David immanuel's POV
Aku ingin sekali merasakan pulang lebih awal seperti yang lain. Selain itu, keinginan untuk pulang bersama ketiga kawanku sangatlah kuat. Hanya saja, kini aku terjebak dengan tugas-tugas OSIS yang harus dikerjakan. Padahal ini awal bulan, tapi tak semanis yang kukira.
Awal bulan November bagiku hanya awal dari padatnya tugas sekolah. Entah itu dari guru atau sebagai anggota OSIS. Hal ini mendukung alasan jarangnya pulang bersama Reindra dan kawan-kawan. Meskipun begitu, aku tak merasa terbebani dengan itu. Hanya saja, aku harap mereka memaklumi banyaknya kesibukan yang kualami saat ini.
Padahal baru saja jadian dengan Diana, bisa dikatakan dua hari yang lalu. Namun, beginilah Kenyataannya. Interaksiku dengan dia yang seharusnya bagaikan sepasang kekasih tak sesuai ekspetasi. Contoh saja kemarin, dia memang tak menyapaku. Aku paham ini awal mula hubungan, kurasa dia masih malu-malu. Hanya saja, kenapa ekspresinya bisa malu-malu begitu?
Aku sudah sering ketemuan sama dia, entah itu, di kelas, kantin, ruang guru, tempat parkir, dan dimana pun selalu saja tercipta suasana canggung. Aku mulai takut kalau hubungan ini tak akan bertahan lama.
Bulan ini memang dipenuhi kesibukkan. Di awal Bulan ini, aku ada banyak tugas OSIS yang mengharuskan dispensasi di beberapa hari. Selain itu, pada akhir bulan akan ada UAS yang membuatku sibuk belajar.
Sampai sekarang, aku hanya terdiam memandangi langit melalui jendela. Jujur, aku tak fokus mengerjakan tugas ini, karena masih ada hal lain yang kupikirkan.
Perkataan Reindra di kala itu.
"Bukan masalah kecemburuan hati, melainkan masa lalu yang pernah membunuh perasaan ini."
Masa lalu Reindra mengenai hal asmara memanglah tidak baik dan berakhir pahit. Namun, kejadian mana yang membuatnya mati rasa? Maaf, maksudku bukan kebas.
~***~
Aku dan Reindra memanglah teman dekat sedari SMP, mungkin bisa dikatakan sahabat.
Saat SMP, kami masih akrab dengan hal asmara. Contoh saja, duduk bersama di pinggir kelas sambil membicarakan seorang gadis maupun menyusun rencana untuk menaklukan perasaan seorang gadis. Meskipun begitu, kami berdua tak agresif dalam hal itu.
Pasalnya di antara kami berdua sama-sama tak mempunyai kepercayaan diri yang cukup ketika berbicara dengan lawan jenis. Perbedaan di antara kami adalah diriku lebih ganteng dibandingkan dia. Bukan bermaksud sombong, kenyataannya banyak yang bilang begitu. Namun, Reindra adalah sosok yang pintar dalam merangkai kata-kata. Aku tau dan ingat akan hal itu, mungkin saja ada sangkut paut penyebab mati rasanya dia.
Pada waktu itu tepatnya kelas dua SMP semester awal. Dia sangat bersemangat membicarakan sesosok gadis yang baru saja dia kenal. Tak biasanya dia membicarakan hal itu secara terang-terangan kepadaku, apa karena waktu itu aku sudah punya pacar? Mungkin saja, karena dia itu takut ditikung.
Ditikung yaa ....
Nah, aku mulai ingat ....Dia memang tak berani mengungkapkan langsung perasaannya. Akan tetapi, waktu itu dia menulis surat untuk seseorang. Pinternya tuh anak, dia menitipkan surat itu kepada teman Si Doi. Surat tersebut berisikan pernyataan sekaligus undangan untuk menemuinya selepas sekolah.
Aku memang tak diundang Reindra untuk melihat. Hanya saja, diriku sebagai teman dekatnya tak bisa melewatkan hal ini. Pada saat momen itu, aku sengaja bersembunyi di sekitar tempat pertemuan mereka dan mengintip serta menguping apa saja yang terjadi.
Sang Gadis datang dengan ekspresi malu. Reindra dengan senang langsung menanyainya, "Setelah kamu membaca surat itu, kamu mau menerima pernyataanku?"
Hanya saja ... gadis itu terdiam dan memalingkan pandangan. Terlihat jelas kini ia nampak bimbang, sedangkan Reindra masih menunggu dengan ekspresi wajah penuh harap.

KAMU SEDANG MEMBACA
Reshuffle
RomanceReshuffle | Be Fake Seorang siswa SMA sekaligus penulis cerita meskipun masih amatiran dengan paras pas-pas'an. Itulah Reindra, lelaki dengan masa lalunya yang kerap gagal serta memiliki pengalaman buruk akan hubungan asmara dan memilih untuk menutu...