Reshuffle | Be Fake
Seorang siswa SMA sekaligus penulis cerita meskipun masih amatiran dengan paras pas-pas'an. Itulah Reindra, lelaki dengan masa lalunya yang kerap gagal serta memiliki pengalaman buruk akan hubungan asmara dan memilih untuk menutu...
Hari mulai menuju senja. Meskipun sesegera kumpulan awan kelabu menghiasi jagat raya. Sedari pagi hingga siang tergambarkan cerah nan panas. Sekarang, nampak langit ingin kembali menangis.
Kini aku tengah sendirian mengendarai kendaraan. Kawanku David telah kuantar sampai rumah. Meskipun rumah kami dekat, tak sampai tiga puluh menit perjalanan. Aku putuskan mengendarai Byson ini melalui jalan memutar. Diriku berniat mencari ide daripada sebuah cerita.
Jalanan lenggang, terhimpit oleh sawah di kiri dan kanan. Tergambar zona hijau yang mengitari nuansa. Udara segar berkali-kali menabrak indra penciuman. Tak luput pemandangan memanjakan mata.
Terkadang, sudut pandang ini teralihkan oleh langit nan kelabu. Memancing akan beberapa kejadian di masa lalu. Segala hal yang telah terjadi padaku. Kurasa, kali ini aku tak akan benar-benar mendapatkan ide baru.
Namun, kurasa terpaku pada pandangan kosong ketika berkendara adalah tindakan yang celaka. Terpintas di benak sembari menapak, bahwa di depan sana ada sebuah tempat layak singgah. Aku melihat sebuah Indomaret di kanan jalan. Menyebrangi tunggangan dan berhenti pada tempat yang menjadi tujuan.
~***~
Keluar dari pintu Indomaret, kini aku sudah membeli sebotol kopi instant. Kulihat sebuah kursi besi di pojokan. Melangkah demi mengistirahatkan badan. Selepas duduk, kuputar tutup botol dan membukanya. Meneguk lalu menarik dan menghela nafas. Mengeluarkan sebuah buku catatan dari dalam tas dan membuka lembaran. Ternyata catatan tempo lalu mengenai hubungan tetap tersimpan. Sedikit tersenyum sebuah bentuk penghargaan.
Sekilas kubaca selembar catatan tersebut. Selepas itu, membalikkan halaman kosong di sebelahnya agar tertutup dan tak jatuh keluar daripada buku. Kembali tangan ini memasuki tas, dan mengambil sebuah pena. Intuisi ini mendorong guna tertulisnya suatu perasaan.
"Oke ... huuumm haahh," Kembali memijat dahi, "Aku masih ga percaya bisa punya hubungan sama cewek kayak dia."
Awalnya, aku merasa bahwa skenario asmara ini terlambat dan hasilnya serasa hanya menguntungkan Alisa. Namun, lambat laun aku pun merasakan gejolak di dada. Serasa anomali perasaan dimana aku sendiri belum pernah merasakan.
"Jadi gini yaa rasanya pacaran," ucapku sembari menulis keluh kesah.
Aku merasakan sebuah status yang nampaknya tak ringan untuk diemban. Meskipun merasakan manfaat, berkali-kali aku mengeluhkan suatu hal. Jujur, aku cukup terganggu mengenai dirinya yang menaruh perhatian. Terdistraksi akan apa? Cara ia menjalin komunikasi. Sampai titik dimana aku sendiri terkadang tak sempat menulis cerita. Hanya saja, hal itu sedikit tergantikan oleh sosok kehadirannya.
Aku pribadi, serasa perlahan sembuh daripada sebuah mati rasa. Akan tetapi, tetap dibatasi oleh sebuah realita. Bahwa hubunganku dengannya hanya kebohongan belaka. Mungkin terdengar keras kepala, hanya saja ini masalah ego semata. Bagai pedang bermata dua. Jikalau raga ini jujur, kemungkinan dia akan perlahan menjaga jarak. Namun, bagaimana jika tetap pada kebohongan? Hal ini bagaikan judi semata.
Kesan-kesan asmara yang ia berikan. Memang selayaknya seorang kekasih. Hal ini dapat dilihat dari berbagai mata. Sahabat maupun kawanku, dapat menyadari hal itu. Aku rasa, hal ini juga sama pada lingkungannya di sekitar sana. Setidaknya sampai detik ini rahasia kami tetaplah aman.
Aku juga turut bangga kepada teman lama. David kini berpacaran dengan Diana. Ini bagus, karena aku tak perlu menjaga jarak dari gadis tersebut. Dia juga nampak kembali normal seperti sedia kala. Yaa ... aku harap mereka langgeng sampai maut memisahkan.
"Nampaknya itu saja," ucapku memandangi buku catatan ini.
Menutup buku lalu menyeruput kopi. Aku menulis ini serasa seperti sedang bercurhat pada diri sendiri. Meskipun hari ini dilalui bersama para sahabat, aku tetaplah memiliki rasa manusiawi. Kapan lagi bisa menikmati liburan ke pantai bersama kawan sejawat. Meskipun, ada beberapa kejadian yang cukup memberatkan hari ini.
Aku kembali membuka buku catatan dengan tangan bersiap memegang pena guna menulis suatu hal.
Siang ini, aku menyadari suatu hal. Pemikiranku tadi, tidaklah salah. Mengenai hubungan yang kini kuemban. Sejatinya memang di luar dugaan kepala kecil ini. Terwujudnya hubungan kebohongan kami, dapat menciptakan dua pihak dari sekolah Alisa. Pertama mendukung kami, kedua menentang hubungan ini. Sekilas cerita dari Alisa, dia memanglah kerap menolak para lelaki. Hal ini menyulut kembali sebuah api emosi.
Namun, aku jadi tau siapa saja orang yang perlu kuwaspadai dari sekolahnya Alisa. Syukur saja, aku mendapatkan rekan baru dari tempat tersebut. Hal ini sekaligus menambah tekanan moral daripada hubungan yang kami emban. Pihak yang mendukung kami, sangat menganggap hubungan ini nyata. Serasa aku diberikan kepercayaan oleh mereka. Ini juga berkat sosok kenalan lama. Namun, aku sendiri ragu akan suatu hal.
"Ayumi ini masa iya cuma temen SMP?" tanyaku ragu sembari memandangi catatan ini.
Beberapa kali kuperhatikan raut wajahnya saat berinteraksi. Pada suatu momen pernyataan maupun pertanyaan tertentu. Dia nampak tak puas akan hal itu. Serasa apa yang aku ketahui justru tak sebanyak di dalam pikirannya. Aku juga masih bertanya-tanya, "Apakah aku sudah mengenalnya jauh sebelum menginjak bangku SMP?"
Ada suatu kaitan sekaligus petunjuk. Mengapa ia sampe harus membawa pita tersebut. Pita berwarna ungu, aku juga heran.
Apakah dia mengantongi hal tersebut kemana-mana?
Mengapa dia harus menunjukkan hal seperti itu kepadaku?
Dia bilang, benda itu sudah lama diberikan. Pertanyaanya.
Siapa yang memberikan benda tersebut?
Benda seperti itu, pastinya bermakna dan sebagai bentuk peninggalan dari orang yang menurutnya berharga.
Kembali lagi catatan keluh kesah ini menyisakan sebuah tanda tanya. Aku mulai menutup lembaran-lembaran ini. Tentunya menyisakan rasa penasaran sekaligus menarik kesimpulan. Ada bagian dimana aku harus mencari tau akan suatu hal di masa lalu. Bagian lainnya, menandakan bahwa aku telah menjadi alasan bagi beberapa orang untuk percaya bahwa, aku tak boleh mematahkan ekspektasi mereka.
~***~
[Act Three]
[Romantic Scent]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.