33. Jejak & Rahasia

10 1 1
                                    

Alisa Camellia Sasanqua's POV

Pagi cerah menjelang siang. Otak mengebul terobati dengan jam istirahat. Aku, Lin, dan teman-teman kini berada di kantin sekolah. Tentunya untuk mengistirahatkan pikiran selepas ulangan. Namun, di sisi lain ada satu hal yang terpikirkan. Tak kusangka semenjak diriku sudah memiliki status berpacaran, kini beberapa teman gadis tak lagi menjauhiku.

 Tak kusangka semenjak diriku sudah memiliki status berpacaran, kini beberapa teman gadis tak lagi menjauhiku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~***~

Kami semua telah menghabiskan jajanan maupun makanan yang dipesan. Posisiku duduk tepat sekali berada di tengah kawan-kawan. Lin di sebelah kiri yang tengah asik menggulir layar gawai. Lalu, di sebelah kananku juga ada seorang gadis yang tengah mengobrol dengan gadis lainnya. Kini aku hanya sibuk sendiri menggulir layar HP. Terkadang untuk membuka sosial media maupun membalas chat dari Reindra. Bukan membalas, lebih tepatnya aku yang berkali-kali mengajak dia bicara. Bukan berarti juga aku mengeluhkan hal tersebut. Justru aku senang dapat berbicara dengannya meskipun hanya sebatas pesan.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang sudah kulakukan dari kemarin malam, bangun pagi, sampai saat sudah berada di sekolah. Aku sedikit tersenyum memikirkan hal itu. Mulai menyentuh ikon galeri pada menu HP. Lalu memilih pada foto yang ingin dilihat. Benar-benar momen kebersamaan yang sangat ingin aku ulang.

"Eh eh Alisa! Itu pacarmu yaa???" tanya perempuan di sebelahku.

"Oh iyaaa, aku sama dia kemarin habis ngedate di-"

"Itu yang kamu post di Line kan yaaa," potong perempuan lainnya yang berada di depanku.

Cukup senang rasanya mereka antusias terhadap apa yang telah kulakukan. Jujur, terkadang aku orangnya narsistik. Namun, setidaknya aku tak merugikan orang lain.

"Ooo ... Alisa, kamu ga diapa-apain kan ...." Terdengar nada mencekam yang langsung masuk menusuk ke dalam telinga kiriku.

Datang dari sahabat yang selalu khawatir dan overprotective. Kini aku mulai melihat ke arahnya dengan sedikit ketakutan. Bibirnya sedikit mengerucut, Alis bertaut rapat, mata menyipit dengan sorotan tajam. Terkadang aku terbiasa dengan ekspresinya, namun di beberapa kesempatan aku ketakutan dengan dia.

"Ah aku ga diapa-apain kok Lin, santai ajaaa hehe," jawabku khawatir.

"Emang kalian ngedatenya berapa lama tuh?" tanya gadis di sebelah kananku.

"Oh bentar ko, cuma dari pagi sampe siang," jelasku halus.

"Ooo ... bentar banget yaa, tapi kok mau sih diajak ngedate pagi-pagi gitu apalagi sampe siang, apa ga panes yaa," ujar gadis yang sama.

Aku sedikit menganga dan baru sadar. Seharusnya ini kesalahanku. Sekilas aku bertanya pada diri sendiri, mengapa aku harus berkencan di jam seperti itu? Tapi, kurasa tidak apa-apa untuk pengalaman pertama.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ReshuffleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang