapi tolong jangan bilang kalau ini dari gue.” perempuan yang setau Haruto bernama Chaera itu menyodorkan paperbag warna putih tulang langsung Haruto terima.
“Makasih ya gue balik asrama dulu,” pamit Chaera secepat mungkin menjauh dari sana.
Itulah sistem di HHS. Setiap murid kelas XII diwajibkan tinggal di asrama hingga hari kelulusan sebagai upaya pengawasan belajar mereka. Tidak peduli meski rumah mereka dekat dengan sekolah sekalipun.