Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kini Ersya dan Nathan sudah berada di dalam mobil. Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Sang sopir baru datang setelah beberapa menit Nathan membawa Ersya menjauh dari pria paruh baya itu.
Tampangnya seperti orang yang sedang menjalankan rencana akal busuknya. Nathan yang tak ingin mendapat risiko sekecil apapun itu segera menarik Ersya untuk pergi.
Mengingat itu, Nathan menggeram kesal. Ia lengah sedikit saja, bocah polos yang berada di sebelahnya ini pasti akan ikut kemauan sosok itu. Ersya bukannya takut, malah menatap sosok itu dengan binar mata yang polos. Mungkin jika pria itu memberikan Ersya ice cream, Ersya tanpa berpikir panjang akan menerimanya. Semua itu tak luput dari sorot tajamnya.
"Ersya," panggil Nathan sembari melirik Ersya dengan ekor matanya.
"Apa?" tanya Ersya menoleh ke arah Nathan dengan raut muka bosan. Secepat itu hari berlalu, tak terasa ia sekarang dalam perjalanan pulang. Jujur ia malas berada di mansion. Ia merasa dikurung di sana, tak boleh keluar ke mana-mana. Mungkin jika tidak ada Nathan, ia pasti tidak boleh keluar ke mana-mana.
"Nathan..." panggil Ersya sebelum Nathan membalas perkataannya tadi. Tiba-tiba terbesit di pikirannya untuk berkeliling kota sebelum pulang ke mansion. Setidaknya, biarkan Ersya menghirup udara bebas.
"Hm?" Nathan menanggapi panggilan itu dengan deheman pelan serta sebelah alisnya yang terangkat.
"Bagaimana jika kita berkelili—"
"Tidak," sela Nathan cepat. Ia tahu ke mana arah pembicaraan Ersya.
"Ta-tapi..."
"Yang lain sudah menunggu kita untuk pulang, jangan membuat mereka marah karena kita tak kunjung pulang," ujar Nathan mengingatkan Ersya jika keluarga Leonard tak sebaik itu.
Alih-alih menjawab, Ersya dengan raut muka kesalnya memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Pemandangan di luar lebih damai daripada raut muka Nathan yang sok tegas itu.
Cih, ia juga bisa memasang muka seperti itu. Tetapi sekarang belum saatnya. Dalam hati Ersya menyumpah serapahi perlakuan Nathan padanya.
"Ersya," panggil Nathan karena ia belum melontarkan perkataannya, karena tadi Ersya menyelanya.
"Apa sih?" balas Ersya ketus.
"Jangan sesekali menanggapi orang yang tidak kau kenal," peringat Nathan mengungkit kejadian barusan.
"Om tadi?" tanya Ersya kembali memusatkan fokusnya ke Nathan.
"Ya," balas Nathan.
"Kenapa? om itu baik kok," ucap Ersya tak mengerti.
Nathan menggeram pelan. "Dari mana kau tahu dia baik? apa kau mengenalnya?"
Ersya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi lugu. "Tidak sih, tapi kan, Nat. Om itu sepertinya baik, menurut pandangan Ersya sih," balas Ersya sembari menyipitkan matanya dengan kepala yang mengangguk pelan.