1 mall mereka jelajahi tanpa henti. Bryan mengekori istri cantiknya yang nampaknya masih sangat bersemangat. Padahal mereka sudah hampir 3 jam berkeliling sekaligus berkuliner.
Jam pun sudah menunjukkan pukul 4 sore. Samudra akhirnya mau berhenti sejenak di stand kafe minimalis.
Rasanya kaki Bryan mau putus. Apalagi tangannya yang membawa belanjaan Samudra yang tak bisa dibilang sedikit.
"Ay belum puas, hm?" Tanyanya mengelus lembut rambut itu. Si empunya yang tengah memakan es krimnya menggeleng.
"Mau beli apa lagi?"
"Um mau beli sepatu."
"Habis itu pulang boleh? Kepala ku agak pusing ay."
"Yaudah langsung pulang aja."
"Eh nggak. Beli sepatunya dulu aja."
"Tapi kamu nggak papa? Muka kamu pucet. Ayo pulang aja."
Samudra baru menyadarinya. Suaminya itu nampaknya kelelahan mengikutinya. Jadikan rasa bersalah di hatinya.
"Tapi sepatunya..."
"Besok lagi. Ayo. Sini aku bawa setengah."
Bryan mengangguk saja. Untung ia mempunyai istri pengertian seperti Samudra. Jujur ia sudah tak sanggup lagi. Tapi ia harus tetap sadar. Setidaknya ia harus memulangkan Samudra dengan selamat.
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah. Bryan menyenderkan kepalanya sebentar di kursi kemudi untuk menghalau pusing yang amat menyiksanya. Lalu ia menyusul Samudra yang tengah menurunkan barang-barang dibantu Bi Ida.
Tapi saat di pintu masuk.
Bruk!
"Astaghfirullah!" Samudra langsung balik lagi ke suaminya. Panik setengah mati merasakan panas tubuh Bryan.
"Ya Allah!"
Samudra menoleh dan melihat ke2 kakaknya dan kakak iparnya. Ada juga ke2 sahabatnya disana. Dan juga Bisma, Tion. Mereka ikut panik melihat Bryan.
"Kak tolong!"
Reynan dan Tion sigap membantu membopong Bryan menuju sofa ruang tamu.
Bi Ida segera menghubungi dokter Tias lagi.
"Kok bisa gini, Bry! Woyy!" Keras Tion.
Mata Bryan masih terbuka. Dia hanya lemas di badannya.
"Tolong..."
"Tolong apa, bro? Lo minta sesuatu?"
Bryan mengangguk lirih.
"Apa?"
"Ati sapi..."
"Hah?!"
"Beliin."
Yang ada disana saling tatap bingung. Tapi mungkin itu yang memang membuat Bryan lemas. Karena ia menginginkan makanan itu.
"Yaudah gw keluar dulu beliin." Kata Bisma. Mereka mengangguk setuju.
Tak lama dokter Tias datang. Ia langsung memeriksa Bryan kembali.
Setelahnya ia duduk menghela napasnya. Membuat yang disana menunggu dengan was-was.
"Jadi gimana, dok?"
"Apa dia ada meminta sesuatu?"
"Dia minta hati sapi, dok. Teman saya sedang beli."
"Huh syukurlah. Ini wajar. Ngidam yang tak bisa dituruti kadang membuat badannya lemas. Saya pastikan ia akan pulih jika sudah mendapatkan keinginannya. Setelah ini, turuti saja apa yang ia mau. Terkadang ada kalanya seseorang mengidam yang merepotkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ⚠️
JugendliteraturSi puting menggoda yang menjadi incaran banyak orang tapi malah jatuh pada rivalnya sendiri yang menggilainya bahkan sejak mereka bertemu saat TK dulu. Banyak yang ingin mencelakakan dirinya apalagi saat orang-orang tau ia mempunyai hubungan dengan...
