Kelemahannya

12.2K 606 2
                                        

Samudra terbangun tengah malam. Ia merasakan tenggorokannya yang kering butuh air. Berdecak pelan saat tak menemukan air di kamar Dani.

Melihat sebentar ke2 temannya yang tidur nyenyak. Kasur Dani king size. Bisa memuat 4 orang dewasa. Dan ini posisinya Ganzi di dekat tembok, Dani di tengah dan ia di ujung nya. Menghela nafas pelan saat melihat tangan Dani yang memeluk erat tangan Ganzi seolah tak mau ditinggal. Dia kasihan pada temannya itu. Sungguh. Tapi ia juga tak bisa melaporkan jahatnya Tion pada keluarga Dani karena Dani melarangnya. Dani ingin mencoba kuat menghadapi Tion. Setidaknya 1 atau 2 bulan. Jika Tion sama sekali tak berubah, baru ia akan menceritakan semuanya pada keluarganya. Tapi untuk sekarang Dani masih takut dan mau mereka menemaninya. Setidaknya sampai luka-luka yang sekarang sembuh dulu.

Samudra turun dari kasur Dani. Kemudian melangkah keluar untuk menuju dapur.

Remang lampu membuatnya menyipitkan matanya. Samudra itu bukan penakut, tapi dia kagetan. Sama seperti Ganzi. Kalau Dani penakut tapi sok berani. Denger petir nangis.

Telinganya masih mendengar ribut-ribut disana. Benar dugaannya jika Bryan dan teman-temannya itu begadang semalaman.

Memilih tak peduli, Samudra melanjutkan langkahnya ke dapur. Mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin di dispenser.

"Ngapain?"

"Astaghfirullah!!"

Ctar!!

Pecah sudah gelas itu. Samudra menatap nyalang remaja dibelakangnya.

"Lu tuh bisa ga sih kalo muncul jangan kek setan! Anjing lu ye!"

Bryan terdiam. Dia juga tadinya ingin membuat kopi. Padahal tadi ia tak melihat Samudra berjalan ke dapur. Jadi ia bertanya.

"Aishh! Nyingkir dah lu!"

Samudra membuka kemeja yang ia kenakan hingga menyisakan kaos putihnya. Ia perlahan mengambili pecahan gelas itu dan ia letakkan diatas kemejanya yang sudah dilebarkan di lantai. Bryan hanya memperhatikannya. Dia ingin membantu, tapi lebih pentingin gengsi.

Orang normalnya nyimpen beling tuh hanya di plastik biasa. Tapi ternyata Samudra sepeduli itu pada lingkungannya. Dia tak ingin menyakiti yang mengambil beling itu nantinya.

Setelah selesai, Samudra melipat-lipat kemejanya dan ia masukkan kedalam plastik hingga 3 lapisan. Jadi aman jika di pegang. Lalu baru ia masukkan kedalam tong sampah.

Mata Bryan fokus pada jari Samudra yang menetes darah. Bahkan disaat luka sedikit itu Samudra tak mengeluarkan rintihan. Ya dia tau hanya luka kecil. Tapi normalnya orang kalau kena beling pasti mengaduh meski sebentar.

"Lu sebenarnya mau ngapain sih? Sumpeg gw liat lu kek patung gitu."

Samudra mengambil gelas baru. Dan menelan banyak air hingga tenggorokannya segar kembali. Bryan hanya bisa menelan ludahnya melihat bagian dada Samudra yang tercetak jelas. Oh tidak. Ia kembali tergoda.

"E-em... Itu jari lu." Gumamnya. Samudra menatap jarinya.

"Luka kecil." Katanya lalu membilas tangannya. Setelahnya mengibas-ibaskannya hingga menciprat airnya.

"Ahh..."

'Anjing makek ngedesah segala.' Batin Bryan.

Sementara Samudra mencoba meredakan sensitif nya di putingnya yang tak sengaja terkena cipratan air. Itu benar-benar tak tertolong jika tersentuh sesuatu meski hanya air.

Tidak. Bryan tidak kuat melihat wajah manis itu langsung memerah.

"Ahh! Mphh!"

Bryan otomatis membekap mulut Samudra karena desahannya yang terlalu kuat lalu ia menariknya menuju ruangan disamping dapur. Untungnya tak terkunci. Samudra terseret dengan berjalan mundur karena dengan brengseknya Bryan malah meremas dadanya membuatnya lemas.

Setelah masuk, Bryan menutup pintunya dan mengunci pergerakan Samudra dengan kedua tangannya.

