1 bulan terlewati dengan begitu berat. Samudra masih sering melamun dan tiba-tiba menangis membuat seisi rumah khawatir. Takut ia kenapa-napa. Seperti sekarang.
Leo pulang sekolah dan tak ada yang menyambutnya. Ia tau Bryan tengah bekerja sekarang. Dan ia tak tau bagaimana dengan Samudra. Ia berpapasan dengan Bi Ida yang membawa nampan makanan dan susu diatasnya.
"Eh Aden. Maaf Den bibi tadi ngambilin makanan buat mommy Aden. Jadi ga nyambut Aden pulang."
"Nggak papa kok, bi. Ngomong-ngomong ini udah jam 4 sore, Bi. Mommy belum makan siang?"
"Belum, Den. Siang tadi bibi udah bawain makanan. Tapi ga dimakan Den. Jadi ini Bibi buatin baru."
"Yaudah biar Leo aja Bi yang kasih ke Mommy. Sekalian Leo bujukin."
"Ini, den. Hati-hati den."
"Iya, Bi."
Leo menaiki tangga dan berhenti didepan pintu kamar orang tuanya. Ia mengetuk pintu sekilas tapi tak ada yang menjawabnya. Ia pun membukanya yang untungnya tak terkunci.
"Mom?"
Sekali lagi tak ada jawaban. Bisa ia lihat sosok mungil ditengah kasur yang tengah menatap figura 4 orang didalamnya. Waktu dirinya dan Lea masih bayi.
Leo menghela napasnya dan menutup pintunya. Menghampiri Samudra yang tersenyum tipis saat menyadari kedatangannya.
Leo meletakkan nampan itu diatas meja nakas kemudian melepaskan tas sekolahnya dan meletakkannya dilantai. Ia mengambil tangan Samudra dan mengecup punggung tangannya.
"Leo pulang, Mom. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, sayang." Samudra balik mengecup telapak tangan Leo lalu menempelkan tangan itu di pipinya. Biasanya Leo akan melihat lesung pipi jika sang Mommy tersenyum. Kali ini tidak. Karena Samudra hanya tersenyum tipis. Bahkan hampir tak terlihat lagi senyum manisnya.
"Leo suapin Mommy ya?"
Samudra menggeleng. Leo mengambil figura kecil itu dan menyembunyikan nya di balik punggungnya. Ia juga mengambil alih atensi Samudra agar fokus padanya.
"Mommy percaya sama Leo? Lea udah bahagia disana, Mom. Allah sayang sama Lea makanya Lea diambil lebih dulu. Lea pasti sedih Mommy terus kepikiran sampe kek gini. Leo disini, Mom. Mommy ga sendirian. Lea lihat Mommy dari atas."
Mata Samudra berkaca-kaca menatap lekat mata hitam legam milik sang putra. Melihat sebagaimana putranya itu menahan sakit yang teramat karena sikap pilih kasihnya kemarin. Bagaimana putranya berusaha agar saudarinya tak membencinya karena memberitahukan semuanya. Bagaimana putranya selalu menahan iri hati karena perlakuan mereka yang berbeda padanya. Samudra sangat merasa bersalah.
"Peluk."
Leo dengan senang hati membawa Samudra pada pelukannya. Berkali-kali ia mengecup kening itu agar Mommy nya berhenti bersedih.
"Maafin Mommy."
"Stt Mommy ga salah. Nggak perlu minta maaf."
"Nggak. Mommy salah, sayang. Maafin Mommy. Mommy bener-bener ga becus jadi ibu buat anak-anak Mommy. Maaf karena buat hati ini hancur. Maaf Mommy sering abai sama kamu, sayang. Maafin Mommy."
Leo diam. Dia sedikit masih sakit hati. Tapi rasa sayangnya menghapus semuanya.
"Iya. Leo maafin Mommy. Tapi janji sama Leo, Mommy jangan pernah sedih lagi. Mommy harus kuat. Masih ada Daddy dan Leo disini."
Samudra mengangguk cepat didada Leo. Membuat Leo tersenyum tipis karenanya.
Leo perlahan melepas pelukan Samudra. Menangkup pipi gembil itu yang nampak agak kurusan sedikit.
KAMU SEDANG MEMBACA
SAMUDRA ⚠️
Ficção AdolescenteSi puting menggoda yang menjadi incaran banyak orang tapi malah jatuh pada rivalnya sendiri yang menggilainya bahkan sejak mereka bertemu saat TK dulu. Banyak yang ingin mencelakakan dirinya apalagi saat orang-orang tau ia mempunyai hubungan dengan...
