Rumah Dani

9.4K 452 4
                                        

Terlihat Ganzi yang buru-buru turun dari motornya dan memasuki pekarangan rumah Samudra. Ia mengetuk pintu dengan cepat karena terkunci dari dalam. Hingga tak lama, Samudra muncul.

"Gimana? Udah ada kabar?"

"Belum, Ga. Ni udah sore. Gw ke rumah ortunya ga ada orang. Ga ada notif juga dari mereka."

"Aduhh. Mana gw ga tau alamat rumah barunya tuh."

Keduanya terdiam. Saling berpikir bagaimana caranya untuk mengetahui kabar sahabat mereka itu.

Tiba-tiba ponsel Samudra yang ia genggam berdering nyaring. Samudra langsung melihat siapa yang meneleponnya. Berharap itu Dani. Tapi bukan. Nomor asing.

"Angkat aja dulu. Sapa tau penting." Saran Ganzi. Samudra mengangguk dan menggeser tombol hijau. Lalu meloud speaker panggilannya.

"GA!! TOLONG GA HIKSS!! AGAA! GW HIKS GW GA MAU DISINI, GA!! AGA HIKS..."

"DANI!! DAN LU DIMANA, DAN?!"

"Hiks gw di... Mhpp nghh!!"

Ganzi dan Samudra saling tatap. Mulut Dani seolah dibekap di seberang sana. Terdengar grusak-grusuk  seolah Dani hendak berteriak namun tak bisa.

"DANI!!"

"Iya?" Jawab santai dari sana. Tapi bukan suara Dani. Itu Tion.

"Bangsat, Tion! Lu apain temen kita, anjing?!!"

"Ga gw apa-apain. Dia nya aja yang cengeng. Baru gitu doang dah ngadu."

"Anjing lu, Yon!! Temen gw kalo luka dikit ga bakal ngadu, Yon! Lu apain temen gw, bangsat?!" Emosi Ganzi berikutnya.

"Cuma main-main."

"Serlok, njing!!"

"Stt... Ini urusan rumah tangga."

"Dani urusan kita juga, sialan!!"

"Haha btw temen kalian ni enak juga. Bye..."

Tut Tut Tut...

"Anjing!"

"Gimana nih, Ga?"

"Ke rumah Bundanya dulu aja. Nanya tetangga siapa tau ada yang tau mereka kemana."

Ganzi mengangguk setuju. Tanpa mengganti bajunya, Samudra langsung mengunci pintunya dari luar dan menyembunyikan benda itu di bawah pot biasa. Lalu mereka bergegas untuk ke rumah orang tua Dani.

Sesampainya disana. Keadaan masih sama. Sepi tak ada orang.

Samudra dan Ganzi turun untuk bertanya pada tetangga hingga mereka bertemu satpam yang biasa keliling untuk pantau keseharian.

"Pak, maaf mau nanya."

"Oh iya, Den?"

"Bapak tau ga Keluarga pak Rukhi kemana?"

"Oh tadi mah pagi-pagi mau pergi ke rumah besan baru katanya, Den."

"Bapak tau rumahnya?"

"Aduh maaf, Den. Saya nggak tau."

"Yaudah makasih banyak, Pak."

"Sama-sama, Den."

Hening lagi. Masih dengan pikiran kacau. Hingga ke2nya saling tatap saat mengingat sesuatu.

"Kak Jessie!" Pekik ke2nya. Mereka lupa Dani mempunyai kakak perempuan.

Samudra buru-buru menghubungi Jessie. Dan tak lama panggilan terhubung.

SAMUDRA ⚠️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang