Chapter 43

128 12 31
                                    

Selamat datang di chapter 43

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

WARNING BOCAH UNYU MINGGIR DULU! BUKAN BACAAN SEMUA ORANG!

DISCLAIMER, MEMBACA INI DAPAT MENYEBABKAN BADAN PANAS DINGIN SAMPAI KEDJANG-KEDJANG!

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like I do

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Mimpi memang bisa sangat gila, sangat aneh, serta tak masuk akal. Mimpi juga bisa menjadikan kita apa saja dan melakukan hal paling mustahil di dunia sekalipun.”

—Taming The Boss
____________________________________________________

—Taming The Boss____________________________________________________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jameka bertanya, “Tito, lo nggak apa-apa?”

Tidak. Tito tidak baik-baik saja. Rusun ini lebih mirip neraka ketimbang rumah. Kepalanya pening akibat semua yang terjadi di sekelilingnya. Hatinya juga nyeri akibat menyadari Jameka kembali bersama Kevino. Namun, bukankah ini mimpi?

Mimpi memang bisa sangat gila, sangat aneh, serta tak masuk akal. Mimpi juga bisa menjadikan kita apa saja dan melakukan hal paling mustahil di dunia sekalipun. Termasuk Jameka yang ada di hadapan Tito saat ini. Bisa saja wanita itu sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Atau, sah-sah saja Tito mengganggap demikian di dalam mimpinya ini, kan?

Jadi, Tito tidak ingin memikirkan letak kelogisan semua ini. Termasuk menerima uluran tangan Jameka sekarang. Ia lekas-lekas bangkit untuk memeluk wanita itu erat-erat. Rasanya hangat, nyaman, seperti menemukan tempat pulang. Mungkin inilah yang dikatakan orang-orang. Bahwa sejatinya rumah bukanlah bangunan, melainkan seseorang. Tito praktis merasa semuanya baik-baik saja karena berada di jalur yang tepat. Meski kepalanya masih amat berat dan pusing, tetapi dunia di sekelilingnya tidak lagi berputar-putar.

“Jameka,” panggil Tito dengan suara serak. Ia memejamkan mata dan mengusap-usap punggung wanita itu. “Jameka Michelle, Sayangku,” imbuhnya sembari menunduk, menyembunyikan wajah di ceruk leher wanita itu. Tak lupa ia menghidu aroma Jameka; aroma favoritnya.

Kala Tito mendongak dan membuka mata, mimpinya mulai menunjukkan keanehan lain. Yakni tiba-tiba mereka menjadi orang dewasa. Dalam pelukannya, seragam SMA Jameka luntur, berganti menjadi pakaian kantor yang dikenakan wanita itu tadi siang. Rambut Jameka yang semula tergerai lurus berubah manjadi diikat tinggi. Singkat kata, perubahan penampilan Jameka persis saat Tito bertemu wanita itu di rumah sakit.

TAMING THE BOSSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang