"Bian!!"
Seorang gadis berteriak senang memanggil nama laki-laki yang tengah duduk di atas motornya. Yang dipanggil sontak menoleh dan tersenyum tipis menyambutnya. Seolah ada perasaan mengganjal saat melihat kehadiran gadis itu.
"Jadi kan nemenin aku belajar di rumah hari ini?"
Bian tak menjawab, ia terlebih dahulu menyerahkan sebuah helm kepada gadis itu. "Pake ini dulu, takutnya nanti lupa."
"Tapi jadi kan, nemenin aku belajar?" Tanyanya memastikan sekali lagi.
"Iya, langsung ke rumah kamu kan?"
"He em, tenang aja Gerald lagi gak di rumah. Lagi main di rumah temennya." Jawab Raina tanpa Bian menanyakan.
Bian menyeringai di balik helm fullface yang dipakainya. Baguslah, itu artinya ia bisa menyelinap untuk mengambil flashdisk yang ia cari-cari.
Tanpa berbasa-basi lagi, Bian dan Raina berboncengan menuju tempat tinggal Raina. Sepanjang perjalanan Bian mendengarkan ocehan Raina yang tiada habisnya, meski telinga sebelah kirinya terpasang earphone yang membuatnya tidak bisa mendengar perkataan Raina sepenuhnya.
Bian beralasan sedang fokus mengendarai motor, makanya ia tidak bisa terus-terusan membalas perkataan Raina yang bisa membuat fokusnya terpecah. Raina menurut saja, ia bercerita banyak hal tanpa harus ditanggapi oleh Bian.
Namun, Bian tak mendengar jikalau sedari tadi ponselnya terus-terusan berbunyi. Ada puluhan notifikasi panggilan telepon dan pesan-pesan yang belum sempat Bian baca.
Perjalanan sepuluh menit itu mengantarkan mereka berdua ke depan rumah Raina. Melepas helm yang dipakainya, Raina turun dari motor Bian dan menyerahkan helm itu kembali kepada Bian.
Bian menaruh motornya di bagasi rumah Raina, lalu keduanya berjalan bersama menuju ruang keluarga dimana mereka akan belajar bersama.
"Tunggu sebentar ya, aku mau ganti baju dulu sama ambil buku-buku yang mau buat belajar." Titah Raina yang dibalas anggukan kepala oleh Bian.
Saat-saat kepergian Raina, Bian menelisik sudut-sudut ruangan. Bian mewaspadai adanya CCTV di ruangan itu.
"Aman, disini gak ada CCTV." Batin Bian lega.
Gerald, saudara kembar Raina juga sedang berada di luar. Itu artinya Bian bisa leluasa melancarkan aksinya. Meskipun sedikit kemungkinan akan berhasil, namun Bian akan tetap berusaha.
Usaha pertama yang akan ia lakukan adalah Bian menyemprotkan parfum ke arah jaketnya berkali-kali sampai dirasa baunya sudah menyengat. Lalu ia memakai sebuah masker untuk menutupi hidung dan mulutnya.
"Kamu nunggu lama ya? Apa kita cari makan dulu? Kamu mau makan apa?"
Bian menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, Rai. Kan kita mau belajar bukan mau makan. Apa kamu yang laper?"
"Nggak kok, aku juga nggak laper," Balas Raina disertai senyuman lebar, tapi ekspresinya berubah masam saat melihat Bian. "Kamu kenapa pake masker sih?"
"Ah, ini aku lagi flu. Aku gak mau kamu tertular, makanya aku pake masker." Jawab Bian yang dibuktikan dengan laki-laki itu bersin beberapa kali.
"Makanya kamu tuh jangan sering bawa motor malem-malem, kan jadi sakit gitu. Udah minum obat belum?" Raina mendekat, punggung tangannya menempel pada dahi Bian untuk mengecek suhu badannya.
"Udah kok, bentar lagi juga sembuh."
"Yah, ketua geng kok gampang kena penyakit sih." Ledek Raina disertai dengan gelak tawa.
Bian tertawa masam, dengan cepat ia mengalihkan topik pembicaraan. "Udah yuk kita belajar aja, nanti waktunya terbuang sia-sia kalo cuma main-main."
Raina mengernyit tak percaya. "Kamu beneran percaya kalo aku bilang mau belajar?"
Raina menaruh buku-buku yang sedari tadi ia pegang dengan tangan kirinya ke atas meja. "Aku bilang kayak gitu cuma demi bisa bareng kamu."
Bian memukul pahanya pelan, harusnya ia sadar begitu Raina bilang ingin belajar. Bian yang tahu tentang rahasia Raina yang bisa memalsukan dan merekayasa nilai seharusnya bisa mengartikan jika Raina memang sama sekali tidak mengandalkan otaknya untuk mengerjakan soal Ulangan, melainkan mengandalkan rekayasa nilai itu.
"Terus, kita mau ngapain disini?" Bian bertanya.
"Ya main aja? Apalagi? Aku kesepian di rumah sendirian." Raina mencomot sebuah remote yang berada di atas meja.
Televisi menyala ketika Raina memencet salah satu tombol di remote tersebut. Raina memilih-milih acara yang akan ia tonton dan gerakan tangannya berhenti ketika melihat sebuah film.
"Nah, nonton ini aja." Katanya.
Raina sepertinya menyukai film-film dengan genre romantis seperti yang sedang ia tonton sekarang. Berbeda dengan Bian yang ingin muntah ketika melihatnya, Bian hanya menyukai film aksi yang berisi tembak menembak.
"Eh, kamu pake parfum banyak ya? Baunya wangi sih, tapi kayak menyengat banget." Ujar Raina tiba-tiba, ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Bian. "Pake parfum apa sih?"
Bian berlagak mencium jaket yang dikenakannya. "Emang bau banget ya? Nggak kok."
"Kamu kan pake masker, mana bisa cium baunya." Gerutu Raina lelah.
"Haha, iya juga ya. Ya maaf, aku nggak bisa cium bau apapun pas flu, jadi aku kira segini nggak menyengat."
"Hoam, gak apa-apa." Raina membalas, tapi gadis itu tiba-tiba saja menguap.
"Apa aku kelelahan di sekolah ya? Kok jadi ngantuk gini sih." Lanjutnya, masih berusaha membuat matanya tetap terjaga.
"Mungkin kamu kelelahan, mending kamu tidur aja, aku pulang kalo gitu." Tutur Bian, ia melepas jaketnya untuk menyelimuti tubuh Raina.
"Hoam, iya deh. Kamu hati-hati di jalan."
Raina menutup kedua matanya, matanya terasa sangat berat tanpa sebab, membuatnya tertidur dengan lelap secara tiba-tiba.
Bian menggerakan tangannya di depan wajah Raina, kalau Raina masih bangun pasti ia akan merespon tindakan Bian. Namun berkali-kali Bian melakukannya, Raina tetap menutup matanya dan mendengkur dengan pelan.
"Oke, aman." Ucap Bian pada dirinya sendiri.
Bian mengendap-endap sambil sesekali melihat ke sekitarnya untuk memastikan kehadiran orang lain di dalam rumah itu.
Bian menuju ke arah kamar Gerald, Bian bisa tahu letak kamar laki-laki itu karena saat mereka melakukan video call, Raina sempat merekam perjalanannya dari ruang keluarga menuju kamar Gerald untuk menyuruh laki-laki itu turun.
Bian membuka pintu kamar yang kebetulan tidak dikunci, ia buru-buru menutup pintu itu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara apapun.
Nuansa kamar itu sangat gelap, dindingnya di cat dengan warna hitam, terdapat sebuah bendera dengan logo Black Stars disana, ada juga gitar listrik, bola basket dan beberapa puntung rokok yang bertebaran di lantai kamar.
Bian tidak mempedulikannya, satu-satunya barang yang ia cari adalah sebuah flashdisk yang tergeletak di atas meja.
Gerald ceroboh, ia menaruhnya begitu saja tanpa ditutupi apapun, Bian jadi cepat untuk menemukannya tanpa perlu berlama-lama.
Sekarang, Bian tinggal keluar dari kamar Gerald untuk pulang dan menyerahkan flashdisk itu pada Andra. Saat tangannya meraih knop pintu, ada sebuah teriakan yang berhasil menghentikan aksinya.
"BIAN, KAMU TERTANGKAP."
Sial, apakah Raina tahu tentang aksinya barusan?
—Minggu, 16 Juni 2024. 15.09
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi
Ficção Adolescente"Namaku tak seindah takdirku." -Pelangi Nabastala Althea ©meyytiara, 24 Feb 2023 Credit cover: Pinterest
