Chapter 50

114 11 2
                                    

Selamat datang di chapter 49

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like I do

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Dari dulu kita emang ngawur. Tapi itulah kita. Two kids just fall in love.”

Jameka Michelle and Tito Alvarez
____________________________________________________

—Jameka Michelle and Tito Alvarez____________________________________________________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Lo pernah nanya di mana bokap gue. Di sini jawabannya. Karena bunuh nyokap sama selingkuhan nyokap,” aku Tito singkat, padat, jelas, langsung mengarah pada inti alias tidak bertele-tele. Tidak ada nada sedih, pelan, atau justru sebaliknya, tegas. Semuanya dibaginya dalam nada biasa saja.

Dan tidak perlu dijelaskan dua kali untuk membuat Jameka memahami kondisi ayah Tito. Selama bertahun-tahun, akhirnya hari ini ia tahu alasan Tito tidak pernah menceritakan secara detail mengenai keluarga, terutama di mana ayah pria itu berada. Kendati menarik kedua sudut bibir ke atas membentuk senyuman seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang serius, dan meski sebelumnya Tito pernah berkata keluarga berantakannya tak membuatnya sedih bila diceritakan—tetapi masih tetap tidak diceritakan, berkebalikan dari itu, tatapan mata pria tersebut tidak dapat membohongi Jameka. Tubuh Jameka sontak bergerak sendiri untuk memeluk Tito.

It’s pretty hard for you to tell me about this,” bisik Jameka.

Mulanya, Tito masih tak bergerak saat dipeluk Jameka. Setelah mendengar kata-kata tersebut, ia merasa pundaknya lebih mengendor, napas yang agak sesak jadi lancar, serta perasaan gugup jadi berkurang. Ia lebih leluasa membalas pelukan Jameka tanpa rasa takut atau khawatir Jameka akan meninggalkannya. Ia pun menyembunyikan wajah di ceruk leher wanita yang dicintainya ini. “Actually really hard. Traumatic insident.”

You can tell me about anything. Mari kita selalu saling terbuka, saling jujur tentang perasaan masing-masing dan apa pun kejadian yang menimpa kita baik di masa lalu atau masa depan.”

Tito mengangguk pelan dan mulai membuka hal lain yang perlu diketahui Jameka. “Alasan gue nggak pernah mau pacaran tapi gonta-ganti cewek ya karena ini. Seumur hidup gue kenal bokap sebagai pria baik, tapi bisa gelap mata karena—”

“I see, I see. Nggak perlu dilanjutin,” sela Jameka. Giliran ia yang mengangguk-angguk seraya mengusap-usap punggung gagah Tito. Jantung pria itu kencang sekali. Ia dapat merasakannya.

“Selain nggak mau terikat karena nggak mau selingkuh, gue juga mikir pasti nggak bakal ada satu pun cewek yang bisa terima fakta ini. Kecuali lo,” ungkap Tito.

TAMING THE BOSSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang