CHAPTER 29(Pembayaran)

78 51 2
                                        

"Akhirnya lo sekolah lagi Ca, udah tiga hari lo gak sekolah, katanya sakit tapi gak ada surat dokternya, terus lo juga gak bisa kita hubungin, tapi gue sekarang bersyukur lo gak papa, asal lo tau gue tuh khawaaatir banget sama lo!" ucap Shinta tanpa henti.

"Lo kemana aja Ca?, tiga hari gak ada kabar?!" tanya Indah.

"Yaaa... ada masalah keluarga aja" jawab Caca.

"Oh" ucap Shinta dan Indah secara bersamaan tanda mengerti.

"Tumben si Rafael belum dateng, biasanya udah dateng tuh anak" ucap Shinta heran.

"Rafael izin" ucap Malik.

"Beneran izin apa bolos doang?" tanya Indah.

"Ya izin lah anj*ng"

"Heh lo biasa aja" bentak Bellova.

"Udah gak usah ribut, Malik lo jangan bikin ribut terus, pusing kita mikirin lo. Va si Rafael beneran izin, lo kita kasih tau karena lo seketarisnya" ucap Rhido.

"Iya, gue juga tau, thank infonya"

Mereka menjalani kehidupan sekolah seperti biasanya, hanya saja Caca harus menutupi kesedihannya dibalik senyuman dan canda tawanya.

Waktupun berlalu dengan cepat, seperti biasa sepulang sekolah Caca akan langsung pergi untuk bekerja. Disepanjang waktu dia bekerja, Caca benar-benar tidak bisa fokus dan membuat banyak kesalahan.

"Caca!, kenapa hari ini kamu selalu membuat kesalahan?, kinerja kerja kamu menurun! kalau kamu emang gak niat kerja kamu bisa keluar sekarang juga!" ucap Pak Dani.

"E-enggak pak, sa-saya minta maaf, saya akan memperbaikinya"

"Saya cuman lagi ada masalah doang, jadi kepikiran terus" ucap Caca.

"Kalau kamu lagi ada masalah mending kamu selesain dulu masalah kamu, saya gak mau kalau kamu jadi gak bisa fokus kerja karena  memikirkan hal lain, dan saya juga terpaksa harus memotong gajih kamu!"

"I-iya pak" ucap Caca dengan perasaan sedih.

"Mending sekarang kamu pulang, selesaikan dulu masalah kamu, kalau udah selesai kamu harus kembali fokus lagi untuk bekerja"

"Baik pak"

Atas perintah dari Pak Dani tersebut, Caca pun pulang lebih cepat dari biasanya. Sesampainya dirumah dia merasa heran karena tidak ada siapapun dirumahnya. Ditambah lagi dengan kondisi rumah yang tidak dikunci.

"Lah, kok gak dikunci?" gumam Caca.

"Assalamualaikum"

'Lah, kok gak ada siapa-siapa?, ayah sama ibu kemana?'

'Yaudahlah tungguin aja' ucap Caca didalam hatinya.

Caca terus menunggu kepulangan orang tuanya, sembari menunggu, Caca melakukan banyak hal dirumahnya, dimulai dari menyapu, mengepel, hingga mencuci piring, hal itu ia lakukan agar dia tidak bosan menunggu. Hingga akhirnya Caca mendengar suara pintu yang dibuka. Belum sempat Caca mendekati pintu, Ainur langsung berlari dan memeluknya dengan erat yang diikuti oleh isak tangis harunya.

"Alhamdulillah, awakmu saiki wes aman nak... hiks, hiks" ucap Ainur dan diikuti oleh isak tangis Caca.

"Pacar kamu ternyata baik banget ya" ucap Andritany.

"Pacar?" tanya Caca kebingungan.

"Iya, pacar kamu, dia ngebantuin ayah sama ibu buat ngelunasin hutang kita, jadi kamu gak usha nikah sama Pak Purnama"

"Si-siapa yah?"

"Loh, kan itu pacar kamu, masa kamu gak tau. Tuh anaknya ada diluar, suruh masuk gih"

Cacapun pergi menuju keluar rumahnya untuk melihat siapa orang yang dimaksud. Diluar sana terdapat Rafael yang sedang berdiri membelakanginya.

"Rafael!!"

"Ca-Caca" ucap Rafael menoleh ke arah Caca.

"Eeeh, gu-gue... !"

Belum sempat Rafael berbicara, tiba-tiba saja Cacapun berlari ringan menuju arah Rafael dan memeluknya dengan erat, hal tersebut membuat Rafael terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Caca.

"Thank you, because of you i am safe"

Dengan sedikit kaku Rafael pun memeluk balik Caca dan mengelus-elus kepala Caca dengan sangat lembut.

'Jadi ini alasan lo izin?'

5 Kisah [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang