Suasana pemakaman terasa begitu pilu. Jerit tangis dan tatapan tak terima beradu jadi satu. Tak ayal banyak yang tak rela dia pergi secepat itu.
Angin semilir dengan langit yang mendung seolah mengiringi hati mereka yang tengah berduka.
Tangis Calista paling pilu disana. Memeluk Bryan seolah mengadu ia tak rela dan minta dikembalikan. Tapi sayangnya gundukan tanah itu diam membisu dengan taburan mawar dan daun pandan. Batu nisan yang berdiri dengan 3 kata nama, bin sang ayah, tanggal lahirnya juga tanggal wafatnya. Yaitu hari ini.
Bryan menatap pilu. Bagaimana mungkin sakitnya saat orang tersayangnya meninggal disaat dia tak berada disampingnya. Bahkan belum sempat melihat wajahnya.
"Hiks... Sayang."
"Stt iya, Bun."
"Ajak nyokap lu balik, Yan. Udah mau ujan." Kata Bisma setengah berbisik.
Bryan mengangguk meski ia juga enggan meninggalkan makam itu.
”Bun. Pulang yuk."
"T-tapi hiks..."
"Ga papa, Bun. Pulang ya. Bisma antar. Bryan mau disini dulu bentar lagi."
Calista menghela napas lalu mengangguk. Bryan juga butuh waktu untuk menenangkan hatinya.
"Antar nyokap gw."
"Oke."
Calista berpindah memeluk lengan Bisma. Ia rasa akan tumbang jika tidak berpegangan.
Askar dan Reynan juga yang lainnya pun pergi. Meski dengan berat hati. Kehilangan seseorang untuk selamanya itu tak mudah untuk hati kecil manusia. Meski sok kuat, didalamnya menjerit keras menangisinya.
Bryan berjongkok. Mengelus nisan baru itu dengan senyaman getirnya. Matanya nampak merah meski ia enggan menangis lagi. Ia harus kuat.
"Tidur yang nyenyak ya. Bahagia disana. Udah ga ada sakit lagi. Disana banyak temen. Jangan lupa mampir dimimpi ya. Ibun pasti kangen banget. Kuatin kita ya lewat doa. Semoga kamu tenang disana."
Hujan tiba-tiba turun dengan deras. Bryan tak menghiraukannya. Tetap fokus untuk mengambil obat agar rasa rindu yang ia rasakan tak terlalu menyiksanya. Ia ingin lebih lama disana. Ingin lebih lama mendoakan yang terbaik untuknya.
Sampai 30 menit ia disana. Menikmati setiap tetesan air hujan yang turut berduka. Ini begitu menyakitkan sungguh.
"Aku pulang dulu ya. Aku bakal sering-sering jenguk. Jaga diri ya. Assalamualaikum."
Bryan berdiri. Aliran angin menjawab salam darinya sebelum kakinya melangkah meninggalkan makam itu. Menyisakan kuburan baru itu yang akan selamanya disana.
***
Bryan keluar dari ruang ujian. Bersamaan dengan teman-temannya.
Hari ini hari terakhir mereka ujian. 1 bulan penuh penyiksaan tak membuat mereka kalut.
Bahkan pihak sekolah sampai bingung dengan perubahan Bryan the cs yang biasanya malas-malasan kini justru menjadi over power saat menerima kertas ujian itu. Sungguh keajaiban.
Mereka semua langsung menaiki motor masing-masing dan bergegas pergi ke rumah sakit. Beramai-ramai.
Tak lama untuk mereka sampai. Mereka mencar ke 3 ruangan. Btw Dani dan Ganzi sudah bangun 1 Minggu setelah kejadian itu. Sementara Samudra masih betah dengan alam bawah sadarnya.
Cklek. Ruangan terbuka membuat yang didalam langsung menoleh. Calista berdiri dari duduknya. Ia yang menjaga Samudra dari pagi. Karena Reynan harus kuliah dan Askar harus kerja. Bryan juga sekolah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, sayang. Udah makan, nak?"
"Udah, Bun."
"Yaudah ibun pulang dulu ya. Nanti ibun kesini lagi bawa baju ganti buat kamu."
"Iya, Bun."
Calista mengecup pucuk kepala Bryan seraya tersenyum manis.
"Jangan sedih terus. Bantuin Raga yang lagi berjuang."
Bryan mengangguk. Kemudia membiarkan Calista pergi. Ia pun duduk di samping kekasihnya itu.
"Siang, cantik. Cantiknya Alex. Hidupnya Alex. Semestanya Alex. Masih lama hm perangnya? Semangat ya. Jangan nyerah. Alex tungguin disini. Jangan lama ya. Alex kangen."
Bryan meraih tangan itu kemudian mengecup telapak tangannya berkali-kali.
Hening. Bryan menatap fokus wajah yang kian menirus itu. Pipi gembilnya sudah hilang. Mata cerahnya meredup. Tapi dimata Bryan tetap cantik.
Ia tak pernah bosan menatap wajah manis itu. Yang justru menambah energi tubuhnya untuk selalu semangat menunggunya. Seringkali Bryan tidur disamping Samudra hanya untuk bisa mimpi indah. Kerap kali ia dihantui mimpi-mimpi yang demi tuhan dia tak ingin melihatnya seumur hidupnya.
"Ujian aku udah selesai. Nanti kalo kamu bangun, kamu harus lihat rapot aku. Biar kamu bangga aku bisa dapet nilai bagus kayak yang kamu minta. Minggu depan aku perpisahan. Aku harap hadiah yang kudapat dengan liat mata cantik kamu. Aku harap kamu bangun liat aku dimimbar pake toga. Aku mau foto kenang-kenangan nya sama kamu aja. Itu lebih berarti. Ya... Haha aku harap gitu ya, ay."
Bryan tersenyum tipis. Dalam hati selalu berdoa untuk perkembangan Samudra yang bahkan tak ada hasil sama sekali pasca Samudra dinyatakan koma. Dokter bilang pita suara Samudra rusak. Dan akan dilakukan operasi untuk mengembalikan suaranya. Tapi jika kondisi Samudra sudah memungkinkan.
Bryan berharap itu cepat terjadi. Ia ingin mendengar suara cantik itu memanggilnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ⚠️
Fiksi RemajaSi puting menggoda yang menjadi incaran banyak orang tapi malah jatuh pada rivalnya sendiri yang menggilainya bahkan sejak mereka bertemu saat TK dulu. Banyak yang ingin mencelakakan dirinya apalagi saat orang-orang tau ia mempunyai hubungan dengan...