"Lu sengaja ya?"

"Se-sengaja apa, bangsat!"

"Lu sengaja ngegoda gw?"

"H-hah ahhh, b-brengsek!" Ucapnya patah-patah karena Bryan menggerakkan jari jempolnya diatas puting kirinya.

"Oh ternyata sensitif banget ya?" Bryan menyeringai. Dia tau kelemahan Samudra sekarang.

"Emhh... Ja-jangan..."

Tangan Samudra mencegah tangan Bryan yang masuk kedalam kaosnya membuatnya menggelinjang kuat.

Tapi Bryan tuli mendadak. Hatinya begitu senang melihat Samudra lemas begini didepannya hanya karena ia menyentuh puting mencuatnya.

Karena tak tahan, Bryan langsung memasukkan kepalanya pada kaos Samudra dan menyedot habis puting kanan itu.

"Ahsss nghh! Emmhh..."

Kaki Samudra lemas hingga membuatnya menyusut turun. Tapi Bryan tak menghentikan kegiatannya sampai Samudra benar-benar terduduk dan ia ikut duduk masih dengan aktivitas nya.

Bryan tersenyum tampan. Nikmat sekali ia dengan puting menggoda itu. Akhirnya ia tak perlu membayangkan lagi karena sekarang benda yang selalu membuatnya menelan ludah kasar sekarang ada di dalam mulutnya.

Dengan jahilnya Bryan menggunakan lidahnya membuat Samudra semakin tak karuan.

"B-be-berhenti ahh nghhh..." tangan lemas Samudra mencoba menarik kepala Bryan. Tapi tak sanggup.

Sampai 10 menit hingga Samudra benar-benar lemas tak tertolong baru Bryan berhenti dan mengeluarkan kepalanya. Ia menatap wajah sayu dengan napas memburu itu yang juga menatapnya.

"U-udahh hiks..."

Ya Tuhan. Samudra sampai menangis hanya karena ia mempermainkan benda sensitif nya itu.

"Jawab jujur pertanyaan gw." Samudra mengangguk lirih. Menurut.

"Pas di pesta Dani. Di kamar mandi. Gw ngapain lu?"

Samudra terdiam sejenak. Tapi meringis karena masih ngilu karena liur Bryan yang masih ia rasakan di putingnya.

"Jawab."

"C-cium."

"Cium apa? Bibir?"

Samudra mengangguk.

"First kiss lu bukan?" Samudra mengangguk lagi membuat Bryan tersenyum jahat didalam hatinya. Senang bukan main ia yang mendapatkan first kiss milik Samudra.

"Ada lagi?"

"Mm... Cupang."

"Bikin berapa gw?"

"Satu."

"Apa bener Lala tidur lu gendong?" Samudra mengangguk.

"Oke udah."

"Ya-yaudah lepasin gw." Kata Samudra yang masih dihimpit Bryan disana.

"Gw kan waktu kemarin ga sadar ngambil first kiss lu tuh. Jadi kan gw ga tau rasanya. Jadi..."

"Jangan macem-macem lu!!" Kesal Samudra. Dia tau maksud terselubung yang Bryan maksudkan.

"Macemnya satu doang kok."

"G... mphhh!!"

Samudra refleks memukul-mukul pundak dan bahu Bryan karena remaja itu sampai menekan kepalanya ke tembok untuk memperdalam ciumannya.

Tapi Bryan lebih memilih menikmati manis bibir Cherry itu. Begitu kenyal dan lembut. Dengan sengaja Bryan menekan puting kiri Samudra hingga membuat remaja dibawahnya mendesah kencang hingga mulutnya terbuka dan Bryan langsung melesakkan lidahnya.

Ini benar-benar Samudra tak bisa bergerak sama sekali. Karena posisi yang memang susah dan kondisi tubuh Samudra yang lemas. Bryan benar-benar brengsek. Dia tau sekarang kelemahannya. Jadi kedepannya Samudra harus lebih hati-hati dengan remaja gila ini.

4 menit.

"Puahh! Hah hah hah..."

Samudra menarik napas dalam-dalam dan meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. Membuat Bryan tertawa pelan melihat wajah menggemaskan itu.

Sepertinya bibir dan puting ini akan menjadi favoritnya mulai dari sekarang. Tak peduli nantinya akan jadi bagaimana, Bryan bertekad akan mendapatkan Samudra bagaimanapun caranya.

***

SAMUDRA ⚠️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang