25. Tak Sepahit Realita

20 2 0
                                    

Sebentar lagi jam satu tepat. Terik matahari masih memanasi tubuh ini dikala perut masih merasa tersakiti. Namun, kurasa kali ini dapat menahannya untuk sementara meskipun sudah telat makan. Satu alasan, aku sedang bertanggung jawab kepada seseorang perempuan. Sesosok yang pernah satu tempat pendidikan di sekolah menengah pertama. Pernah berpisah, namun sementara. Karena waktu kembali mempertemukan diriku dengannya.

Posisiku dengan dia masih tak sejajar. Dia ada di depanku beberapa senti. Aku cukup tak berani berjalan bersampingan hanya karena takut akan rumor yang tersebar.

"Rumahmu masih jauh, kah?" tanyaku dengan tampang sedikit lemas.

"Bentar lagi nyampe kok," ucapnya menoleh ke arahku dengan senyum manis tanpa menghentikan langkah.

Dia kembali menghadap depan dan berjalan dengan senang. Apakah hanya bertemu kembali denganku dapat membuatnya begitu gembira? Selain itu, aku harap perkataan dia benar. Karena tempat ini sudah kulalui tadi bersama Bagas. Aku juga sedikit resah jika harus melalui Indomaret tersebut.

"Ah iya mumpung lagi di jalan gimana kalau kita tukeran sosmed?" tawar Ayumi

"Oh boleh, tapi aku ga bawa-"

"Nih." Ayumi berhenti berjalan lalu berbalik menyodorkan hapenya.

Aku spontan terhenti dan sedikit terkejut akan sikapnya. Raut wajah antusias itu cukup membuat dia bergerak begitu cepat. Aku langsung mengambil HP dari genggamannya lalu menghidupkan dan membuka salah satu aplikasi dalam layar tersebut.

"Aku kasih Line aja ya, aku jarang pake IG soalnya," ujarku masih fokus terhadap layar gawai itu.

"Oh gapapa, tapi ga masalah kan yaa kalau kapan-kapan aku kasih tau IGku pas kita chatting'an," usul Ayumi penuh harap.

"Boleh aja, tapi jangan terlalu berharap fast respon. Aku sibuk orangnya," balasku datar lalu mengembalikan hape tersebut.

"Aahh nice, terima kasih yaa," ucapnya tersenyum setelah itu berbalik dan kembali melangkah.

Aku sedikit tersenyum melihat tingkah lakunya yang bak anak kecil, mungkin karena dia terlihat pendek bagiku. Namun, dia tetaplah seorang gadis SMA.

~***~

Ternyata, aku kembali ke tempat yang sama. Toko kelontong dengan sebuah rumah putih nan megah. Aku sedikit melirik ke Ayumi dan berniat mengucapkan sesuatu, "Biar kutebak."

"Benar sekali Rei! Pinter deh kamu," ucapnya tersenyum lebar.

Belum juga ngomong apapun. Ah sudahlah, lagipula di sana terlihat jelas ada Bagas yang sedang bersenda gurau dengan para lelaki dari sekolahannya Ayumi.

Di sisi lain, aku lagi-lagi terkejut pasal Ayumi memanggilku dengan panggilan tersebut. Bahkan Alisa sendiri yang sudah mengenaliku lebih dari sebulan masih menyebutku Reindra.

"Eh itu Ayumi!"

"Ayumiii!"

"Haaii, temen-temen," balas Ayumi langsung berlari kecil menuju kumpulan lelaki itu.

Aku gak menyangka jika gadis sepertinya akan berteman dengan para lelaki sangar seperti itu. Aku bergegas melangkah ke sebuah meja bundar tempat anak-anak SMA itu duduk dan berkumpul.

Setelah sampai di hadapan mereka. Tatapan yang paling tak kusenangi datang dari wajah temanku sendiri. Kenapa Bagas menatapku dengan curiga bercampur heran?

"Aku ga inget kalau kau punya adik perempuan dah Rei," ucap Bagas curiga.

"Dia bukan adikku meskipun dia pen-"

ReshuffleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang