Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam hari telah tiba. Mansion yang tadinya sepi, kini ramai dengan anggota keluarga Leonard. Ah, kecuali Barra. Ia masih belum pulang karena masih ada urusan. Mungkin sebentar lagi akan pulang.
Kini di ruang keluarga sudah ada Rachel dan Kendrik. Juga, Ersya yang sedang bergelayut manja di lengan Kendrik.
"Daddy, terima kasih sudah izinin Ersya main. Besok besok izinin lagi, ya," ucap Ersya merayu sang daddy dengan memanfaatkan tampang imutnya.
"Tidak! hanya kali ini saja," balas Kendrik tak menatap ke arah anaknya, melainkan lurus menatap ke layar televisi.
"Daddy, ayolah. Pasti teman-teman akan mengajak Ersya lagi." Tak putus asa, Ersya bersikeras membuat daddynya luluh.
"Nanti ajak ajak Nathan lagi deh, janji. Nggak main sendiri," ucap Ersya mengusap-usap pipinya ke lengan sang daddy. Berbagai upaya telah ia lakukan, memang Kendrik berhati dingin. Sama seperti tiga abangnya. Jangan sampai adiknya juga ikut-ikutan.
"Nathan belum tentu setuju," balas Kendrik sembari melirik ke arah Ersya dengan ekor matanya.
"Mau, Nathan pasti mau," balas Ersya kini mengguncang-guncang lengan Kendrik. Tidak apa-apa jika ia mengajak Nathan saat ia pergi bermain bersama teman-temannya. Lagi pula temannya juga termasuk temannya Nathan.
"Kenapa kamu begitu yakin? Nathan susah dibujuk lho," timpal Rachel menaik turunkan alisnya.
"Emang iya? nanti Ersya coba," balas Ersya dengan raut muka polos. Padahal Rachel berniat menakut-nakuti Ersya supaya tak meneruskan keinginannya itu, tetapi bocahnya malah menantang.
"Jika pun Nathan setuju, daddy tetap akan melarangmu," tukas Kendrik.
"Tidak. Jika daddymu setuju, kamu akan main terus. Lalu mommy di rumah sendirian?" ucap Rachel menampilkan raut muka pura-pura sedihnya.
Tetapi, jujur ia juga tak ingin Ersya diizinkan main. Ia sendirian nanti, dan ia tidak mau! Ia tak suka berjauhan dengan Ersya.
"Mommy jangan sedih, Ersya mainnya nggak sering kok." Sekarang pekerjaan Ersya nambah. Selain ia membujuk daddynya, ia juga membujuk mommynya. Ish ish ish.
"Aduh, bingung," ucap Ersya pada dirinya sendiri sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Daddy..." Ersya merengek menatap penuh harap pada daddynya.
"Segera tidur, akan daddy pikirkan lagi," ucap Kendrik terdengar abu-abu. Antara boleh atau tidak boleh, namun Ersya tak mengapa. Setidaknya ia memiliki harapan.
"Baik, Ersya sayang daddy dan mommy. Ersya ke kamar dulu, ya." Ersya pamit pada Kendrik dan Rachel. Berjalan riang menuju ke arah tangga yang akan membawanya ke lantai dua, tepat di mana kamar Ersya berada.