24. penampilan dan kegagalan

49 8 0
                                        

Aisha akan membuka mulutnya, hendak bercerita kepada Kira, namun tiba-tiba saja beberapa ucapan Kira akhir-akhir ininterbayang kembali di pikirannya hingga dia kembali menutup mulutnya dan berbalik.

Aisha masih ingat bagaimana Kira mengumpati circle Kansa lalu tiba-tiba besoknya gadis itu akan sangat menempel dengan mereka, atau bagaimana cara Kira meluapkan kekesalannya tentang Raya kepada Aisha lalu Aisha ternyata mendengar jika Kira juga mengucapkan hal yang sama tentang Aisha kepada Raya.

Yang Aisha sadari jika dalam ruangan ini memang tidak ada yang beres.

Oh bahkan Aisha pernah mendengar nasihat dari guru seni yang mengatakan jika munafik itu perlu dalam bersosialisasi. Katanya, kita tidak harus memunjukan jika kita tidak menyukai orang lain, karena itu hanya akan memicu petengkaran.

Tapi apa benar? karena selama ini, Aisha sendiri akan menunjukannya secara terang-terangan jika dia memang tidak suka kepada seseorang.

Entah baik atau buruk tapi Aisha mulai mencoba menerapkan ucapan guru itu karena dia juga merasa jika dia tidak mungkin terus sendiri di sekolah ini, dia tidak mau jika semua orang menjauhinga hanya karena tatapan Aisha yang memang terkadang sinis.

Sejauh apapun dan selama apapun Aisha terpisah dengan teman SMP nya, dia sampai sekarang merasa jika mereka masih yang terbaik. Aisha lebih nyaman bersama mereka, semuanya. Kenangan SMP sekarang terasa begitu indah ternyata, orangnya masih asli dan setidaknya di sana Aisha bisa menjadi diri sendiri.

Aisha bahkan kadang masih tidak rela melihat mereka sudah mempunyai sahabat baru.

Namun mau bagaimana pun, dunia tetap berjalan kan? 

Sekarang Aisha menjadi lebih dekat bersama Kira, Mita dan Mona, mereka bersatu secara tiba-tiba hingga Kira membuat grup di whatsaap yang berisikan empat orang itu.

Aisha bahkan sampai sedikit menjaga jarak dengan Lana karena dia merasa Lana tidak cocok dengannya.

"Jadi, untuk ujian praktek seni budaya, Ibu tugaskan kalian untuk bernyanyi. Solo ya, dan nilainya nanti ibu ambil dari cara kalian bernyanyi dan bagaimana cara kalian interaksi sama penonton."

"Oh satu lagi, penghayatan. Untuk lagu, bebas tapi berbahasa Indonesia ya. Mohon dipersiapkan dari sekarang. Kalian mempunyai waktu dua minggu untuk bersiap ..."

Setelah guru seni budaya itu keluar, kelas menjadi riuh dengan protesan-protesan tidak terima karena sebagian banyak mereka mengaku tidak bisa bernyanyi dengan baik. 

Aisha sendiri, dia merasa jika suaranya tidak begitu bagus, namun melihat beberapa tahun ke belakang saat memenangkan lomba menyanyi dengan Raffa dan berhasil mendapatkan peringkat membuat dia merasa lebih tenang, meski tahu hasilnya tidak akan sebaik dulu, karena sekarang tidak ada satupun yang membuatnya tenang seperti saat itu.

Mengingatnya membuat Aisha memutuskan dengan cepat jika dia akan menyanyikan lagu yang sama seperti tahun itu, lagu yang mungkin sekarang akan sangat relate dengan apa yang dirasakannya.

...

Seolah kembali merasakan hal yang sudah dialami, Aisha duduk dengan tidak nyaman di hadapan mikropon yang masih berada di penyangganya, menatap teman sekelas yang juga melihat ke arahnya, di sisi kiri, Kira, Mona dan Mita menyemangatinya dengan heboh dan merekam menggunakan ponsel Aisha yang sengaja disimpan di meja.

Aisha menghela napas, begitu suara instrumen dari laptop yang sudah di sambungkan ke speaker mulai terdengar mengalun lembut.

Matanya memejam, tangannya dengan ragu membawa mikropon itu mendekat begitu dia akan segera mengeluarkan suaranya. Pikirannya melayang, kembali memikirkan kejadian familiar yang masih begitu membekas di kepala.

TimelineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang