28. Mawar Cantik namun Berduri

23 1 0
                                    

Beberapa menit sebelumnya ....

Theresia Angelina's POV

Ungkap kata saling berdampingan. Respon antar manusia silih berganti terdengar berkesan. Suasana di dalam yang nampak cerah berkontradiksi dengan situasi di luar. Cuaca tanpa diperkirakan telah berubah. Alam berkehendak sewenang-wenang. Tak pernah diharapkan dan diinginkan.

Kini aku bersama rekan gadis, teman satu ekskul, sekaligus seseorang yang membuat senang dan benci di waktu bersamaan. Diriku di sini nampak mencolok meskipun aku tak menginginkannya. Benar sekali, aku sedang berada di kelas lain. Seharusnya keberadaanku di sini tidak etis. Akan tetapi, mengetahui ia tak ada di sini. Aku rasa tak akan ada masalah yang menghampiri.

~***~

"Theresia, Theresia," panggil Diana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Theresia, Theresia," panggil Diana.

"Iyaaa?" tanyaku lembut.

"Menurutmu tempat nih bagus gak?" Nampak Diana menanyaiaku sesuatu pada layar HP'nya.

Sejujurnya aku ke kelas ini hanya untuk melihat sesuatu. Tak sepenuhnya juga untuk mengakrabkan diri dengan Diana. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku tak boleh menyuarakan niat hati ini.

"Ah itu kafe ya? Maaf Diana, aku kurang tau tempat itu," jawabku merendahkan nada.

"Yaahh masa ga tau sih, banyak yang bilang tempat ini bagus tau, enak gitu pake nongkrong apalagi ngedate," ujar Diana kembali menggulir-gulir layar HPnya.

"Maaf yaa Diana, aku orangnya jarang keluar rumah soal-"

"Ah, kamu introvert yaa???" tanya penasaran Diana.

"Ssshhh ...," desisku menenangkannya, "Ga semua orang yang jarang keluar rumah itu Introvert tau," sambungku sembari memegang pundaknya.

"Ah hehe maaf yaa," ucapnya tertawa kecewa lalu kembali fokus pada layar gawai.

Kurasa keterikatan gadis ini dengan hubungan asmara justru membuatnya semakin gembira. Hanya saja, jujur aku risih melihat sikap yang berlebihan itu.

Sesekali pandangan ini mencuri kesempatan untuk melirik pada lelaki di belakang sana. Dia adalah pacar dari gadis ini. Tak kusangka kesempatan itu didahului oleh temanku ini. Tidak heran sebenarnya, mereka ini satu kelas. Lebih mudah menggapai kesempatan tersebut jikalau memang dalam satu ruangan.

Kini dia hanya mengetik sesuatu pada HPnya setelah itu menyentuh-nyentuh lalu menggulir begitu saja. Mungkin dia sedang sibuk dalam diam. Itu logis, karena dia seorang anggota OSIS. Dia melirikku, tersenyum sembari sedikit mengangguk. Sontak ini membuat pandanganku melirik ke kiri, kanan, dan tentu pada Diana. Syukur saja, perempuan ini masih sibuk melihat sosial media.

ReshuffleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang