Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terkadang manusia menyesali perbuatannya setelah beranggapan jika sikapnya itu yang paling benar. Melakukan apapun semaunya hingga tak mempedulikan orang sekitarnya. Dan setelah mendapatkan resiko atas perbuatannya, rasa penyesalan dan ingin memperbaiki kesalahannya hinggap dalam dirinya.
Tak jauh berbeda dengan nasib Ersya. Dan saat ia hidup kembali di kehidupan keduanya ini, Ersya bingung ingin merespon apa. Antara bingung dan merasa aneh. Tapi ketika mendapati dirinya hidup saat ia belum berbuat masalah, ada setitik rasa senang di dalam dirinya. Bukan kah ini kesempatannya untuk memperbaiki hidupnya? Ersya hanya tidak ingin nasib di kehidupan pertamanya akan terulang kembali.
Malam ini mansion Leonard tampak sepi. Dari arah balkon, berdiri seseorang dengan melamun menatap ke langit yang dihiasi bintang-bintang. Terlihat menenangkan. Tapi dalam isi kepalanya sedang beradu dengan banyak pikiran.
Dia adalah Ersya. Masih merasa terkejut dengan apa yang ia alami. Tiba-tiba terbangun di atas kasurnya, seingatnya sebelum ia tertidur, ia sedang berada di pojok kamar sembari meratapi nasibnya. Nasib buruk karena perbuatannya sendiri. Kini ia terbangun di atas kasurnya. Awalnya tak merasa aneh. Tapi ketika sekilas ia melihat kalender, kalender itu ternyata dua tahun yang lalu. Tahun tepat dimana sang daddy menikah lagi dengan istri barunya.
Dua tahun yang lalu? Saat ini Ersya masih merasa jika ia berumur 16 tahun, jika sekarang dua tahun yang lalu, bearti sekarang ia berumur 14 tahun?
Sepertinya benar, sepertinya tidak. Entah. Untuk membuktikan kebenaran ini, ia pergi ke luar kamar. Tetapi ia tak melihat mommy barunya. Adiknya barunya pun tak terlihat. Sang daddy pun juga tak terlihat. Tak melihat keberadaan mereka, Ersya memilih menemui abang sulungnya. Tapi ia ragu, masih terbayang sikap abangnya yang berubah padanya. Dan itu membuatnya merasa sedih. Sedih karena Ersya kehilangan sosok abang seperti mereka. Dan itu semua karena sikapnya yang buruk. Ersya pun malu jika melihat apa yang ia lakukan dulu.
Mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Barra. Pada akhirnya Ersya memilih bertanya pada maid yang melintas di depannya, dan jawaban maid membuat Ersya percaya dengan apa yang ia pikirkan.
"Bi, Ersya umur berapa?" tanya Ersya pada maid.
Dapat Ersya lihat ekspresi kebingungan tercetak jelas di raut muka maid itu. Mencoba tak peduli dengan kebingungannya, maid itu segera menjawab, "Umur tuan muda saat ini 14 tahun,"
Mata Ersya seketika membulat. Benar apa yang ia kira. Bolehkan Ersya merasa senang? Ia kembali hidup di dua tahun yang lalu. Masa dimana daddy belum membawa istri barunya itu pindah ke sini. Dan sebelum ia menjadi biang onar dalam keluarganya.
Maid tersebut heran melihat Ersya yang senyum-senyum sendiri. "Tuan muda, ada apa?" tanya maid heran.
Ersya yang ditanyai oleh maid karena ketahuan senyum-senyum sendiri merasa malu. Segera ia kembali ke kamar dan berjalan menuju ke arah balkon untuk menenangkan pikirannya.