Tangan kecil itu menepuk-nepuk pipi Bryan yang tengah berjalan.
"Kenapa, Lala?"
"Mau kemana?"
"Katanya kangen kakak cantik."
"Hahh? Kakak 1cantik? Benelan? Wahh ayo cepat."
Hingga Bryan membuka pintu putih itu membuat yang sekarang berjaga menolehkan wajahnya.
"Kakak!!" Teriak Lala senang melihat teman Bryan itu. Ke2nya tersenyum. Teman-teman Bryan memang sering main ke rumah. Lala pun sudah kenal dengan mereka.
Zidan dan Yuda berdiri. Tadi Bryan menyuruhnya menjaga Samudra sebentar karena ia mendapat telepon dari Hani kalau Lala menangisinya.
"Kita diluar ya, Yan. Kalo butuh sesuatu telepon aja."
"Ya. Thanks."
"Yo."
"Dadah kakak!"
Ke2nya melambai sebelum keluar dari ruangan.
Bryan berhenti disamping brankar Samudra membuat Lala menoleh bergantian pada Bryan dan Samudra.
"Haloo kakak cantik!!"
"Kakaknya lagi tidur."
"Tidak bisa belmain?"
"Nggak. Nanti kalo udah bangun baru boleh main."
"Bangunkan saja."
"Lala bangunin."
Bryan menurunkan Lala disamping kepala Samudra. Membiarkan bocah itu menyentuh wajah Samudra yang sudah sembuh dari luka-lukanya. Hanya tinggal bekasnya saja.
"Kakak Lala lindu. Kakak bangun. Ayo main dengan Lala." Ujarnya.
Hening. Mata Lala nampak berkaca-kaca melihat Samudra yang tak bergerak. Seolah tau bahwa Samudra tengah sakit. Bukan tidur biasa.
Wajahnya merunduk dan bibir mungilnya mengecup kening dan pipi Samudra dengan pelan.
"Kakak nanti kalo sudah bangun, telepon Lala ya. Nanti Lala sampelin kakak bial kita bisa belmain. Besok Koko pelpisahan katanya, kakak halus datang ya. Lala pengen lihat mata kakak cantik. Cepat bangunnya." Ujarnya pelan. Mengelus pipi hingga bibir Samudra yang pucat.
Bryan biarkan Lala bercerita banyak hal dengan Samudra meski Lala tau Samudra tak akan menjawabnya.
Bryan merogoh sakunya saat ponselnya bergetar. Calista menelepon.
"Iya, Bun?"
"Nak, lagi di rumah sakit ya?"
"Iya, Bun. Sama Lala."
"Kamu belum beli toga nya, sayang. Kamu bisa pergi ajak Lala. Mumpung ini masih sore. Raga biar ibun yang jagain. Ini ibun bentar lagi sampai."
"Iya, Bun."
"Sekarang ya, sayang. Soalnya Lala jam 6 harus sudah ada sama Mama nya."
"Oke, Bun. Ibun langsung ke ruangan Raga ya."
"Iya, nak."
Bryan menutup telponnya kemudian beralih pada Lala.
"Ayo pulang. Koko harus beli sesuatu."
"Hah? Besok kakak cantiknya bangun tidak?"
"Insyaallah."
Lala nampak tak rela untuk pergi dari sana. Tapi ia harus pulang.
Lala kembali mencium pipi Samudra lama. Lalu menatap Bryan yang langsung menggendongnya.
Bryan ikut merunduk mencium sebentar kening dingin itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ⚠️
Roman pour AdolescentsSi puting menggoda yang menjadi incaran banyak orang tapi malah jatuh pada rivalnya sendiri yang menggilainya bahkan sejak mereka bertemu saat TK dulu. Banyak yang ingin mencelakakan dirinya apalagi saat orang-orang tau ia mempunyai hubungan dengan...
