Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi hari di mansion yang megah nan mewah, suasana sangat tenang dan damai. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela besar, menerangi ruangan yang luas dan elegan.
Di ruang makan, keluarga telah berkumpul untuk melaksanakan sarapan bersama. Meja makan yang panjang dan makanan yang tersaji telah diatur rapi.
Kendrik sebagai kepala keluarga duduk paling ujung dan terlihat begitu berwibawa. Seperti biasa, Ersya duduk bersebelahan dengan Nathan. Sedangkan tiga abangnya duduk berhadapan dengan Ersya.
Mereka memakan sarapannya dengan khidmat. Sesekali Ersya berceletuk dengan suaranya yang khas.
“Anak-anak, jangan lupa untuk melaksanakan tugas kalian nanti,” ucap Kendrik terdengar tegas. Mereka telah menyelesaikan acara sarapan.
“Ya, Daddy,” balas Barra mewakili adik-adiknya. Sedangkan yang lain hanya menganggukkan kepala merespon perintah dari sang kepala keluarga.
Kecuali Ersya yang kini menoleh ke abang dan adiknya secara bergantian. Mereka semua menganggukkan kepala, kecuali ia yang masih bertanya-tanya tentang perintah dari daddynya.
Nathan melihat itu, bagaimana Ersya dengan pipi bulatnya yang menahan air minum tampak kebingungan saat ini. Lucu, memang sejak kapan Ersya tidak lucu.
Wajar Ersya tidak tahu, perintah sang daddy berkaitan dengan pembahasan tadi malam. Hari ini, gudang itu akan bersih dari semua barang. Barang bekas maupun hal yang terkait dengan Vira, semua dibersihkan. Rencananya gudang itu akan dikosongkan. Lebih baik seperti itu.
“Daddy? Tugas apa?” tanya Ersya setelah menelan air yang sempat ia tahan tadi.
“Bukan apa-apa, hanya masalah pekerjaan,” balas Kendrik dengan santai.
Ucapan Ersya itu semakin membuat yang lain penasaran.
“Katakan dengan cepat!” Di seberang sana, Devin ikut menyentak Ersya. Semua keluarga memandang Ersya dengan berbagai tatapan. Tatapan resah, datar, dan dingin. Semua itu Ersya dapatkan namun sang bocah tak merasa terintimidasi.
Barra melihat tingkah Ersya dengan raut muka datar. Pasti Ersya hanya main-main saja. Ia sudah terlampau hapal dengan tingkah Ersya. Memang sejak kapan Ersya menjadi orang serius? Dalam otaknya, hanya hal-hal yang membuatnya senang saja.