Chapter 39

98 8 12
                                    

Selamat datang di chapter 39

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like me

❤️❤️❤️

____________________________________________________

“Hadiah kecil yang menimbulkan dampak begitu besar.”

—Tito Alvarez
____________________________________________________

Tak terasa laju motor yang ditumpangi Tito dan Jameka sudah tiba di depan gedung kondominium Jameka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tak terasa laju motor yang ditumpangi Tito dan Jameka sudah tiba di depan gedung kondominium Jameka. Wanita itu minta diturunkan di depan saja, di dekat trotoar yang tidak menghalangi akses masuk mobil ke gedung. Tak perlu diantar ke unitnya lantaran tak ingin Tito direpotkan oleh hal-hal kecil. Seperti mengambil karcis parkir, atau mencari-cari parkir kosong untuk motor Lih. Sementara parkiran motor gedung itu sendiri terletak di basemen paling bawah yang lumayan jauh. Hal-hal kecil tersebut tentu cukup menguras tenaga dan waktu.

Padahal bila Jameka minta diantar sampai depan unit kondominiumnya, Tito pun akan dengan senang hati melakukannya dan mengesampingkan hal-hal kecil tadi. Jangankan mengantar sampai depan kondominium. Tito disuruh mengantar Jameka ke KUA untuk mendaftarkan rencana pernikahan mereka saja langsung tancap gas detik itu juga. Apalagi hanya diminta menurunkan Jameka di trotoar dekat akses masuk mobil. Sama sekali tidak masalah.

“Thanks for today, To. Gue happy banget,” tutur Jameka tulus sembari memberikan helm kepada Tito, tetapi masih mengenakan jaket pria itu. “We were laughing a lot.”

Tito menerima helm tersebut dan memasukkannya ke jok. Tidak protes dan justru senang karena Jameka masih memakai jaket kesayangannya. “Gue happy lihat lo happy. Dan gue juga happy hari ini. However thanks for letting me be a senior high school student again. Literally made my day.”

Jangan sampai Jameka jungkir balik di sini akibat perkataan Tito. Ia harus menjaga tingkah lakunya. Jadi, ia pun membuka topik baru. “Besok masuk kantor, ya? Jujur, Lih nggak banget disuruh jadi asisten. Tahu sendiri dia passion-nya balapan. Bukan ngantor. Gue juga kasihan, dia kayak tertekan gitu.”

Tito tersenyum tulus. “Ya udah, besok gue masuk gantiin Lih. Well, gue jemput kayak biasanya?”

“Boleh,” balas Jameka yang berusaha menjaga nada suaranya tetap datar, agar tidak terdengar antusias karena akan dijemput Tito besok.

Tito mengangguk sambil menipiskan bibir. “Kalau gitu, gue cabut dulu.”

“Eh, tunggu, To. Kayaknya ada sesuatu di muka lo, deh,” cegah Jameka dengan tampang ngeri. “Coba lepas dulu helmnya.”

TAMING THE BOSSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang