11

37.6K 3.2K 87
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.










“Begadang?” ulang Barra dengan geraman tertahannya. Tidak cukup kah dengan berita adiknya terluka, dan kini mendapati sifat nakal adiknya. Keberuntungan sedang tidak berpihak pada Ersya untuk saat ini.

Ersya dengan setia menundukkan kepalanya. Tangannya saling bertaut seakan-akan sibuk dengan dunianya sendiri. Rachel diam, tidak membela Ersya karena Ersya pun salah.

“Bukannya sudah daddy bilang untuk jangan pernah begadang, ingin homeschooling lagi? Biar bisa begadang sepuasmu hm?” tanya  Kendrik mengancam Ersya dengan homeschooling. Ersya dulu pernah homeschooling karena keluarganya memerintahkan Ersya untuk homeschooling saja. Saat kecil dulu Ersya nurut-nurut saja, semakin lama semakin tumbuh besar semakin besar lah keinginannya untuk sekolah umum.

Dan Ersya merengek meminta untuk sekolah umum seperti anak lain. Dan akhirnya kelas 7 atau lebih tepatnya 1 smp, Ersya pertama kali bersekolah umum. Sekarang Ersya sudah kelas 8, terhitung dua tahun ia sekolah umum. Yakali akan homeschooling lagi. Big no.

Ersya senantiasa mengumpati dirinya. Andai ia tidak memancing Nathan untuk mengangkat topik ini, pasti ia tidak dihakimi seperti ini. Sikap mereka saat ini mengingatkan Ersya tentang sifat mereka dulu yang berubah padanya. Sebelas dua belas, tidak ada bedanya sama sekali. Itu membuatnya sedih Kembali. Apa abang dan daddy nya masih tidak suka dengan dia ya? Apa sifat dulu kini Kembali lagi?

Itu sudut pandang dari Ersya yang isi pikirannya masih tersesat di kehidupan pertamanya. Sesenang apapun Ersya, seceria apapun Ersya untuk kehidupan keduanya ini. Jauh dalam lubuk hatinya ia masih merasa dilema dengan semua ini.  Rasa takut akan takdirnya dulu yang akan terulang Kembali di dunia ini kerap kali menghantui dirinya. Ersya bersikap seperti tidak ada beban selama ini hanya menutupi perasaannya saat ini.

Manusia memiliki seribu alasan untuk menutupi kesedihannya.

Ersya tidak tau harus mencurahkan isi pikirannya ini ke siapa. Secara ia saja yang mengalami kejadian aneh ini, terlahir Kembali. Bahkan sampai sekarang pun Ersya masih merasa aneh. Semakin hari, Ersya semakin takut dengan apa yang akan terjadi padanya.

Ia merubah sikapnya untuk mommynya dan juga adiknya agar takdir selanjutnya ikut berubah juga. Di kehidupan pertama, ia belum pernah bertemu dengan mommy kandungnya. Kata daddy nya, mommy nya pergi saat ia masih terlalu dini. Ini adalah salah satu alasan Ersya merubah sikapnya. Jika memang benar kehidupannya ini berbanding terbalik dengan kehidupan pertamanya, setidaknya Ersya berharap di kehidupan kedua ini ia bertemu dengan mommy kandungnya.

Percuma Ersya bertanya mengenai keberadaan mommy nya ke daddynya dan tiga abangnya, mereka pasti tidak akan menjawab. Entah sebenarnya apa yang terjadi, mereka seperti menutup-nutupi ini darinya. Berdalih jika ia masih kecil lah.

Jika memang seperti itu, tidak mengapa. Ersya hanya perlu menunggu keajaiban untuk bertemu dengan mommy kandungnya meskipun ia tidak tau rupa sang mommy.

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang