Tanpa banyak basa-basi dan memikirkan hal yang tidak pasti. Youra segera pergi ke ruang keluarga, di sana terlihat ada Ibu yang tengah menonton televisi dengan di temani teh hangat di depannya. Ayah masih berada di tempat kerjanya, karena belakangan ini ia tengah lembur terus-menerus.
"Ibu!" panggil Youra dengan sedikit berteriak.
Ibu terkejut dan refleks menatap ke arah di mana anaknya berdiri."Ada apa sih, sayang?" tanya Ibu.
Youra menghampiri Ibu. "Bu, kira-kira kalo ada temen yang bilang 'aku butuh kamu' itu dia beneran bilang gitu atau lagi bercanda ya, Bu?" tanya Youra.
"Ya Allah, Nak, Ibu kira kenapa," jawab Ibu. "Mungkin aja dia emang beneran butuh kamu, dan mungkin aja dia lagi ada masalah. Coba kamu tanya dia kenapa."
Youra tampak menimang-nimang apa yang dikatakan oleh Ibu, menurutnya itu ada benarnya juga. "Dia juga ada telepon tadi, Bu. Tapi gak sempat Youra angkat, tadi Youra lagi di kamar mandi," ucap Youra lagi.
"Nah! Berarti dia emang lagi butuh kamu," jawab Ibu dengan pasti.
Tok... Tok... Tok...
Youra yang tengah berada di ujung kebingungannya itu pun terbuyarkan oleh suara ketukan pintu depan rumahnya. Youra dan Ibu saling menatap. "Mungkin Ayah mu sudah pulang. Bukain pintunya sana," perintah Ibu.
Youra pun menuruti perintah Ibunya, dan pergi ke depan siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini. Mana hujan deras lagi.
Youra mengulurkan tangan kanannya dan membuka pintu melihat siapa yang datang. "Si—" Belum juga Youra melanjutkan ucapannya, seseorang sudah langsung memeluknya dengan erat.
Youra yang mendapatkan pergerakkan itu secara tiba-tiba, hanya bisa diam menahan nafasnya. Kemudian detik berikutnya ia menepuk-nepuk pelan pundak orang tersebut, membalas pelukannya.
***
Hangat, nyaman, tenang. Itulah yang Lio rasakan. Entah apa yang telah ia lakukan kini, yang pasti setelah ia memeluk Youra segala pikiran tadi yang mengganggunya seketika hilang, lenyap, dan tergantikan dengan rasa yang benar-benar belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tak bisa menjelaskannya dengan sebuah kalimat maupun ucapan, itu hanya bisa dijelaskan dengan perasaan.
Youra mencoba melepaskan pelukannya setelah beberapa detik, namun Lio menahannya. "Biarin gini dulu. Gue lagi butuh lo," ucap Lio, kemudian Youra tetap membiarkannya hingga Lio merasa lebih tenang.
"Eh, Lio? Kenapa gak masuk aja?" Ibu datang secara tiba-tiba, kemudian keduanya melepaskan pelukannya. Sontak dengan kehadiran Ibu itu membuat keduanya menjadi kikuk.
"E-eh, i-iya, Bu," jawab Lio dengan terbata-bata.
"Kamu basah kuyup gitu loh," ucap Ibu. "Yuk masuk dulu." Ibu mengajak keduanya masuk ke dalam rumah, dengan mereka berdua yang mengekori Ibu dari belakang.
"Nih handuknya." Ibu memberikan handuk itu pada Lio. "Kamu mandi gih, nanti Ibu suruh Youra buat siapin baju yang pas buat kamu." Setelahnya Ibu kembali pergi. Lio pun mengangguk dan menerima handuk dari Ibu, kemudian masuk ke dalam kamar mandi di sana.
Sedangkan di sisi lain, Youra sudah masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaian karena dirinya juga ikut basah setelah Lio memeluknya.
Ibu mengetuk pintu kamar Youra. "Sayang, nanti siapin baju buat Lio, ya. Kasian dia nanti kedinginan," ucap Ibu. "Iya, Bu," jawab Youra dari dalam kamarnya.
Setelahnya Ibu kembali ke ruang keluarga dan menonton televisi yang sempat ia tinggalkan.
Youra mengganti pakaiannya dengan baju kaus pendek berwarna hijau tosca dan celana pendek putihnya, keluar dari dalam kamar dengan menenteng sweater merah dan celana hitam panjang di tangan kanannya.
"Ibu, ini baju buat Lio." Youra memberikan sweater dan celana tersebut pada Ibu, setelah ia menghampiri Ibunya.
"Makasi ya, Sayang." Ibu lantas menerimanya, dan Youra hanya menganggukkan kepalanya saja.
Kemudian Ibu pergi ke kamar mandi tamu untuk memberikan baju tersebut pada Lio. "Lio? Sayang? Ini bajunya ya, kamu pakai." Ibu mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu.
Lio membuka pintu tersebut, dan hanya mengulurkan tangan kanannya saja keluar dari dalam kamar mandi. "Makasi ya, Bu," ucap Lio setelah menerimanya. "Sama-sama."
Setelahnya, Ibu menghampiri Youra yang sedang memakan cemilan sambil menonton televisi. Namun setelah Ibu perhatikan lagi, anaknya itu tidak sedang benar-benar menonton televisi. Matanya memang tertuju pada televisi, namun entah pikirannya tertuju pada apa.
"Sayang?" panggil Ibu. Youra terperanjat, setelah Ibu memanggilnya. "Kenapa, Bu?" tanya Youra.
"Ibu kenapa? Harusnya Ibu yang tanya kamu kenapa?" Ibu mencoba menggali sesuatu dari apa yang disembunyikan oleh anaknya itu.
Youra hanya menggeleng dan tersenyum penuh paksaan tercetak pada wajahnya. Ibu yang melihat anaknya itu pun hanya bisa tersenyum kembali dan diam saja hingga nanti anaknya yang mau memberitahunya sendiri.
Lio keluar dari dalam kamar mandi setelah ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di berikan oleh Ibu tadi. "Sini, Nak. Duduk." Ibu mengajak Lio untuk ikut bersamanya dan Youra. Lio pun mengangguk dan duduk di samping Youra, ikut menonton telivisi yang sedang disiarkan.
Ibu menatap ke arah Lio dan juga Youra, keduanya hanya diam dengan isi pikirannya masing-masing. Biasanya Ibu melihat kedua anak remaja di depannya ini saling bertengkar dan berisik seperti anak kecil. Namun kini yang ia lihat adalah kedua remaja yang perlahan mulai tumbuh dewasa, dengan tak ingin menceritakan masalah mereka pada orang tuanya.
"AYAH DATANG!!" teriak Ayah dengan semangat memasuki ruang keluarga, yang sebelumnya ia melihat istri dan anaknya sedang menonton televisi.
Youra dan Ibu menatap ke arah Ayah, dan Ayah pun begitu. Namun Ayah menatap ke arah Lio. Di sana ada satu makhluk lagi yang sedang menatapnya balik. "Ada, Nak Lio," ucap Ayah, dan Lio hanya mengangguk kemudian tersenyum.
"Ayah bawain sekoteng, kebetulan lagi ujan gini jadi enak anget-anget, ucap Ayah.
Ayah menyerahkan sekantung plastik hitam itu pada Ibu. "Ibu tolong masukin ke mangkuk ya," ucap Ayah lagi yang kemudian Ibu menerima itu dan pergi ke dapur.
"Ayah mau ganti baju dulu ya," pamit Ayah pada Youra juga Lio dan segera pergi ke dalam kamar mengganti pakaiannya.
Setelah Ayah pergi, Youra dan Lio hanya bisa diam tak saling bicara. Keduanya masih merasakan kecanggungan karena kejadian tadi.
"Maaf ya tadi gue asal peluk lo gitu aja. Gue udah lancang." Akhirnya Lio yang membuka keheningan itu dengan permintaan maafnya.
Youra mengangguk. "Iya gak-papa," jawabnya dengan singkat
Kemudian keheningan pun kembali melanda dalam ruangan tersebut, dan hanya menyisihkan suara obrolan dari televisi yang menyala.
Tak lama kemudian Ibu kembali dengan nampan yang berisi empat mangkuk sekoteng yang ia bawa. Youra yang melihat Ibunya membawa nampan itu pun menghampiri Ibunya untuk membantu. "Sudah gak usah, Sayang. Ibu bisa kok bawanya," ucap Ibu.
Lio dengan peka, menggeser meja yang ada ruang keluarga itu pun agak ke tengah, agar mereka dapat duduk dengan nyaman bersama. Ibu yang melihat kecekatan Lio pun tersenyum. "Makasi, ya." Ibu tersenyum pada Lio. Ibu pun meletakkan keempat mangkuk itu satu per satu dengan di bantu oleh Youra.
Tak lama Ayah keluar dari dalam kamar setelah ia mengganti pakaiannya. Keempatnya duduk lesehan sambil menonton televisi. "Waaahh. Makasih, ya, Bu." Ayah duduk di samping istrinya itu.
"Lio suka sama sekotengnya, 'kan?" tanya Ibu, yang di balas dengan anggukan dan senyuman manis dari Lio. "Suka, Bu," jawabnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Me!
Dla nastolatkówAku Youra, Youra Chrysanthemum. Ini kisah ku dengan seseorang yang bernama Darelio. Aku diam-diam menyukainya, yang entah akan berapa lama rasa ini akan bertahan di dalam hubungan pertemanan ini. Aku tak tahu, ia merasakan hal yang sama atau tidak...
