Chapter 46

78 10 14
                                    

Selamat datang di chapter 45

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like I do

❤️❤️❤️

____________________________________________________

“Catherine Earnshaw, semoga jiwamu mengembara di sepanjang hidupku. Hantuilah aku! Berubahlah dalam bentuk apa pun yang kau sukai, lalu rasukilah diriku, dan biarkan aku gila karenanya!”

—Heathcliff; Wuthering Heights
____________________________________________________

—Heathcliff; Wuthering Heights____________________________________________________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Adik gue emang tahu diri. Nggak bisa komunikasi sama siapa pun selama kerja bareng dia, tapi fasilitas yang dikasih nggak kaleng-kaleng,” balas Jameka, sangat jelas menyetujui Tito.

“Emang.” Setelah menggigit, mengunyah, dan menelan apel untuk meluruskan pikirannya, Tito berbalik tanya, “Btw, gimana reaksi si Bujang waktu denger lo mau cuti tiga hari?”

Tawa Jameka mengudara sebab mengingat wajah Lih Gashani kala itu. Atmosfer yang tergolong canggung bagi Jameka ini, telah berhasil dicairkan Tito. Sejenak Jameka merasa hatinya yang perih agak menghangat. Karena jujur saja ia juga merindukan momen seperti ini bersama Tito. Betapa ia sangat menyukai mengobrol dengan pria itu, tak peduli topik yang dipilih mereka; entah hal-hal serius, hal-hal receh ataupun hal acak.

Bersama Tito bisa jadi sangat menyenangkan, sekaligus memicu adrenalin, menunggu-nunggu kapan tepatnya penyiksaan batin ini berakhir. Kemudian didorong ke jurang dan mereka menjadi asing satu sama lain seperti saat di rumah sakit menjenguk Carissa. Namun, Jameka berpikir, selama ia berada di jalur yang tepat, dengan batasan yang jelas, pasti tidak akan jatuh ke jurang itu, kan? Dan selagi bisa mengobrol santai seperti ini dengan Tito, ia akan memanfaatkan waktunya bersama pria itu sebaik mungkin.

“Lo pasti tahulah reaksinya kayak gimana?” jawab Jameka.

“Pasti mukanya sepet banget, tapi kagak bisa nolak.” Sambil menggigit pinggiran apel, Tito juga ikut tertawa lantaran membayangkan wajah Lih.

“Kasihan, tapi gimana coba?” tanggap Jameka yang memperhatikan Tito menggigit apel agak banyak.

“Tiga hari aja kayaknya dia empet banget. Gue nggak bisa bayangin si Bujang kerja di sana berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Bisa jadi robot beneran dia.”

“Makanya lo masuk, dong, To,” titah Jameka logis.

“Kalau lo udah masuk aja. Sekali-kali nyiksa si Bujang dulu.”

TAMING THE BOSSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang