Mature content 21+
Dirty mind, dark secret
Menjadi playboy selama bertahun-tahun tentu menjadikan Tito Alvarez ahli dalam menakhlukkan banyak wanita.
Bagaimana apabila ia menyukai Jameka Michelle--kakak sahabatnya yang sudah tahu seluk-beluk, luar-d...
Orang yang sering mengganggumu adalah orang yang mencintaimu
—Someone in some where ____________________________________________________
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dering ponsel tanda panggilan masuk dari Jameka membentuk senyum lebar di wajah Tito. Sambil cekikikan lantaran puas telah berhasil membuat Jameka murka, Tito sengaja membiarkan panggilan itu lebih lama. Namun, sebelum nada dering tersebut habis, Tito mengangkatnya.
“What’s up?” tanya Tito dengan nada pura-pura datar. Padahal ia tertawa tanpa suara. Tangannya nyaris menepuk-nepuk lutut. Sekarang pun ia menendangi kerikil di sekitar trotoar jalan Banbury Summertown yang berdebu dan dipadati pejalan kaki. Rokoknya yang masih meyala terjepit di antara bibir merah tuanya. Dua orang anggota klan Davidde yang ditugaskan Jayden menjemput Tito di bandara Heathrow mengikuti pria bertato itu dengan jarak agak jauh.
Sambil membagi asap nikotin ke udara Oxford yang panas, Tito kemudian menjauhkan ponsel dari telinga ketika Jameka berteriak, “Kadal sawah .... Bener-bener lo yeee!”
Kembali cekikikan, Tito pura-pura menghardik, “Apa, sih? Nggak jelas lo.” Banyak toko berderet di sepanjang jalan itu. Kaca depan pertokoan tersebut memamerkan refleksi Tito yang masih melebarkan senyuman.
“Nggak usah pura-pura bego! Bego beneran baru tahu rasa! Lo resek banget sumpah!”
Tito ganti pura-pura ber-cak. “Yang Mulia Ratu Jameka, kalau kangen bilang aja. Nggak usah marah sampe teriak-teriak kayak gini.”
•••
Jameka melongo. Amarah yang sempat naik hingga mencapai ubun-ubun pun turun lagi berganti kebingungan. Ada jeda beberapa detik yang digunakan Jameka untuk mencerna kalimat Tito. Ah, pasti si kadal sawah ini sedang berkelit agar tidak terkena amukannya. Jameka yakin itu.
Oleh sebab itu, Jameka membalas, “Lo kesurupan apa mabuk kecubung? Mana ada ceritanya gue kangen lo!”
Lalu dengan santainya Tito menjawab, “Ya diada-adainlah .... Gitu aja, kok, repot.”
Sekali lagi Jameka berkata sengit akibat amarahnya yang kembali bangkit. “Apa-apaan, sih, To? Gue—”
“Ya gue minta maaf belum ngabarin, soalnya baru sampai. Eh ..., ternyata lo udah kangen. Terus telepon gue duluan. Ya udah,” sela Tito.