Pada malam hari ini Youra cukup menyibukkan dirinya sendiri dengan menulis beberapa kalimat di dalam buku diary miliknya. Sedari tadi ia tampak gelisah, entah apa yang tengah ia pikirkan.
Dengan di temani oleh suara iringan musik dari lagu BTS yang ia putar pada ponselnya, ia menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam.
Youra pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih di dalam kulkas. Ia kembali teringat akan seorang gadis yang telah menghubungi dirinya saat sore tadi. "Zhya?" gumam Youra saat tangan kanannya memegang gelas yang sudah ia isi dengan air putih.
Youra menggelengkan kepalanya berharap ia dapat melupakan hal tersebut, ia meneguk air putih itu dan perasaan lega menghampirinya. Ia kembali ke dalam kamar dan membuka kembali room chat dirinya dan seorang gadis bernama Zhya.
+62** *** *** ***
Hai, saya Zhya
Saya cewek yang akan di jodohkan dengan Lio
Kedua orang tua kami juga sudah saling mengenal dan setuju
Tadi pada saat saya dan Lio berdua, kamu terus saja mengganggu waktu kami berdua
Saya harap kamu segera menjauh dari Lio
Saat setelah Youra membacanya kembali, ia menelungkupkan kepalanya pada meja belajar di dalam kamarnya itu. Entah perasaan apa yang tengah melandanya kali ini. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia benar-benar bingung akan situasi kali ini.
Zero O'clock-BTS
Geureon nal itjana
Iyu eopsi seulpeun nal
Momeun mugeopgo
Na ppaegon modu da
Bappeugo chiyeolhae boineun nal
Balgeoreumi tteoreojijil ana
Beolsseo neujeun geot gateunde mallya
On sesangi yalmimne
Saat lagu BTS yang berjudul 'Zero O'clock' itu berputar, Youra lantas meringis. "Shibal, kenapa harus lagu ini yang tiba-tiba ke putar, sih?" gerutunya.
Namun di balik gerutunya itu, ia juga menikmati lagu tersebut. Yang di mana ia sebelumnya merasa bingung akan situasi itu, kali ini ia langsung paham apa yang di maksud oleh Zhya yang katanya gadis yang akan di jodohkan dengan Lio.
Ia paham bahwasanya ia harus menjauh dari Lio, ia harus menjaga jarak dari Lio, dan ia tidak boleh mengganggu waktu Lio pada saat Lio dengan Zhya. Namun di balik itu semua, ia juga tetap bingung akan perasaannya yang terus berkecamuk di dalam dadanya. Ia tak tahu perasaan apa yang telah membuatnya itu merasa sakit, yang padahal ia tak ada hubungan istimewa apapun bersama dengan Lio. Seharusnya ia bahagia dengan kabar tersebut, tapi ini ia merasakan hal yang sebaliknya.
Youra menggelengkan kepalanya untuk melupakan itu dan pergi tidur karena waktu terus berjalan yang semakin larut malam. Youra pergi ke atas kasurnya dan menarik selimut berwarna ungu lavender itu untuk menutupi tubuhnya yang lelah, karena telah beraktivitas seharian penuh.
Youra mencoba untuk menutup matanya, namun entah mengapa pikirannya itu terus berkeliaran kesana-kemari tak ingin diam dan menuruti perintahnya untuk tidur. Tubuhnya sungguh sangat lelah, namun pikirannya tak ingin bekerjasama dengannya untuk beristirahat bersama dengan tubuh lelahnya.
Youra meraih ponselnya yang ada di samping kasur itu. Ia mengetikkan sesuatu pada layar ponsel itu, dan terkirim!
Darelio
Udah tidur?
Setelahnya ia kembali mematikan ponsel itu dan menaruhnya kembali di samping tubuhnya.
Ting!
Ting!
Ponsel nya berbunyi, tanda adanya notifikasi yang masuk pada ponsel nya itu. Youra kembali meraih ponsel tersebut, dan tanpa di duga bahwa itu adalah notifikasi dan balasan dari Lio. "Kenapa dia belum tidur, ya?" batinnya.
Darelio
Belum
Kenapa?
Saat Youra akan membalas kembali pesan yang di kirim oleh Lio, secara tiba-tiba dan tanpa adanya persetujuan dari Youra, Lio menghubungi Youra secara sepihak.
Youra terperanjat dan seketika duduk bersandar pada ranjang kasur miliknya. Ia menetralkan suaranya untuk mengucapkan kata 'halo' pada sambungan telepon Lio.
"Halo?" ucap Youra setelah ia mengangkat sambungan telepon dari Lio.
"Lama banget angkat teleponnya?" Lio langsung memberikan pertanyaan tersebut, yang mampu membuat Youra tak berkutik.
"E-eum, tadi lagi di toilet," jawab Youra dengan terbata-bata.
"Toilet? Bukannya tadi lagi mengetik, ya? Atau yang tadi mengetik itu hantu?" Lagi dan lagi Youra diam tak dapat menjawabnya.
"Kenapa telepon?" tanya Youra mengalihkan pembicaraan.
"Gak-papa. Pengen aja. Emangnya gak boleh, ya?"
"Ya boleh aja. Tapi jangan mendadak gini."
"Mendadak gimana? Bukannya emang tadi yang chat duluan lo?"
"Ya udah kalo gitu, gue tutup ya sambungannya. Gue ngantuk, mau tidur."
"Bentar."
Youra mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Gak-papa. Tutup aja."
Setelah mendapat persetujuan dari Lio, Youra langsung menutup sambungan telepon tersebut secara sepihak.
***
Di sisi lain, Lio hanya bisa mendengar kata 'Tut... Tut... Tut...' setelah Youra memutuskan sambungan telepon mereka berdua.
Lio kini tengah duduk di lantai yang dingin, dengan bersandar pada ranjang kasur miliknya. Keadaannya kini terlihat sangat kacau, setelah apa yang terjadi tadi sore.
Pikirannya kembali berputar pada saat ia baru saja tiba dan masuk ke dalam rumahnya. Begitu ia masuk, ia melihat ada Papanya yang tengah duduk di sofa dengan di temani oleh secangkir kopi dan laptopnya yang menyala.
Lio berjalan begitu saja tanpa memperdulikan Papanya yang tengah duduk itu. "Zhya nya mana?" tanya Papa dengan ketus.
Lio memutar bola matanya malas. "Pulang." Lio menjawab dengan singkat.
"Kamu tinggalin dia di bioskop sendirian?" Lagi dan lagi Papanya bertanya perihal Zhya.
"Lio ada urusan." Lio kembali menjawab Papanya itu dengan singkat.
"Kenapa gak kamu anterin dulu ke rumahnya?"
"Lio udah bilang buat pulang sama ojol dulu."
"Tapi dia perempuan, Lio! Sudah sore pula!" bentak Papa, yang sudah tersulut emosi.
"Emangnya kenapa kalo dia perempuan? Dia ada ponsel buat hubungin Papanya, dia juga udah Lio bilangin buat pulang sama ojol."
Papa bangun dari duduknya dan menghampiri anaknya yang tengah berdiri itu. "Lio! Dia anak dari teman Papa!"
"Apa peduli Papa?"
PLAK!
Tanpa pikir panjang lagi, tangan Papa terulur menampar pipi kiri Lio. Sorot matanya yang sudah penuh dengan gejolak emosi di dalam dirinya. Lio yang mendapatkan tamparan tersebut, hanya bisa diam dengan tangannya yang menutupi bekas merah di pipinya, dan merasakan kebas juga perih pada pipi kirinya itu.
Lio menatap ke arah Papa yang sudah menamparnya itu. Ia tak percaya akan tindakan yang di lakukan oleh Papanya itu. Entah apa salahnya, dan apa yang sebenarnya yang sudah menekan diri Papanya itu, sehingga ia berani untuk menampar anak satu-satunya itu.
Lio pergi meninggalkan Papa yang masih diam di tempatnya, ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamar miliknya itu. Lio melempar tas ransel hitam miliknya pada sembarang tempat, dan duduk di lantai yang dingin itu.
Keheningan, kesunyian, kebencian, dan sorot matanya yang tajam menatap ke arah depan, dengan pikirannya yang melayang-layang pada adegan tadi yang terus berputar-putar di pikirannya.
Dirinya yang hanya diam, dan termenung tanpa adanya pikiran untuk melakukan apapun kali ini. Ia benar-benar hanya diam hingga larut malam, dan notifikasi di dalam ponselnya yang membuyarkan lamunannya.
Ia tersenyum simpul dengan membaca nama siapa yang tertera pada notifikasi di dalam ponselnya itu. Dan segera ia membuka pesan tersebut, juga membalasnya dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Me!
Teen FictionAku Youra, Youra Chrysanthemum. Ini kisah ku dengan seseorang yang bernama Darelio. Aku diam-diam menyukainya, yang entah akan berapa lama rasa ini akan bertahan di dalam hubungan pertemanan ini. Aku tak tahu, ia merasakan hal yang sama atau tidak...
