Mampukah Cinta Hadir?

6 4 0
                                        

Setelah pulang dari Gramedia, Youra hanya diam saja sepanjang jalan hingga ia masuk ke dalam rumah. Daiva yang paham akan apa yang tengah di pikirkan oleh temannya ini pun hanya diam saja, takut jika ia akan mengeluarkan kata yang seharusnya tak ia katakan.

"Makasih, ya udah anter gue ke gramed, kapan-kapan gue traktir," ucap Youra setelah ia turun dari motor Scoopy hitam milik Daiva.

Daiva pun tersenyum dengan anggukan kepala. "Santai," ucapnya. "Gih sana masuk," ucap Daiva lagi.

"Iya gue masuk. Lo hati-hati ya di jalannya," pesan Youra.

"Iya. Yang tadi gak usah di pikirin. Besok ada ulangan harian bahasa Indonesia," ucap Daiva mengingatkan Youra. Youra pun mengangguk, kemudian Daiva pergi dengan motor miliknya meninggalkan pekarangan rumah Youra.

Youra memasuki rumahnya dengan lesu. Ia mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah dan melihat Ibunya yang tengah sibuk dengan bunga-bunga yang ada di halaman belakang rumahnya itu.

Youra langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Beberapa menit kemudian ia bangun dari tidurnya dan berniat untuk mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian santainya.

Ia duduk pada kursi yang berhadapan dengan meja belajarnya. Ia mengambil ponsel miliknya, kemudian memutar lagu yang berjudul 'Life Goes On-BTS'. Ia mengambil buku diary miliknya dengan di temani oleh lagu tersebut ia menuliskan sesuatu pada buku diary miliknya itu.

Mampukah Cinta Hadir?

Tulisnya dengan memulai kalimat tersebut pada barisan paling atas pada lembar halaman buku diary miliknya itu.

Mampukah Cinta Hadir?

Di secarik kertas yang suci ini, ku luapkan semua rasa di hati
Diiringi dengan suara alunan musik, pena ini menari-nari tanpa henti
Menuliskan kata demi kata untuk menciptakan sebuah makna akan cinta
Namun juga terselip kan kata luka dan duka diantara kata bahagia

Menciptakan sejuta rasa akan cinta diantara luka
Membuatku terpaku akan perasaan yang membingungkan ini
Namun entah mengapa aku merasa candu dan selalu menginginkannya
Membiarkan rasa ini terombang-ambing dalam lautan cinta dalam hati

Entah berapa kata atau kalimat lagi aku tuliskan
Entah berapa banyak lagi tinta hitam ini harus aku habiskan
Entah berapa malam lagi aku harus tersendiri dalam lamunan
Dan entah berapa lama lagi aku harus bertahan dalam keterpurukan

Mampukah cinta hadir?
Ah, membayangkannya saja sudah membuatku terlena
Namun, bagaimana jika kisah ini berakhir?
Aku harap tidak, karena kekuatan cinta mempu merubah segalanya

Youra Chrysanthemum
29 November 2021

Ia mengakhiri puisinya itu dengan nama dan tanggal di buatnya puisi tersebut. Ia menghembuskan nafas kasarnya saat setelah ia selesai dengan tulisannya. Ia benar-benar bingung dengan perasaannya, namun dengan sikap Lio yang seperti itu padanya bukannya itu lebih membingungkan lagi untuk Youra?

Entah lah. Youra memutuskan untuk tidur saja, karena sudah lelah ia berjalan-jalan di Gramedia namun pulang dengan tangan kosong, karena ia memergoki Lio tengah berduaan bersama dengan Zhya.

Youra bangun dari duduknya dengan tangan kanannya yang membawa ponsel, kemudian ia letakkan tak jauh darinya yang tengah duduk di samping kasur miliknya.

Ting!

Sebuah pesan masuk pada ponselnya yang tergeletak di samping kirinya. Youra pun segera melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya. Terpampang dengan jelas nama 'Darelio' lah yang muncul pada notifikasi tersebut.

Darelio

Udah tidur?

Blm

Tumben balas nya singkat?

Gpp

Lagi gak mood?

Iya

Kenapa? Lagi datang bulan?

Gak

Gue ada salah kah?

Gak tuh

Oh gue tau
Gue ada salah
Jadi, apa kesalahan gue?

/Read

Youra langsung mematikan data ponselnya dan memejamkan matanya untuk tidur. Daripada ia memikirkan hal yang membuatnya sakit hati, bukankah tidur lebih baik dari itu? Kalimat itulah yang akan Youra pikirkan saat ada sesuatu yang membuatnya sakit hati.
***

Terlihat dari ujung koridor, Lio tengah berdiri bersandar pada tembok depan pintu kelas X-MPLB2, yang tak lain dan tak bukan itu adalah kelas Youra.

Youra berhenti sejenak di ujung koridor itu, kakinya yang bingung akan mengikuti apa kata hatinya atau pikirannya. Ia menggigit jari telunjuknya takut jika ia terus saja berjalan ke kelas, ia akan luluh oleh bujukan dari Lio. Dan jika ia tak ke dalam kelas, bagaimana ia akan memulai kelas? Apakah ia akan bolos?

Akhirnya Youra memutuskan mengikuti apa kata pikirannya yang terus berjalan ke dalam kelas, apapun yang terjadi ia akan melewatinya tanpa harus menghindar. Toh, yang salah juga Lio bukan dia.

Lio yang melihat Youra mulai mendekat pun berdiri dengan tegak. "Ra, gue ada salah apa sama lo? Perasaan kemarin lo waktu di pasar malam masih kayak biasanya, tapi kok sekarang gini?" tanya Lio dengan wajahnya  yang menunjukkan rasa gelisah nya.

Youra menatap Lio dengan dingin. "Pikir aja sendiri!" ucapnya kemudian masuk ke dalam kelas, meninggalkan Lio dengan wajahnya yang melongo.

"Ra, maafin gue ya," ucap Lio yang terus mengekori Youra dan duduk pada meja yang ada di depan Youra. "Beli es krim coklat deh nanti siang sepuas lo," ucap Lio dengan jurus andalannya.

Youra sudah hampir luluh dengan bujukan dari Lio, namun dia segera menepis pikirannya itu. "Emangnya gue anak kecil apa yang bisa di sogok sama es krim?!" bentak Youra, kemudian ia kembali meninggalkan Lio di dalam kelas sendiri.

Daiva muncul dari arah belakang Lio kemudian menepuk pundak Lio dua kali. "Makanya jadi cowok itu jangan suka selingkuh," ucapnya yang kemudian ikut pergi mengekori Youra yang sudah ada di depan kelas.

Lio mengernyit keningnya, heran. "Gue? Selingkuh? Sama siapa? Kapan?" gumam Lio, yang kemudian ia memasukkan puding coklat titipan dari Mama nya untuk Youra ke dalam kolong meja Youra, dengan sepucuk surat yang ada di atasnya. Setelahnya, Lio meninggalkan kelas Youra menuju kampus dua.
***

"Ra, menurut gue sih, ya lo lebih baik tanya ke Lio kalo Zhya itu siapanya dia. Biar jelas juga, 'kan, dan lo gak uring-uringan gini." Daiva mengusulkan hal tersebut, dengan mencuci tangan pada wastafel.

Youra menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Tapi Va, kalo gue tanya nanti gue malu dong, gue siapanya dia harus tanya-tanya gitu ke dia," jawab Youra yang tak setuju dengan usulan dari temannya ini.

"Ya lo pake alesan kalo si Zhya itu ada chat lo!" Daiva kembali memberikan usulan yang ada benarnya juga.

Youra kemudian tersenyum. "Ada untungnya juga gue temenan sama anak pinter kayak lo!" ujar Youra. "Eh tapi gue masih diemin dia, gue masih pengen liat dia bakal gimana buat bujuk gue," ucap Youra dengan pede-nya.

"Se-pede itu lo, Ra?" tanya Daiva.

"Ah lo mah mematahkan semangat dan ke pede-an gue, Va!" ujar Youra sok memelas.

"Ah udah lah, yuk ke kelas," ajak Daiva. Setelahnya mereka kembali ke dalam kelas.

It's Me!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang