Air yang tenang itu selalu mengingatkan Lala pada sosok Zean. Dimana Zean tenggelam di danau dan meninggal karenanya. Tepatnya saat 3 tahun yang lalu, ketika nilai ulangan Lala hancur dan membuatnya diusir oleh sang Ayah dari rumah.
Plak
Sebuah tamparan keras terdengar, tamparan itu dilayangkan oleh sang Ayah pada seorang gadis berumur 14 tahun. Rambutnya basah karena disiram menggunakan gayung, wajahnya memerah karena menahan rasa kesal, dan setitik air mata seolah akan jatuh dari matanya.
"KAMU ITU BODOH! BISA-BISANYA DAPAT RANKING 5! PERGI SANA KAMU DARI RUMAH ATAU PERGI SELAMA-LAMANYA!!" Bentak Arsha di depan wajah Lala yang mulai meneteskan air mata.
"PERGI!!" Usir pria itu lagi.
Tubuh Lala bergetar mendengar bentakan pria paruh baya itu. Lala menunduk dalam-dalam, dirinya benar-benar menuruti perkataan Ayahnya untuk keluar dari rumah.
Tanpa sepatah kata apa pun, Lala berbalik dan berlari meninggalkan pekarangan rumah. Ibunya tidak melakukan apapun, hanya terdiam dan memalingkan wajah saat Lala lewat di hadapannya, diam-diam wanita itu menangis, namun tak bisa ia membela anaknya di depan suaminya, pasti akan memperparah emosi pria itu dan bisa saja ia bermain tangan pada anak sulungnya.
"La."
Lala sempat berpapasan dengan Zean saat laki-laki itu baru saja pulang dari tempat les, Zean mencegatnya dan memanggil-manggil namanya. Akan tetapi Lala hanya berjalan lurus dan menepis tangan Zean, tak mempedulikan kekhawatiran laki-laki itu.
"Ayah, Ayah kenapa lagi sih?" Tanya Zean.
"KAMU MASIH NANYA AYAH KENAPA? LIHAT ITU SI ANAK SETAN, MALU-MALUIN AYAH DENGAN JADI ANAK BODOH. KAMU PIKIR AYAH BAKAL DIEM AJA?" Jawab Arsha masih dengan amarah yang meletup-letup.
"Tapi Ayah nggak perlu segitunya sama Lala. Ayah bisa marahin Zean sepuas Ayah, Ayah bisa nuntut Zean supaya mengikuti kemauan Ayah, tapi biarkan Lala bahagia sama jalannya sendiri! Ranking 5 itu bukan aib, Yah." Ucap Zean dengan berani.
Ayahnya menatap Zean dengan tatapan tajam seolah siap menghabisi laki-laki itu kapan saja. Berani-beraninya Zean menantang dirinya tanpa rasa takut? Sepertinya Zean tidak tahu sopan santun sama sekali.
Plak
Sudut bibir Zean mengeluarkan sedikit darah, Zean tidak sekuat Lala dan tubuhnya sangat lemah dibandingkan dengan Lala, terkena tamparan seperti itu saja kepala Zean rasanya pusing.
"Ayah bakal menyesal berperilaku seperti ini sama anak-anak Ayah. Zean pergi, semoga kedepannya Ayah sama Ibu memperlakukan Lala seperti manusia." Zean berujar seperti itu sambil melempar tas miliknya dan berlari mengejar adiknya yang sudah keluar rumah.
Langit abu-abu di atas sana mulai meneteskan air mata, membasahi kaos hitam yang Zean kenakan saat ini. Pandangannya mulai terganggu karena hujan turun semakin lebat, sedangkan ia tidak tahu dimana posisi Lala sekarang.
"LALA." Berkali-kali Zean meneriakkan nama Lala, berharap akan ada sahutan dari sang adik.
Zean mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga adiknya hingga Lala harus merasakan rasa sakit seperti ini. Seharusnya, orang tuanya berekspetasi tinggi pada dirinya saja, tidak harus membebankan tuntutan nilai pada Lala.
Zean rela dirinya harus babak belur karena dihajar oleh sang Ayah, atau Zean rela dikurung semalaman tanpa penerangan dan makanan di dalam gudang. Zean rela dirinya harus menahan rasa sakit untuk Lala bisa hidup dengan tenang dan seperti kebanyakan remaja lain yang menikmati hidupnya. Kalau saja, Lala tidak berada di posisi tertekan seperti Zean.
"LALA." Panggil Zean sekali lagi.
Tapi percuma, suara Zean terkalahkan oleh derasnya air hujan. Sekeras apa pun Zean berteriak, Lala tidak akan mendengarnya, Lala tidak akan mengetahui keberadaannya.
"Kak Zean nggak perlu cari aku."
Rupanya, teriakan terakhir Zean membuahkan hasil, Lala berada di depannya sekarang. Akan tetapi, ada yang salah dengan kedua mata Lala, Zean bisa melihat di sana tak ada lagi sinar kehidupan. Lebih tepatnya, Lala seolah-olah tidak ada harapan hidup, seperti raga tanpa jiwa di dalamnya.
"Kamu ngomong apa sih? Jangan kayak gitu, ayo kita pulang ke rumah." Ajak Zean hati-hati.
Lala menggeleng kuat-kuat, air matanya yang jatuh menjadi samar karena air hujan. Tapi Zean masih bisa melihatnya, Zean masih bisa melihat Lala menangis di tengah hujan deras. Bahunya bergetar, sosok yang selama ini Zean anggap kuat rupanya akan rapuh juga.
"Kak Zean jalani hidup Kak Zean dengan baik. Jangan terlalu berlarut sama kesedihan yang datang. Jaga kesehatan Kak Zean, tetap senyum dan selalu kuat menjalani hari esok. Aku sayang sama Kak Zean." Pesan Lala dengan begitu tulus.
Zean menarik tubuh Lala dan memeluknya erat-erat, Zean tidak akan membiarkan adiknya itu pergi meninggalkannya seorang diri. Zean tidak akan mungkin menjalani kehidupan yang baik kalau tidak ada Lala.
"Nggak, Lala nggak boleh ngomong kayak gitu. Ayo kita jalani hidup kita dengan baik, bersama-sama." Zean menampik keras apa yang Lala sampaikan. Lala ini sedang bicara apa? Zean berusaha untuk tak mendengar ucapan Lala barusan.
"Kak, aku capek kayak gini. Apa Ayah nggak lihat aku selalu berusaha keras buat dapet nilai yang bagus? Aku ranking 5 itu karena nggak masuk 3 hari pas sakit karena dipukul Ayah." Ujar Lala, mengungkapkan rasa sakit yang selama ini ia pendam sendirian. Zean lah yang menjadi tempat berlindung satu-satunya, dengan Zean ia tidak bisa berpura-pura.
Zean menggigit bibir bawahnya, emosi sudah menyelimuti dirinya. Zean paham Lala sakit 3 hari, sudah pasti ia merasa terpukul dan stres akibat terlalu memikirkan kesalahannya. Padahal, alasannya hanyalah karena Lala tidak berangkat les sekali.
Ayahnya memang terlalu kejam, bahkan Zean sendiri tidak sanggup menghadapi hukuman yang diberikan oleh pria itu.
"Nilai aku sama kayak yang ranking 4, tapi karena nilai dia lebih tinggi di pelajaran Matematika, aku jadi ranking 5."
Kalau saja Zean dan Lala terlahir kembali sebagai saudara di kehidupan berikutnya, Zean mau mereka diberikan takdir yang lebih baik. Tanpa rasa sakit, tanpa hukuman, tanpa harus menanggung beban harapan orang tua mereka yang terlalu tinggi.
"Gak apa-apa, Kak Zean paham apa yang Lala rasakan. Jadi jika suatu hari nanti kita terlahir kembali, janji ya kita sama-sama bahagia?"
Zean melepaskan pelukan, memberikan senyuman supaya Lala juga tersenyum. Yang tanpa Lala sadari, itu adalah terakhir kalinya Lala melihat senyum Zean, begitu pun sebaliknya.
Senyum keduanya pudar saat sebuah truk menabrak tubuh laki-laki yang lebih tinggi dari Lala itu. Lala terdiam sejenak, tubuhnya membeku dan waktu seperti terhenti saat itu juga. Posisi mereka yang berada di dekat danau menjadikan Zean terjatuh dan tenggelam ke dasar danau.
Truk yang menabraknya langsung pergi, meninggalkan Lala dan Zean di tengah-tengah langit yang ikut serta menangis.
"KAK ZEAN!!!"
Lala berteriak sampai-sampai pita suaranya seperti akan putus. Baru menyadari bahwa Kakaknya telah tenggelam dan tak terlihat tanda-tanda kehidupan dari dalam sana.
Lala mengerang dan menangis keras-keras, berharap semesta mendengar tangisnya yang terus meneriakkan nama Zean. Rupanya, hari itu hari terakhir Lala bisa melihat sosok Zean, Kakaknya itu meninggal di tempat karena kehabisan oksigen dan tak bisa berenang. Lala bahkan menyalahkan dirinya sendiri sampai saat ini, andai saja ia menyelamatkan Zean kala itu. Andai saja ia bisa menukar nyawanya dengan nyawa Zean agar laki-laki itu selamat.
Andai, Lala tidak bodoh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi
Ficção Adolescente"Namaku tak seindah takdirku." -Pelangi Nabastala Althea ©meyytiara, 24 Feb 2023 Credit cover: Pinterest
