Reshuffle | Be Fake
Seorang siswa SMA sekaligus penulis cerita meskipun masih amatiran dengan paras pas-pas'an. Itulah Reindra, lelaki dengan masa lalunya yang kerap gagal serta memiliki pengalaman buruk akan hubungan asmara dan memilih untuk menutu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sang Fajar tanpa lelah menyengat. Kami dibuat tak mampu menengadah kepala, hanya dapat menunduk pandangan. Bagas pun dibuat tunduk oleh khayangan.
"Gas," panggilku.
"Napa Rei? Laper?" tanya Bagas.
"Belum seberapa sih, aku cuma mau ngasih tau. Mending dompetnya David aku sendiri yang pegang," ujarku.
"Lah kenapa?" tanya Bagas bingung.
"Celanamu ga ada kantongnya, ngeri banget dah kemana-mana megang dompet gitu. Nanti kalau dicuri, siapa coba yang tanggung jawab?" tanyaku.
"Oh ez itu, kau yang nanggung, aku yang jawab," balas Bagas.
"Dahlah, sini dompetnya," ucapku merebut dompet itu, "Biar aku saja yang nyimpen di kantong celana," sambungku penuh percaya diri.
"Eh! Ah ya udah kau aja yang bawa."
Kiri kanan kulihat saja, banyak pertokoan, bar, dan restoran. Namun, aku dan Bagas berkali-kali kebingungan serta ragu untuk mengunjungi salah satu pertokoan. Bukan karena ketersediaan barang, melainkan perkiraan harga yang tertera.
"Coba kita ke sana gas," ucapku menunjuk sebuah toko.
"Hmm ... ga yakin aku," balas Bagas terlihat mencurigai tempat itu.
"Lah kenapa?" tanyaku heran.
"Kau liat aja sendiri, pengunjungnya bule semua, kutebak pasti harga di sana mahal-mahal," ujar Bagas.
"Ya, aku juga ragu sih," ucapku berpikiran sama.
"Hmmm, kalau begini terus bakal kelamaan, jadi enaknya dimana Rei?" keluh Bagas melihat ke arahku.
Aku mulai berpikir kembali toko mana yang harus kami hampiri. Namun, akhirnya sama sekali tak menemukan solusi. Hal itu terjadi karena aku sendiri sadar bahwa harga barang di toko-toko terdekat pasti lebih tinggi. Kalau pun ingin mendapatkan harga normal, itu artinya kami berdua harus menaiki motor dan keluar dari area ini.
"Gimana Rei? Kalau menurutku kita coba jalan jauhan dikit," tanya Bagas kembali.
"Oke deh, coba kita jalan terus ke depan, siapa tau dapat toko yang keliatannya lebih murah," jawabku.
~***~
Aku sendiri merasa heran sembari berjalan, kulirik dirinya sambil berpikir. Kenapa Bagas dengan mudah menyarankan hal begitu di saat kedua temannya yang lain sedang menunggu? Mungkinkah dia melupakan keadaan Bagas dan David. Mungkin saja, mengingat Bagas sendiri tidak begitu baik mengenai kepintarannya.
"Nah Rei, Coba kita ke sana!" seru Bagas menunjuk ke sebuah toko kecil.
Sekilas hanya sebuah toko kelontong yang sedang dijadikan tempat tongkrongan anak-anak SMA. Namun, ketika diriku coba untuk memperluas pandangan. Terlihat jelas rumah putih bertingkat mewah nan megah bak istana menyatu di belakangnya. Aku mulai merasa ragu untuk kesekian kalinya.