30. Meramu Momentum

25 1 0
                                    

Masih berada dalam kuda besi. Waktu tak bergulir jauh, masih dalam suasana pagi hari. Menikmati perjalanan sembari sesekali mencuri pandangan. Terkadang niat ingin memperkukuh prinsip dan rasa. Raga ini berusaha untuk tetap menikmati berbagai macam pertokoan di pinggir jalan. Sembari berpikir, apakah tujuan kami sudah dekat atau masih jauh?

"Reindra, kamu sudah sarapan?" tanya Alisa membuatku menoleh kepadanya.

"Sudah, aku setiap bangun pasti auto lapar," ucapku sembari menyesal menoleh karena dia pun tetap melihat keluar melalui kaca.

"Wah, nampaknya nanti aku harus bisa masak lebih pagi," gumamnya samar sama sekali tak melihatku.

"Hah apa? Gak denger?" ucapku ingin memperjelas ungkapannya.

Dia tak bergeming, aku sama sekali tak dapat menilai ekspresinya. Diriku lagi-lagi dilempari ungkapan yang terkesan serius untuk hubungan palsu. Mungkin dia hanya bercanda akan hal tersebut. Aku tak mengungkit hal itu, kembali terdiam dan melihat pada rentetan pertokoan yang terlewat begitu saja.

"Pak Made," panggil Alisa.

"Iya Dek?" jawab Sang Sopir.

"Berhenti di Indomaret bentar yaa," pinta Alisa.

"Siap Dek," jawab Sang Sopir.

Tak perlu menunggu lama, ternyata di kiri jalan sana ada Indomaret. Padahal Alisa baru saja memintai hal tersebut. Mungkin, dia memang hafal dengan tempat ini. Biasanya gadis kerap kali buta arah. Namun, tidak dengan dirinya.

Sang Sopir menurunkan kecepatan, memutarkan roda kemudi, lalu memarkirkan mobil. Aku jadi penasaran, apa yang dicari oleh Alisa? Kukira Tuan Puteri sepertinya tak akan mau berbelanja di Indomaret. Nampak Alisa membuka pintu mobil, lalu turun, sedikit berbalik badan serta sedikit menengok ke dalam.

"Reindra, kamu di sini aja ya, aku bentar aja kok," jelas Alisa.

Aku hanya mengangguk, setelah itu ia menegakkan badan dan menutup pintu mobil. Berjalan menuju pintu mini market tersebut, masuk ke dalam guna membeli sesuatu. Kini pengganti peran dalam suasana canggung ini justru Sang Sopir yang kerap kali dipanggil Pak Made.

Sesekali aku menyalakan HP hanya untuk menggulir layar maupun membuka dan menutup aplikasi pesan. Tentu saja membakar waktu ini yang dipenuhi oleh rasa canggung. Setelah beberapa menit diri ini melakukan hal tidak jelas pada layar HP. Terdengar pintu mobil telah dibuka dari luar.

"Maaf lama ya," ucap Alisa sembari masuk ke dalam serta menutup pintu.

"Gapapa," jawabku.

Nampak ia membeli sebuah roti dan sebotol air mineral. Menaruh botol air pada saku pintu mobil, lalu membuka bungkus roti.

"Ayo Pak Made, lanjut," pinta Alisa.

"Nanti mau turun di depan atau di parkiran?" tanya Pak Made.

"Di depan aja," jawab Alisa lalu melanjutkan santap rotinya.

Aku cukup paham, dia berniat mengajakku sarapan. Itu didasari oleh pertanyaannya. Kini pandanganku teralihkan pada Sang Sopir. Pak Made langsung menggerakkan persneling, mengatur posisi gas dan kopling, memutarkan roda kemudi, mengendalikan posisi, hingga akhirnya dapat menuju ke destinasi.

~***~

Tujuan kini sudah di depan mata. Mobil ini mulai menurunkan kecepatan. Aku sama sekali tak ada bayangan. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Kini mobil berhenti di kanan jalan. Baik Alisa maupun Sang Sopir hanya terdiam. Padahal kendaraan kami telah menepi dan berhenti. Aku mengambil inisiatif untuk membuka pintu mobil dan segera keluar.

ReshuffleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang