Kejadian kemarin tanpa sadar membuat Aisha kepikiran, dia menjadi bingung sendiri dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya, di sisi lain, Aisha tidak mau membuat Sisil kecewa, namun jika dia tidak memberi tahu hal yang sebenarnya, itu sama saja dengan membiarkan Sisil larut dalam harapan semu.
Membingungkan.
Ditambah lagi, di hari minggu cerah ini, Aisha akan bertemu dengan sahabatnya itu, kemarin malam di grup whatsapp mereka membuat janji untuk main dengan seluruh teman perempuan se SD nya, ralat: kecuali Nada yang sengaja tidak mereka ajak.
Mereka memang masih sekolah di tempat yang sama—SMP yang sekarang, namun dengan adanya teman baru masing-masing mereka jadi jarang berkumpul lengkap, jadilah sekarang mereka membuat rencana main di tempat Rena.
Di sana ada Aisha, Rena, Sisil, Yola, Salsa, Wida, Mara sudah berkumpul dan melingkar di kamar Rena yang luas. Sekitar pukul sepuluh mereka bersama-sama datang ke kediaman Rena.
"Hp nya kumpulin aja deh, biar enggak sibuk sendiri," ujar Salsa melihat ke sekeliling, beberapa sibuk berbalas chat, dan sebagian lagi mengambil poto selfie.
"Sini hp nyaa."
Saru persatu mengumpulkan ponselnya setelah mengunci layar, ponsel itu lalu disimpan di tengah-tengah, menjadi center dari perkumpulan kali ini.
"Tod dong, tod. Biar seruu."
"Alah maless."
"Enggak!"
"Kenapa pada takut amat sih? kayak punya rahasia negara aja," celetuk Salsa melihat satu persatu temannya yang menolak keras ide Yola tadi.
"Males aja, paling pertanyaannya enggak jauh dari siapa gebetan lo, terus kalo dare pasti telepon dong gebetan, mantan, nyenye, udah kebacaa."
"Ya kalo udah kebaca berati gampang dong, udah pada ngerti, mulai aja ya mulaii."
"Gue enggak ikutan, jadi juri aja," ujar Aisha segera memisahkan diri, namun Salsa kembali menariknya dan mendorongnya supaya tetap duduk di lingkaram seperti tadi.
"Enggak ada juri ih, semua harus ikutan."
"Ih kok maksa banget sih."
"Iyalah harus."
Aisha duduk dengan harap-harap cemas, dia terlalu malas mejawab pertanyaan klasik ataupun dare tak masuk akal yang akan segera dilayangkan, kapan pun dimanapun, truth or dare selalu berakhir merugikan menurutnya.
Botol pun diputar, dengan cepat melewati satu per satu orang yang kini berharap tidak menjadi korban, semua wajah mulai terlihat cemas brgitu botol yang awalnya bergerak laju kini melambat, melambat, dan berhenti! tepat di hadapan Yola.
"Ah curang, ini tadi lo kurang kenceng tau mutetnya, ulang-ulang." Kan, game ini selalu menjadi awal per cekcokan. Padahal Yola sendiri yang tadi sok ngide mau bermain truth or dare, namun dia sendiri juga yang kini merengek tidak terima begitu botol berhenti saat dihadapannya.
"Enggak bisa gitu dong, udah cepet, jujur tantangan?"
"Ah, males guee."
"Makanya Yol, jangan sok ngide main giniann, mampus kan lo," komentar Aisha dengan puas melihat Yola yang nampak berpikir.
"Tantangan."
"Gue tantang lo, emm .... post foto mantan di sw tanpa ada satu orang pun di hide," ujar Salsa yang tadi memutar botol.
KAMU SEDANG MEMBACA
Timeline
Fiksyen Remaja[𝐞𝐧𝐝] Tentang Aisha Pricilla dan sesuatu di masa lalu yang belum usai. Aisha merasakan perasaan yang tidak dia harapkan, bagaimana bisa dia secara tiba-tiba menyukai orang yang berada di masa lalunya. Mereka sudah lama tidak bertemu, namun deta...
