Rasa sakit dan duka melahirkan pembalasan dendam.
ft. Enhypen.
Selayaknya aktivitas normal siswa pada umumnya yang terus berpendar dengan kegiatan belajar. Kehidupan sembilan belas penghuni asrama satu Heuri High School berjalan sangat baik hingga j...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
30. ABSQUATULATE.
“Killing is an addiction like any other drug.” —Tiffany Ray, Seed of Chucky.
Doyoung berlari turun, membiarkan pintu mobil terbuka begitu saja dan menerobos tubuh beberapa petugas pemadam kebakaran yang berupaya memadamkan si jago merah.
Bayangan jingga kemerahan kobaran api itu terpantul di pupil bening Doyoung. Tak sanggup berkedip menatapi bangunan toko Yoshi yang telah jadi reruntuhan sementara sahabat sekaligus teman sekamarnya masih di dalam sana, Haruto.
“Beberapa menit lalu juga sempat terjadi ledakan cukup serius dua kali.” salah seorang petugas bersaksi pada Jay dan Mashiho yang juga datang bersama seluruh anak asrama satu.
“Kalau hanya kebakaran, tidak mungkin bangunannya runtuh,” imbuhnya.
“Apa ada kemungkinan Haruto masih bisa diselamatkan?” sadar sudah salah bicara, Jay cepat meralat. “Ah maaf, maksud saya apa masih mungkin jenazah Haruto ditemukan?”
Petugas dengan postur ideal itu menggeleng ragu. “Dalam kebakaran dan ledakan seperti ini, ibarat teman kalian dikremasi. Sepertinya yang tersisa hanya abu saja dan tertimbun serpihan bangunan.”
“Apa tidak sempat dilakukan evakuasi, Pak?” tanya Mashiho.
“Warga terlambat memanggil bantuan kami. Mereka baru sadar ada kebakaran setelah mendengar satu kali ledakan. Tidak heran, lokasinya juga jauh dari pemukiman warga, kan?”
“Maaf, kami para tim juga sudah berusaha sampai lokasi secepat mungkin. Tapi saat kami baru sampai, ledakan kembali terjadi,” sambungnya terselip nada sesal.
Sempat menguping penuturan tersebut, Jihoon bergegas mencari eksistensi Yoshi lalu menarik sarkas bahu cowok surai kecoklatan itu. Membuat Yoshi hampir terperosok seandainya tubuh Yoshi tak seimbang.
“Jelasin ke gue gimana bisa Haruto ada di dalem sana!” Jihoon tunjuk toko Yoshi dengan murka.
Pada awalnya, Yoshi diam berpikir apakah aman jika ia menceritakan yang sebenarnya pada Jihoon. Namun, agaknya situasi tidak memungkinkan untuk Yoshi tutup mulut soal ini.
Yoshi berdeham, “Jadi, selama ini gue sama Haruto kerja sama buat nyelidikin siapa pelaku teror di asrama.”
Jihoon mengangguk dengan amarah yang tertahan, “Jadi ini alasan kalian sering keluar bareng? Iya?”
“Sorry, Ji. Tapi kayaknya pelaku udah tau kalau gue sama Haruto—”
“Kenapa? Kenapa lo rahasiain ini dari gue?” sungut Jihoon mengundang semua mata menontonnya.
“Kenapa kalian bertindak seolah bisa ngelakuin semuanya sendirian?! Sekarang gimana? Haruto meninggal! Nanti pasti gue lagi yang kena!” Jihoon mengusak rambut legamnya. “Bisa gak sih kalian gak bikin repot gue? Seneng kalau gue stres, iya? Kalian bisanya cuma nambahin beban gue!”