34

13.4K 1K 41
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.








“Nathan, ikut yuk,” pinta Ersya menarik-narik kecil seragam Nathan. Ersya sadar betul, semua pergerakannya akan diawasi oleh Nathan. Jika ia mengajak Nathan, ia pasti akan diperbolehkan.

Intinya Nathan harus ikut dengannya. Dikurung di mansion terus, jelas membuat Ersya jenuh.

“Kenapa harus ikut?” tanya Nathan menaikkan sebelah alisnya.

“Ikut, ya. Please, biar Ersya dibolehin main,” ucap Ersya sembari memohon-mohon.

“Ikut aja lah, Nat. Ini jadi pertama kalinya lo pergi main sama kita.” Rizar ikut membujuk Nathan agar ikut bermain dengan mereka. Rizar, Azka, dan Riko juga kasihan melihat Ersya. Jika diajak keluar, selalu tidak boleh oleh keluarganya.

Keluarganya Ersya itu posesif. Terlebih sekarang ditambah Nathan yang notabenenya adiknya Ersya, tetapi Nathan sama saja dengan abang-abangnya Ersya, posesif. Mungkin jika  Nathan ikut, Ersya akan diperbolehkan. Sudah lama mereka tidak pergi bersama.

Nathan tetap pada pendiriannya. Diam dengan tatapan datarnya.

“Ayo, Nat. Ikut ya. Jangan jahat-jahat sama Ersya. Ditinggal Ersya pergi, baru tahu rasa, huh.” Ersya berucap dengan asal karena saking kesalnya. Ayolah, hanya pergi sebentar saja. Keluarganya itu overprotective.

Namun, ucapan Ersya itu mengandung sebuah makna tertentu. Membuat Nathan langsung menatap tajam ke Ersya.

“Bicara apa tadi?” tanya Nathan dengan nada dingin yang menusuk. Ia tak suka mendengar ucapan itu terlontar dari Ersya. Meskipun hanya asal-asalan, tetap saja ia tak suka.

“Ayo ikut main,” balas Ersya malah menjawab yang lain.

Please,” ucap Ersya kini teramat memohon.

“Izin ke yang lain dulu,” ucap Nathan pada akhirnya menyetujui permintaan itu. Tidak apa-apa, selagi dirinya ikut. Maka semua aman. Lagi pula, sudah lama ia tidak keluar bermain bersama teman-temannya. Ersya dikurung di mansion, otomatis ia juga ikut terkurung. Tetapi ia tak mempermasalahkan itu.

“Oke siap. Teman-teman, Ersya ikut,” ucap Ersya tampak ceria. Rizar, Azka, dan Riko ikut senang mendengarnya. Akhirnya, temannya ini diperbolehkan ikut. Ada untungnya Ersya memiliki adik, jadi ke mana-mana diperbolehkan ikut asal Nathan juga ikut. Tidak masalah, yang penting mereka bisa pergi.

Tanpa sepengetahuan yang lain, Ersya diam-diam  menyusun rencana. Kebetulan ada yang ngajak main ke luar, ini bisa mempermudah rencananya. Mungkin jika takdir memihaknya, ia bisa bertemu dengan wanita yang pernah ia temui di mall saat itu. Yang ia kira adalah pacar bang Barra, tetapi nyatanya ia adalah mommy kandungnya?

Ersya tahu, ia sempat melihatnya di gudang kemarin. Ersya tak sepolos itu untuk bertanya langsung pada keluarganya. Jika keluarganya tidak memberitahunya, ia bisa mencarinya sendiri. Dengan berbekal keajaiban, hehe.

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang