31. Bersama Dirimu

19 1 0
                                    

Momentum sudah terjalin, kesepakatan telah diungkap. Perjalanan akan momen asmara di tengah keramaian. Pertanda kencan keberlanjutan. Tak kusangka tindakanku barusan serasa telah menjinakkannya. Tak jauh dari waktu dimana aku dengannya bersama pada suatu gang. Kini kami telah berjalan bersama sembari melihat kiri dan kanan.

 Kini kami telah berjalan bersama sembari melihat kiri dan kanan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~***~

Kini aku sedikit merasa bersalah. Aku telah melakukan sesuatu yang kurasa tak pantas kepadanya. Alisa hanya berjalan dan terdiam. Terlihat dengan jelas ia sangat tak ingin melihatku. Mungkin aku harus mencairkan suasana.

"Alisa," panggilku.

"Ehm," sahutnya pelan.

"Ke situ yuk," ucaku menunjuk toko yang seharusnya dengan mudah ia lihat.

Dia terdiam dan menggeleng-gelengkan kepala. Posisi menunduk ditambah ketidakmampuannya melihatku. Membuatku sama sekali tak dapat menganalisa perasaannya. Padahal tadi, ia sempat dan mampu menunjukkan wajah serta mendekatkan jari telunjuknya. Meskipun nampak jelas ia masih menahan perasaan malu.

Dia mulai perlahan mengangkat tangannya. Hal pertama yang ia gerakkan adalah jari telunjuknya. Entah mengapa, dia berubah. Citra lumrah sebagai Tuan Puteri, kini berubah menjadi gadis pemalu nan kikuk.

"Ke-kesana yuk Reindra," ucapnya menunjuk jenis toko yang sama.

Aku hanya terheran saja, mengapa harus ke toko dengan penjualan barang yang sama? Kurasa dia memang menyukai benda tersebut. Namun, aku sama sekali belum tau nama dari benda itu.

"Oh boleh," jawabku bersama-sama melangkah menuju toko tersebut, "Emang itu apa namanya ya?" sambungku menanyakan benda tersebut.

"Eh serius kamu ga tau namanya!!!" kejut Alisa kini mulai berani menampakkan wajahnya.

"Serius, orang nolep kayak aku mana ta-"

"Halooo ... ada yang bisa saya bantu???" potong Pemilik Toko.

Sontak hal tersebut membuatku dan Alisa terkejut. Bahkan gadis ini selain menoleh pun sedikit mundur sampai mendekatkan badannya denganku. Jujur saja, aku terkadang merinding secara tak sadar ketika ia mendekatkan diri. Lain cerita jikalau aku mengambil inisiatif.

"Oh ini dia, ah maksud saya, ini pacar saya mau beli yang itu," ujarku menunjuk secara acak benda yang dimaksud Alisa.

"Oh ini? Dreamcatcher," jelas Pemilik Toko.

"Drim, hah?" tanyaku atas kurang jelasnya pendengaran.

"Dreamcatcher ayy, penangkap mimpi," tekan Alisa.

Mendengar nama tersebut, aku sama sekali tak paham. Alasan apa yang menyebabkan benda tersebut dinamai seperti itu. Namun, aku tidak begitu peduli. Mempelajari hal yang telah dijelaskan Alisa tadi, diriku langsung memutuskan.

ReshuffleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang