21. Kawan & Rencana

33 3 0
                                    

Reindra Hendrawan's POV

Kurasa waktu berjalan sedemikian rupa, hingga tak kusangka diri ini tenggelam dalam hal asmara.

Di kala waktu istirahat, diriku duduk dan termenung dalam kelas yang hanya diisi oleh kami bereempat. Pemikiran itu kerap terbayang-bayang. Sudah sebulan aku menjalin kepalsuan hubungan. Selama itu, serasa hanyut tanpa sadar. Bagaimana tidak? Aku yakin dengan pendirian bahwa hubungan kami ini hanya untuk menjaga reputasi belaka. Namun, Alisa sendiri berkali-kali menelpon dan membicarakan banyak hal.

Rasanya bagaikan benar-benar berpacaran. Aku hanya dapat percaya jika dirinya cuma mendalami peran saja. Kurasa history call itu dia butuhkan untuk pembuktian.

Kuharap dia juga tak terlalu terbawa saat melakukan hubungan ini. Jika iya, bisa menjadi tugas lama sekaligus tambahan bagiku untuk kembali memecahkan kode-kode perempuan.

Selain itu, secara logika ... cewek secantik dirinya tak mungkin jatuh hati terhadap cowok dengan tampang pas-pas'an sepertiku. Serasa sudah tidak ada lelaki tampan di sekolahnya. Maka daripada itu, aku bisa saja terlalu percaya diri bahwa dia ini menyukaiku. Hanya saja, kelakuannya sebulan ini terkadang membuatku risih. Ingin sekali menyadarkan maupun mengingatkannya tentang hubungan kami. Namun, kurasa hal tersebut dapat membuat suasana jadi runyam.

"Woe Rei ...."

"Bah, daritadi nih anak bongol sama bengong."

Perubahan suasana gadis itu dapat aku perkirakan dari gaya bicaranya. Mungkin saja, Alisa ini gadis yang moody. Aku sendiri terkadang berhati-hati ketika berbicara lewat telepon.

"Woi Rei, denger ga?"

Karena merusak suasana adalah sesuatu yang tak kuinginkan. Ketika hal itu berhasil diperkeruh. Aku memiliki sedikit bayangan jika gadis secantik Alisa akan murung maupun cemberut.

"Eh budek!"

Ah, aku masih tak percaya mampu menciptakan relasi dengan gadis secantik dirinya. Serasa ini adalah mimpi tak berujung.

"Wah gimana vid, temen kita kerasukan kayaknya."

Aku seumur hidup tak pernah punya ekspetasi tinggi terhadap target gadis yang akan kudekati. Apalagi kriteria penampilan seperti Alisa.

"Pasti Rei lagi bengongin pacarnya tuh."

Namun, sekarang memang sangat di luar prediksi karena bisa memiliki suatu hubungan dengan gadis secantik dirinya. Yaa, meskipun itu hanya hubungan palsu.

"Bentar, gulung buku dulu."

Ayolah sadar Rei! Pokoknya aku ini jangan sampai terbawa suasana bahkan sampai menganggap hubungan ini-

Geplak!!!

"Udah selesai ngehalunya Rei?" tanya Bagas sembari membawa sebuah gulungan buku.

"Woe sakit njir!" kesalku menatap garang Bagas.

"Ya habisnya kau budek sih," sahut David.

"Iyaa deh aku yang salah," ucapku malas memperpanjang topik.

"Nah gitu dong Rei, biar cepet. Iya'in aja hahahaha," celetuk Dika.

Diriku lupa menjelaskan bahwa sedari tadi mereka sedang memperdebatkan lokasi refreshing.

Padahal sekarang sudah tiga per empat bulan November lebih tepatnya hari rabu tanggal dua puluh dua dan bulan depan sudah mulai UAS. Lalu, kenapa keempat kawanku ini malah merumitkan masalah jalan-jalan?

"Woi Rei!" bentak Dika.

"Hmm ... kenapa?" tanyaku tak bertenaga masih mengelus-elus kepala.

"Semangat dikit lah, kita kan mau jalan-jalan ini," sahut Bagas.

ReshuffleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang